kumparan
6 Jan 2019 8:47 WIB

Semua Hal yang Perlu Kamu Tahu soal Nurhadi 'Dildo' Si Capres Fiktif

Nurhadi Aldo. (Foto: Instagram/@nurhadi_aldo)
Nurhadi 'Dildo', pria asal Dukuh Jetis, Desa Golantepus, Mejobo, Kudus, Jawa Tengah ini mendadak viral di media sosial. Sosoknya viral lantaran parodi capres dan slogan nyentrik bertajuk 'SmackQueen YaQueen.'
ADVERTISEMENT
Nurhadi, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai ahli urut ini tentunya merupakan capres fiktif. Nurhadi berpasangan dengan Aldo, namun ia sama sekali tak mengenal sosok Aldo. Di sosial media, mereka menamakan diri Dildo yang didukung Koalisi Indonesia Tronjal-Tronjol Maha Asyik.
Kehadiran Nurhadi-Aldo bak oase di tengah kontestasi politik yang memanas jelang Pilpres 2019. "Terus terang saya itu saat ditanya Aldo siapa aja saya bingung jawabnya,” ujar Nur kepada kumparan, Jumat (4/1) siang.
Ia bercerita, munculnya pencapresan fiktif Nurhadi-Aldo (Dildo) bermula ketika ia didekati salah seorang pengagumnya bernama Edwin asal Sleman. Nurhadi menyebut bahwa Edwin tertarik menjadikan wajah dan nama Nurhadi menjadi viral.
“Ya memang tujuannya untuk lucu-lucuan saja,” jawab pria yang akrab disapa Nur itu. “Ya saat itu saya pikir oke saja, saya cuma pesan jangan sampai melanggar agama dan negara.”
ADVERTISEMENT
Video
Nurhadi punya profesi sebagai tukang urut, pekerjaan ini digelutinya sejak 15 tahun yang lalu. Pria berusia 50 tahun ini punya banyak pelanggan dari berbagai kalangan mulai dari pejabat hingga kiai.
Menurutnya, profesi tukang pijat sangat cocok baginya yang gemar bertemu dan menjalin pertemanan dengan orang baru. Untuk harga, Nurhadi tidak mematok tarif.
“Enggak pernah, seikhlasnya saja. Yang penting silaturahmi, nambah teman, nambah sedulur,” katanya.
Loading Instagram...
Setiap hari, paling tidak 3 pelanggan dilayaninya dengan senang hati. Wilayah kerjanya mulai dari Mejobo hingga Kaliwungu, Kudus, promosi jasa pijatnya dilakukan dengan menyebar pamflet. “Dipanggil oke, mau ke rumah saya juga oke, prinsipnya sama-sama nyaman saja,” kata Nur.
"Langganan dulu ketua DPRD Kudus, terus yang sampe sekarang Kiai juga. Mengalir ajalah, saya mijat tidak ngoyo, ada yang panggil ya saya berangkat," bebernya.
ADVERTISEMENT
Baru-baru ini Nurhadi kedatangan sekelompok pelajar dari kota Kudus. Mereka datang untuk memberi dukungan terhadap koalisi Nurhadi-Aldo (Dildo). Kedatangan mereka diterima langsung Nurhadi di kediamannya.
“Kami dari koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik, SmackQueen YaQueen (tagline kampanye Nurhadi: Semakin yakin),” kata enam pelajar yang diketahui berasal dari SMA Negeri 1 Kudus dalam sebuah video deklarasi dukungan di media sosial.
Para pelajar yang didalangi oleh seorang siswa kelas XI bernama Fahrel Gibran Al Ghany itu mengaku iseng saat pertama kali punya keinginan bertemu Nurhadi. Sebab, mereka penasaran ketika melihat meme Nurhadi bertebaran di media sosial.
Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia Ari Junaedi menyebut, viralnya paslon yang menamakan diri ‘Dildo’ ini merupakan bentuk kejenuhan masyarakat akan kondisi politik Indonesia yang saat ini diwarnai dengan berita bohong alias hoaks.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
“Ini sebetulnya hanya menggambarkan kejenuhan yang ada di masyarakat akan kondisi politik saat ini, semacam pelepasan oase di tengah panas politik,” kata Ari, Sabtu (5/1).
Ia menyebut banyolan politik Nurhadi-Aldo itu tak hanya ditujukan sebagai penyegaran untuk masyarakat. Lawakan tersebut juga merupakan bentuk kritik bahwa pemilu itu seharusnya jadi pesta demokrasi yang menyenangkan.
“Sebetulnya itu juga kritik, bahwa politik tidak perlu menunjukan ketegangan, tapi pilpres yang demokratis dan pilpres yang menyenangkan,” kata Ari.

Ini kritik yang berupaya disampaikan Nurhadi, bahwa politik itu tidak perlu saling serang-menyerang, harus menyenangkan dan penuh tawa, politik itu harus meninggalkan tawa bukan tangis

- Ari Junaedi

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan