kumparan
29 April 2019 0:05

Tangani Banjir Bengkulu, BNPB Gelontorkan Dana 2,25 Miliar Rupiah

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (5/3). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo telah menyerahkan bantuan dana siap pakai sebesar Rp 2,25 miliar kepada Gubernur Bengkulu. Dana siap pakai tersebut akan diberikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten atau kota sesuai tingkat kerusakan akibat bencana.
ADVERTISEMENT
Setiba di Bengkulu, Doni langsung mendapat penjelasan dari Gubernur Bengkulu terkait dampak dan penanganan bencana. Doni kemudian memerintahkan kepada Deputi Penanganan Darurat BNPB dan Deputi Logistik Peralatan BNPB untuk segera memenuhi kebutuhan darurat yang diperlukan. Pada kesempatan tersebut, Doni juga memberi pengarahan pada jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
"Bencana hidrometeorologi terus meningkat. Dampak ekonomi yang ditimbulkan juga cukup besar sehingga mengganggu pertumbuhan pembangunan. Selain faktor alam yaitu intensitas curah hujan yang meningkat, faktor antropogenik, yaitu ulah tangan manusia yang merusak alam dan lingkungan lebih dominan menyebabkan bencana hidrometeorologi meningkat," ucap Doni, melalui keterangan tertulis yang diberikan melalui Kapusdatin BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (28/4).
ADVERTISEMENT
Doni juga menjelaskan, deforestasi, degradasi hutan dan lingkungan, ditambah dengan berkurangnya kawasan resapan air, lahan kritis, tingginya kerentanan, tata ruang yang tidak mengindahkan peta rawan bencana dan lainnya telah menyebabkan makin rentannya daerah-daerah terhadap banjir.
"Kita harus memulihkan alam. Merawat alam dan lingkungan. Jika alam seimbang maka siklus hidrologi juga akan seimbang. Kita jaga alam, alam jaga kita," ucap Doni.
Banjir Bengkulu
Foto udara kawasan terdampak banjir di perumahan kawasan Balai kota, Bengkulu, Sabtu (27/4/2019). Foto: ANTARA FOTO/David Muharmansyah
Namun BNPB masih menghadapi kendala penanganan darurat saat ini. Antara lain sulitnya menjangkau ke lokasi titik-titik banjir dan longsor dikarenakan seluruh akses ke lokasi kejadian terputus total. Koordinasi dan komunikasi ke kabupaten/ kota cukup sulit dilakukan karena aliran listrik banyak yang terputus. Pendistribusian logistik terhambat karena akses jalan banyak yang terputus karena banjir dan longsor.
ADVERTISEMENT
Titik lokasi bencana banjir dan longsor sangat banyak sedangkan jarak antar titik banjir dan longsor berjauhan, sehingga menyulitkan untuk mencapai semua lokasi. Selain itu mereka mengalami keterbatasan anggaran yang memadai sehingga menyulitkan operasional penanganan bencana.
Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsian, perahu karet,  selimut, makanan siap saji, air bersih, family kit, peralatan bayi, lampu emergency, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan jembatan bailey.
Banjir Bengkulu
Warga mengevakuasi perabotan rumah tangga saat banjir di daerah perumahan Sawah Lebar Baru Balai Kota Bengkulu, Bengkulu, Sabtu (27/4/2019). Foto: ANTARA FOTO/David Muharmansyah
Upaya penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda 9 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu masih terus dilakukan. Hingga hari Minggu (28/4) pukul 19.00 WIB, tercatat 17 orang meninggal dunia, 9 orang hilang, 2 orang luka berat dan 2 orang luka ringan. Sebaran dari 17 orang meninggal dunia terdapat di Kabupaten Bengkulu Tengah 11 orang, Kota Bengkulu 3 orang, dan Kabupaten Kepahiang 3 orang.
ADVERTISEMENT
Sebanyak 12.000 orang mengungsi yang tersebar di banyak tempat dan 13.000 orang terdampak bencana. Jumlah ternak yang mati sebanyak 106 ekor sapi, 102 ekor kambing atau domba dan 4 ekor kerbau. Sedangkan kerusakan fisik meliputi 184 rumah rusak, 7 fasilitas pendidikan dan 40 titik sarana prasarana infrastruktur.
BPBD masih melakukan pendataan dampak bencana dan penanganan bencana. Masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan berintensitas tinggi masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Indonesia.
 
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan