News
·
24 September 2020 10:45

Sertifikasi Virtual, Cara Baru Kementan Layani Permintaan Benih Bersertifikat

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Sertifikasi Virtual, Cara Baru Kementan Layani Permintaan Benih Bersertifikat (111774)
Benih tanaman. Foto: Toshiko/kumparan
Pandemi COVID-19 tidak membuat kebutuhan benih perkebunan bersertifikat berkurang. Sebab, benih bersertifikat berperan penting untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman perkebunan.
ADVERTISEMENT
Tak sampai di situ, benih ini juga mendorong peningkatan ekspor komoditas dan kesejahteraan perkebunan dalam penyediaan benih unggul.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong penggunaan inovasi teknologi untuk mendukung ketersediaan perbenihan dalam negeri. Termasuk meningkatkan kualitas layanan dan produksi.
Sertifikasi Virtual, Cara Baru Kementan Layani Permintaan Benih Bersertifikat (111775)
com-Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Foto: Dok. Kementerian Pertanian
“Transformasi teknologi sudah seharusnya dilakukan ke petani. Pendampingan, bimbingan teknis tentang bagaimana cara budidaya harus menyesuaikan zaman. Apalagi di situasi seperti ini (terjadi) pembatasan tatap muka. Maka kita harus memperkuat sektor hulu dan mengembangkan sektor hilir sehingga ada nilai tambah,” kata Syahrul Yasin Limpo saat berkunjung ke kebun sumber benih di Maluku beberapa waktu lalu, dalam keterangan yang diterima kumparan, Kamis (24/9).
Sementara itu, Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan, Sigit Wahyudi, menegaskan kegiatan sertifikasi benih tetap dilaksanakan seperti biasa di masa pandemi corona. Proses sertifikasi ini tetap dilakukan dengan protokol kesehatan dan menggunakan metode kekinian.
ADVERTISEMENT
Kegiatan petani yang tetap bekerja di perkebunan selama pandemi ini menunjukkan tidak ada pengurangan permohonan sertifikasi tanaman perkebunan, khususnya benih kelapa sawit.
“Bahkan, permintaan benih kelapa sawit cenderung meningkat,” tutur dia.
Sertifikasi Virtual, Cara Baru Kementan Layani Permintaan Benih Bersertifikat (111776)
Petani menanam benih padi dengan mesin penanam di lahan persawahan. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Berdasarkan data BBPPTP Medan dari Maret hingga Juni 2020, sudah 2.310 Surat Keterangan Pemeriksaan Kecambah Kelapa Sawit (SKPKKS) dan 113 Sertifikat Mutu Benih (SMB) diterbitkan. Proses pengawasannya pun tetap dilakukan secara virtual.
"Selama pandemi COVID-19, pemeriksaan di lapangan dilakukan oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT) secara virtual melalui media elektronik atau video call menggunakan aplikasi WhatsApp, Zoom. dan Skype,” ungkap Sigit.
Lantas, bagaimana tahapan proses sertifikasi benih lewat aplikasi Pesona Seribu?
  1. Pemohon mengajukan surat permohonan yang ditujukan kepada Kepala Balai secara elektronik melalui aplikasi PESONA SERIBU. Melampirkan foto lokasi kebun berbasis geo-tagging, surat pernyataan dari produsen bahwa benih yang akan disertifikasi sudah seragam, izin usaha produksi benih, dokumen asal usul benih, SMB hasil pengujian laboratorium, dokumen keberadaan SDM, dokumen kegiatan pemeliharaan kebun, Surat Persetujuan Penerbitan Benih Kelapa Sawit (SP2BKS) dan dokumen lain yang dipersyaratkan.
ADVERTISEMENT
  1. Produsen membayar PNBP melaui e-billing.
  1. Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang ditugaskan Kepala Balai, melakukan pemeriksaan administrasi.
  1. PBT menyampaikan tata cara pemeriksaan di lapangan.
  1. PBT melaksanakan sertifikasi melalui video call/Zoom/Skype.
  1. PBT mendokumentasikan sertifikasi secara foto dan video dan membuat Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan dikirim ke Produsen untuk ditandatangani dan distempel dan dikirimkan kembali ke BBPPTP Medan.
  1. Setelah dokumen lengkap, SKPKKS/Sertifikat dapat diterbitkan.
=====
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona