kumparan
13 Apr 2019 9:18 WIB

Strategi Iklan Politik 'Receh' hingga Elegan

Iklan Partai PDIP. Foto: Twitter @imanlagi
Sebelum berebut suara di TPS, para caleg terlebih dulu berlomba mendapatkan perhatian pemilih. Salah satunya, melalui iklan-iklan di media sosial. Beragam konten ditawarkan, agar suaranya didengar. Mulai dari meme hingga video. Dari yang elegan hingga receh.
ADVERTISEMENT
Sebut saja, capres 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, yang menyuguhkan iklan dengan nuansa Computer-Generated Imagery (CGI). Permasalahan bangsa disuguhkan dalam layar-layar dengan gaya high technology dan kekinian.
Melalui image seperti itu, paslon mencoba menyakinkan pemilih bahwa mereka bisa menjadi jawaban untuk permasalahan Indonesia yang kompleks.
Sementara itu, capres 01 Joko Widodo - Ma’ruf Amin memiliki gaya berbeda. Yakni, dengan menonjolkan potret kehidupan rumah tangga. Bukan melalui kesan high technology, tapi kesan yang lebih receh.
Dalam iklannya, gaya ringan dan lucu digali untuk menonjolkan program unggulan yang diusung. Di bagian awal, tidak langsung diperlihatkan kedua gambar paslon. Namun, call to action, baru dimunculkan pada bagian akhir.
ADVERTISEMENT
Kedua iklan itu kemudian menjadi perbincangan netizen. Viral jelas, tetapi bagaimana soal engagement? Ya, kedua iklan ini tetap mendapat sentimen, baik positif maupun negatif.
Misalnya, iklan 02 dinilai keren karena visualnya yang dinilai mirip dengan Iron Man. Meski begitu, gaya Sandi dinilai terlalu kaku.
Sementara itu, netizen menilai, iklan Jokowi-Ma’ruf kreatif dan tidak terduga. Akan tetapi, tetap ada komentar negatif karena iklan dinilai menyindir.
Iklan dengan konsep receh ini juga ditemukan pada beberapa partai peserta pemilu. Sebut saja, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mereka mencoba mencari perhatian dengan video-video ringan.
Video
Mengapa konten iklan parpol dengan nuansa receh ini menjadi populer? Lalu bagaimana proses kreatif dalam produksi iklan ini? kumparan mencoba mencari tahu melalui kacamata sutradara reKreasi Creative Playground, Dedy Vansophi.
ADVERTISEMENT
Dia dan timnya didapuk untuk menggarap iklan PDIP dengan mengubah lirik lagu Numpak RX King karya Sodiq Monata. Iklan tersebut sempat viral karena gaya kolosal berbalut lagu nyeleneh dengan nada yang unik.
Video
Lagu tersebut juga menyulut perdebatan netizen. Ada yang menilai garing. Tapi ada juga mempunyai inisiatif untuk mencari versi asli. Dedy menyebut, lagu milik Sodiq menjadi salah satu bagian kunci.
“Jadi bagaimana caranya supaya lagu itu bisa stand out dari kerumunan, akhirnya muncul lagu RX King. Lagunya sangat simple bunyinya, beda tapi kece dan memorable,” ucap Dedy.
Video
Dengan lagu yang sudah viral sebelumnya, timnya tinggal menambahkan visual yang sederhana. Seperti munculnya manusia banteng dari atas langit. Atau tiba-tiba adanya penyiar berita dan sosok mirip Rhoma Irama.
ADVERTISEMENT
“Ya intinya bagaimana bunyi itu menghasilkan visual ikonik dan tidak bisa terlihat di iklan parpol lain,” bebernya.
Menurut Dedy, konsep itu sesuai dengan permintaan klien. “Jadi briefnya hanya iklan call to action, ajakan untuk nyoblos,” ucap Dedy.
Dia menambahkan, tujuan dari iklan itu untuk brainwash audiens. Bukan lagi menjual program partai. Dari situlah timnya menawarkan iklan yang simple tapi memorable.
“Banteng kan satu-satunya partai tua selain PPP dan Golkar. Itu tidak boleh dilepas. Dari sekian logo dan nomor, inget banteng aja deh, nomor itu bisa berubah, tapi logo tidak,” tambah Dedy.
Iklan Partai PDIP. Foto: Twitter @imanlagi
Berbicara proses pengambilan gambar, Dedy dan timnya hanya mempunyai waktu satu hari. Lalu ditambah satu hari lagi untuk proses editing. Kemudian langsung dipublikasikan esok harinya
ADVERTISEMENT
“Tidak ada revisi karena memang waktunya tidak mungkin,” tambah Dedy. Kepercayaan kliennya itu berasal dari produksi iklan yang sudah dibuat oleh ReKreasi sebelumnya.
Dengan konsep yang berbeda, iklan ini memang perbincangan publik. Banyak komentar negatif yang menilai garing dan konsepnya membosankan.
Menanggapi komentar netizen, Dedy tidak ambil pusing. “Sebaiknya politik itu ringan dan menggembirakan.Bikin yang lucu itu tidak mudah. Pembuat iklan, yang goblok (sekalipun) harus ada ilmunya,” tegas Dedy.
Melihat pro dan kontra itu, Caleg PDIP untuk DPRD DKI Jakarta Agustina H atau yang akrab dipanggil Tina Toon menilai pengemasan konten yang receh ditujukan agar orang penasaran.
Salah satu artis sebagai bacaleg PDIP Tina Toon (tengah), mengikuti flash mob di Rakornas hari kedua, Jumat (11/1). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
“Zaman media sosial sekarang kayak gini yang jadi viral. Nah, kalau viral kan pesan positifnya jadi sampai, daripada visual bagus tapi jelek-jelekin orang atau jatuhkan pihak lain,” ucap Tina Toon, Jumat (12/4).
ADVERTISEMENT
Dia menambahkan, iklan di media sosial memang pengaruhnya kecil dibandingkan dengan kampanye langsung. “Makanya ibu Megawati selalu bilang salami banyak orang lagi, jadi kampanye nyata, biar kalau jadi kerja nyata enggak cuma di iklan dan media sosial,” beber Tina.
Sementara itu, melihat fenomena konten iklan parpol receh, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menyebut, ada perbedaan prioritas segmen. Yakni, menyasar generasi langgas baik secara kuantitaf maupun kualitas.
Pengamat politik Charta Politika Yunarto Wijaya saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan
“Pendekatan mereka tidak bisa menggunakan pendekatan lama seperti pidato, nilai kebanggan partai, itu agak sulit. Tidak hardselling,” tambah Yunarto.
Soal viral, ia menyebut, semakin diperbincangkan orang banyak, iklan tersebut semakin bagus. Karena memang tujuannya untuk menarik perhatian. Jika ada sentimen negatif, itu tetap bisa dikatakan bagus.
ADVERTISEMENT
“Kalau perdebatannya itu soal estetika, bukan substantif, itu tidak masalah,” ujarnya kepada kumparan, Kamis (11/4).
Yunarto menambahkan, iklan tidak bisa dikaitkan dengan elektabilitas. Hanya menambah awareness. Untuk itu, efek kejut penting dan viral menjadi penting.
“Persaingan sesungguhnya itu door to door campaign bukan above the line,” pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan