kumparan
28 Des 2018 5:17 WIB

Sutopo: Gelombang Tinggi di Sulut Dipengaruhi Depresi Tropis Filipina

Ilustrasi gelombang tinggi (Foto: Ahmad Subaidi/Antara)
Gelombang tinggi diprediksi masih akan menerjang perairan Sulawesi Utara hingga Jumat (28/12). Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB menjelaskan, hal tersebut juga dipengaruhi oleh tropical depression thirtyfive di sekitar Filipina.
ADVERTISEMENT
"Gelombang tinggi perairan Sulut itu dipengaruhi oleh tropical depression thirtyfive di sekitar Filipina. Sehingga, massa uap air dan angin mengarah ke sana. Akibatnya, terjadi angin kencang dan gelombang tinggi," jelas Sutopo kepada kumparan, Jumat (28/12).
Kondisi gelombang. (Foto: Dok. BMKG)
Depresi tropis biasanya terbentuk ketika daerah bertekanan rendah menghasilkan aliran angin melingkar dengan kecepatan di bawah 39 mph. Namun, depresi tropis ini bisa meningkan menjadi badai tropis jika sirkulasi siklon menjadi lebih teratur dan kecepatan angin mencapai lebih dari 39 mph.
Sutopo Purwo Nugroho. (Foto: Arfiansyah Panji/kumparan)
Sebelumnya, BMKG Sulut sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini adanya gelombang tinggi di area tersebut. Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Sulut Ricky Daniel Aror menyebut, tinggi gelombang bisa mencapai 2,5 hingga 4 meter.
Gelombang setinggi empat meter berpeluang terjadi di Laut Sulawesi bagian Timur, Perairan Kepulauan Sangihe dan Talaud serta Laut Maluku bagian Utara. Sedangkan di Sulteng, perairan Buung dan Manado, serta Maluku bagian selatan, tinggi gelombang mencapai 1,25 -2,5 meter.
ADVERTISEMENT
"Masyarakat dan kapal-kapal yang melakukan di daerah yang dikeluarkan peringatan dini diharapkan memperhatikan kondisi itu," kata Ricky.
Sementara itu, dalam media sosial, beredar sejumlah video pendek yang menunjukkan air laut yang telah memasuki area jalan raya di daerah Megamas, Manado. Dalam video itu, tampak sejumlah warga berkumpul dan berteriak panik saat gelombang tinggi mengempas.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan