Lipsus Sintong- Mayjen Sintong Panjaitan
8 Maret 2021 15:17

Sintong Panjaitan di antara Dua Presiden

Senyum dari wajah Soeharto lenyap hari itu. Ia benar-benar marah. Di Istana Tampaksiring, Bali, 23 Juli 1989, ia mengacung-acungkan telunjuknya ke arah Menhankam/Pangab Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani dan Pangdam Udayana Letnan Jenderal Sintong Panjaitan.
Kemarahan Soeharto muncul gara-gara usul Sintong soal Timor Timur—wilayah yang kala itu masuk dalam wewenang Kodam Udayana. Soeharto ingin gejolak di Timor Timur segera diredam. Aksi-aksi kelompok pro-kemerdekaan harus dihentikan.
“Pak, hari ini bisa saya selesaikan masalah di Timor Timur kalau Bapak berikan status daerah istimewa di sana,” ujar Sintong.
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Konten Premium kumparan+
Sintong Panjaitan, eks Pangdam Udayana dan eks Danjen Kopassus, mengajak kita kembali ke Orde Baru. Dari kacamata Sintong, sederet kisah Orba diungkap: pembebasan Woyla, Tragedi 98, Timor Timur, hingga cerita Habibie dan Prabowo di Istana.