kumparan
7 Mei 2018 19:16

Surya Paloh: Adu Tagar Presiden Tak Produktif, yang Diuntungkan Asing

Relawan Deklarasi Akbar #2019GantiPresiden. (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan)
Gaduh soal Tagar #2019GantiPresiden dan #DiaSibukKerja ditanggapi kritis oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Menurutnya, aksi-aksi tersebut merupakan hal yang membuang-buang waktu dan justru menguntungkan pihak asing.
ADVERTISEMENT
“Kita capek energi banyak ke hal tak produktif. Tagar #2019GantiPresiden dan yang tetap dukung persiden. Yang ambil manfaat asing,” ujar Surya Paloh, saat pertemuan dengan para tokoh Paguyuban Nusantara, di Hotel Novotel, Palembang, Senin (7/5).
Surya Paloh merinci, perang tagar yang mendukung Jokowi dan tidak mendukung Jokowi hanya akan meruncing perbedaan jelang Pemilu 2019. Ujungnya adalah perpecahan di kalangan masyarakat. Hal yang sama pernah memanas saat Pemilu Presiden 2014.
“Enggak perlu (bangsa lain) ganggu, bisa mati sendiri Indonesia. Enggak perlu diinvasi, enggak perlu kita hancurkan ekonominya, enggak perlu ganggu, dia (asing) nonton saja," tuturnya.
Surya Paloh (Foto: Reki Febrian/kumparan)
"Sama kayak nonton bola. Kita lihat persepakbolaan kita, pretasi enggak nonjol, di samping berkelahi sendiri supporter-nya, tapi wasit juga siap-siap dikejar-kejar," sindir bos media itu.
ADVERTISEMENT
Padahal, menurut Paloh, Jokowi perlu dukungan dari masyarakat untuk menyelesaikan masalah-masalah negara yang ada. Sebagai manusia, Jokowi juga punya kelemahan dalam memimpin negeri. Tapi masyarakat juga tak bisa melulu merasa paling bisa dengan menyerang pemerintah.
"Jangan kita memungkiri dengan kemunafikan kita. Kita adalah orang yang enggak pernah berdosa, kita ini paling bersih. Paling tidak pernah ada salah. Nah, kalau sudah berbicara itu, Yang Maha Kuasa pun marah," kata Paloh.
"Inilah yang sebenarnya ketika saya katakan semua tidak bisa diselesaikan oleh Presiden Jokowi," tegas politikus asal Aceh itu.
Relawan Jokowi di CFD (Foto: Raga Imam/kumparan)
Kegaduhan perang dua tagar ini mengemuka setelah ada dugaan intimidasi saat Car Free Day (CFD) di Bundaran HI pada Minggu (29/4) lalu. Saat itu, massa yang mengenakan kaus dengan tagar #2019GantiPresiden mengintimidasi Susi Ferawati (39) dan anaknya yang memakai kaos #DiaSibukKerja.
ADVERTISEMENT
Kasus ini menjadi perhatian luas dan membuat pemerintahan daerah juga menerapkan larangan penggunaan aksi politik saat CFD. Salah satunya diterapkan di Medan, Sumatera Utara.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan