kumparan
24 Mei 2018 21:50

Tak Ingin Dikenali, Fredrich Berniat Potong Kumis dan Pakai Wig

Sidang lanjutan Fredrich Yunadi
Sidang lanjutan Fredrich Yunadi. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Identitas sebagai pengacara kondang mulai melekat pada sosok mantan kuasa hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi. Namun Fredrich seakan tak menginginkan ketenaran itu. Ia bahkan berniat untuk mencukur gundul kumis dan memakai wig untuk menutupi identitasnya kelak.
ADVERTISEMENT
Fredrich mengaku keinginan tersebut muncul lantaran tak nyaman dengan stigma negatif akibat pemberitaan sejumlah media.
"Kalau ada yang bilang saya ingin terkenal masuk TV itu salah. Masuk TV itu ke mana-mana enggak enak, sangat tidak nyaman. Saya habis ini malah mau mengubah penampilan supaya orang enggak tahu. Kumisnya dihilangkan, pakai rambut palsu, suer," ujar Fredrich di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (24/5).
Setya Novanto di Pengadilan Tipikor
Setya Novanto di Pengadilan Tipikor. (Foto: Antara Foto/Sigid Kurniawan)
Perjalanan Fredrich menjadi kuasa hukum Setnov dimulai saat dirinya dihubungi untuk mendampingi proses hukum kasus korupsi e-KTP oleh mantan ketua DPR itu. Fredrich mengaku sangat senang dengan tawaran tersebut.
Namun, ia mengaku tak terbesit keinginannya untuk menjadi terkenal. Saat itu ia mengaku membela Setnov murni hanya menjalankan profesinya sebagai advokat.
ADVERTISEMENT
"Saya begitu mendapat telepon untuk mendampingi Pak Setya Novanto ke KPK itu saya sangat, sangat gembira. Saya pikir sudah waktunya saya gebrak KPK. Karena saya anggap alasan hukum sangat kuat sekali. Saya senang sekali mendampingi ke sana bisa adu argumentasi dengan penyidik," tutur Fredrich.
Meski begitu, Fredrich menegaskan sama sekali tidak berusaha menghambat kerja KPK untuk mengusut kasus korupsi e-KTP yang menjerat Setnov.
"Saya menjalankan semua ini menurut saya sesuai dengan rule, saya tidak merasa menghambat. Kalau saya menghambat, saya tidak beri tahu KPK, tidak beri tahu wartawan, saya umpetin, kenapa saya harus besar-besarin," jelasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan