kumparan
9 Jan 2019 11:44 WIB

Tagar #SaveRahaf yang Mendunia Selamatkan Seorang Perempuan Arab Saudi

Seorang remaja putri asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, saat bertemu dengan petugas imigrasi di hotel Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. (Foto: Reuters)
Media sosial kembali menunjukkan kekuatannya. Kali ini besarnya pengaruh media sosial terlihat setelah seorang anak perempuan asal Arab Saudi meminta pertolongan.
ADVERTISEMENT
Diberitakan Reuters, perempuan bernama Rahaf Mohammed Al-Qunun membuat akun Twitter pada Minggu (6/1) pagi. Cuitan pertamanya ditulis dalam bahasa Arab langsung meminta pertolongan. Kala mencuitkan permintaan tolong itu, Al-Qunun mengaku terjebak di Bandara Suvarnabhumi, Thailand.
"Saya adalah perempuan yang kabur dari Kuwait ke Thailand. Hidup saya dalam bahaya jika saya dipaksa kembali ke Arab Saudi," tulis Al-Qunun.
Dalam hitungan jam, tweet Al-Qunun menjadi fenomena global. Kemudian muncul tagar #SaveRahaf yang di-retweet sejumlah aktivis di seluruh dunia.
Seorang remaja putri asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, saat bertemu dengan petugas imigrasi di hotel Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. (Foto: Reuters)
Akibat derasnya tekanan di dunia maya, Pemerintah Thailand sampai berubah sikapnya. Awalnya Al-Qunun hendak dideportasi, tapi Thailand malah mempersilakan organisasi kemanusiaan untuk melindunginya.
Kini Al-Qunun sedang diproses untuk dipindahkan ke negara yang mau menampungnya sebagai pencari suaka. Beberapa negara mulai menawarkan diri sebagai tempat penampungannya, semisal Australia dan Kanada.
ADVERTISEMENT
Di Jenewa, juru bicara badan pencari suaka PBB, UNHCR, Babar Baloch mengatakan proses untuk "klaim suaka Qunun telah dimulai" dan bisa memakan waktu beberapa hari.
Saat ditangkap di Bandara Suvarnabhumi, Qunun menarik perhatian setelah membarikade diri di kamar hotel bandara karena menolak dideportasi dengan alasan takut dibunuh jika dipulangkan. Atas dasar itu pula, badan imigrasi Thailand batal memulangkan Qunun.
Kasus ini terjadi di tengah kecaman dunia terhadap Saudi akibat pembunuhan Jamal Khashoggi. Saudi sebelumnya juga dikritik karena penangkapan aktivis perempuan yang memprotes kebijakan kerajaan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan