kumparan
12 Juni 2019 12:02

Sosok Habil Marati di PPP: Bendum Era SDA dan Waketum Kubu Djan Faridz

Arsul Sani di Gedung DPR
Arsul Sani saat diwawancara di Gedung DPR. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Polda Metro Jaya telah mengungkap aktor rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei. Salah satu aktor diketahui merupakan politikus PPP bernama Habil Marati, yang bertugas sebagai donatur rencana pembunuhan ini.
ADVERTISEMENT
Nama Habil Marati memang tidak begitu dikenal luas. Sekjen PPP, Arsul Sani, mengungkapkan, Habil pernah menduduki beberapa jabatan penting di partai.
"Saya sampaikan beliau memang pernah jadi bendahara DPP PPP pada saat ketum dipegang oleh Pak SDA (Suryadharma Ali)," kata Arsul di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (12/6).
"Kemudian ketika PPP secara internal berselisih, itu ada kubu Pak Romy (Romahurmuziy) ada Pak Djan Faridz, Pak HM ini tercatat sebagai waketum di kubunya Djan Faridz," sambungnya.
Arsul juga membenarkan Habil maju sebagai caleg PPP untuk DPR RI dari dapil Sulawesi Tenggara.
"Karena semangat kita itu waktu itu menampung semua kader yang mau menjadi caleg, ya kita akomodasi. Kalau enggak salah Pak Habil menjadi caleg DPR RI dari dapil Sultra nomor urut 2," ungkapnya.
Identitas Tersangka, Habil Marati
Identitas Tersangka, Habil Marati. Foto: Lutfan Darmawan/kumparan
Bagi Arsul, terbongkarnya Habil sebagai donatur bukan hal yang luar biasa. Sebab masih ada beberapa kader PPP yang mendukung Prabowo. Apalagi PPP merupakan salah satu partai pengusung Prabowo-Hatta di Pilpres 2014.
ADVERTISEMENT
"Bukan hal yang luar biasa sebetulnya baru kemudian di 2019 ini kemudian kami mengusung Pak Jokowi. Kita juga sama-sama tahu bawa ada juga teman-teman di PPP yang masih tetep ingin mendukungnya Pak Prabowo," paparnya.
Sebagaimana diketahui, Habil Marati merupakan tersangka ke-8 yang ditangkap pada 29 Mei 2019. Habil disebut sebagai donatur pembelian senjata ilegal yang akan digunakan Kivlan Zen untuk membunuh Wiranto, Budi Gunawan, Luhut Panjaitan, Goris Mere dan Yunarto Wijaya.
"Dia adalah seorang laki-laki yang tinggal di Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Tersangka HM ditangkap di rumahnya Rabu 29 Mei 2019. Tersangka HM berperan memberikan uang, yang diterima dari KZ berasal dari HM maksud ya untuk beli senjata api," jelas Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Hary, saat konferensi pers di Kantor Kemenkopolhukam, Selasa (11/6).
ADVERTISEMENT
Habil diketahui memberikan uang sebesar Rp 150 juta kepada Kivlan Zen yang kemudian digunakan untuk membeli 4 pucuk senjata api. Dia juga memberikan uang sebesar Rp 60 juta yang diduga digunakan untuk biaya operasional dalam rencana eksekusi 4 pejabat negara dan pimpinan lembaga survei.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan