kumparan
search-gray
News16 April 2020 14:13

Supaya Tetap Waras di Masa Pandemi Corona

Konten Redaksi kumparan
Supaya Tetap Waras di Masa Pandemi Corona (1268039)
Stres di masa pandemi. Foto: Shutterstock
Pandemi virus corona ini memaksa kita untuk tetap berada di rumah, mengisolasi diri, mengurangi secara drastis interaksi langsung dengan orang lain.
Pekan pertama: wah, akhirnya bisa di rumah nggak ketemu orang kantor!
Pekan kedua: asik, bisa baca buku yang selama ini nggak kepegang!
Pekan ketiga: aduh, kangen makan berdua di luar! Bosen!
Masuk minggu keempat: apa itu dunia luar? Apa itu cahaya matahari? Apa itu staf khusus? We’re doomed and this is forever!
Kebosanan, kesepian, dan kecemasan yang muncul saat kita mengisolasi diri punya dampak yang cukup serius buat kesehatan mental. Psikolog dari Universitas Indonesia, Imelda Ika Dian Oriza, menyebutkan beberapa dampak pandemi dan segala eksesnya terhadap kesehatan mental seseorang.
“Situasi ini kan nggak menentu. Pasti ada kebingungan, lalu ada kemarahan. ‘Ini sampai kapan?’ Kebijakan di tempat kerja atau kesulitan finansial itu menyebabkan kebingungan,” ujar Imelda kepada kumparan, Senin (13/4).
Belum lagi physical distancing yang memang perlu dilakukan guna menahan laju penularan virus. Menurut Imelda, isolasi diri (dan rasa kesepian yang menyertai) membuat banyak emosi negatif seperti pikiran negatif, pesimisme, dan ketakutan muncul.
Bahkan, menurut psikolog Julianne Holt-Lunstad dari Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat, isolasi sosial bisa memberikan dampak dua kali lebih berbahaya ketimbang obesitas. Peneliti juga menemukan bahwa sistem imun orang yang kesepian bekerja secara berbeda dalam melawan virus.
Kita, orang-orang kesepian itu, lebih mudah terserang penyakit.
Lantas bagaimana? Keluar takut corona; sementara di rumah takut sendiri, bosan, sakit, lalu mati kesepian. Apakah ada jalan keluar dari pandemi ini?
Supaya Tetap Waras di Masa Pandemi Corona (1268040)
Yang penting sehat dulu. Foto: Argy Pradypta/kumparan
Sampai tingkat tertentu, rasa bosan dan stres yang muncul saat kita mengurangi kontak sosial merupakan hal yang wajar. Hal tersebut diutarakan oleh Diana Harding, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran.
“(Karena) kita makhluk sosial, ketika dipaksa membatasi diri sebetulnya wajar (merasa bosan dan stres). Tapi yang perlu diingat, ini demi keamanan kita semua. Membatasi ini-itu kan sebetulnya biar kita semua bisa survive bareng-bareng. Saling menjaga,” kata Diana kepada kumparan, Selasa (15/4), melalui sambungan telepon.
Nah, untuk mencegah agar rasa bosan dan stres yang muncul tidak mencapai taraf yang lebih membahayakan, Diana menawarkan beberapa cara dan tips kepada pembaca kumparan. Kurang lebih, begini isinya:
  1. Back to Your Ex, No, I Mean, Hobby
“Kita dulu punya hobi apa? Lakukanlah lagi,” kata Diana. Ia bilang, isolasi dan waktu sendiri yang biasanya mahal bisa jadi peluang untuk kita melihat lebih dalam ke diri sendiri.
Katanya, hobi membuat anda terhindar dari stres meski harus berada di rumah. “Cari kegiatan yang sesuai passion kita.”
  1. Beri Sesuatu buat Keluarga
“Misalnya, yang tadinya nggak punya waktu untuk masak, sekarang masak buat keluarga,” kata Diana. Ia juga bilang, ini waktu yang bagus untuk catch up dengan keluarga anda.
Ini adalah waktu yang tepat untuk menghindari pertanyaan klise, “Apakah aku benar-benar mengenal anak-anakku?” datang di masa depan.
  1. Keep in Touch
Coba video call dengan teman-teman. Makanan yang anda masak tadi, bisa juga loh dikirim ke teman atau keluarga. “Sebagai bentuk perhatian, dengan begitu juga kita kan saling mendukung,” kata Diana.
“Jangan sampai kita,” atau teman-teman kita, “terlena dalam kecemasan.”
  1. Saring Berita yang Anda Baca
“Kalau memang tidak perlu banget, atau sedemikian menakutkan, ya sudahlah, nggak usah,” ujar Diana. Menurutnya, penting untuk kita menyaring bacaan—stimulus—apa yang masuk ke dalam diri kita.
“Harus pandai memilah-milah, mana informasi yang bagus dari sumber terpercaya.”
  1. Que Sera Sera
“Bagi saya yang paling utama itu berserah diri kepada Sang Pencipta. Hal itu bisa bikin kita lebih tenang. Percayalah, Tuhan itu sayang sama kita semua. Keyakinan itu juga mungkin akan sedikit menentramkan kita,” kata Diana.
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk membantu mencegah penyebaran coronavirus COVID-19. Yuk, bantu donasi sekarang!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white