kumparan
9 Juni 2018 14:41

Tangis Porter Iing Sodikin yang Kehabisan Uang untuk Lebaran

Porter Jatinegara yang terseret kereta
Porter Jatinegara yang terseret kereta. (Foto: Reki Febrian/kumparan)
Bibir Iing Sodikin tercekat, matanya menatap langit-langit kamar rumah sakit tempatnya dirawat. Kedua telapak tangan ia tangkupkan ke wajah, air mata membasahi pipi pria berusia 54 tahun itu.
ADVERTISEMENT
“Bapak sedih, tidak punya uang buat lebaran,” ucap menantu Iing Sodikin, Shukron, yang menemani mertuanya dirawat di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (7/6).
Iing, porter di Stasiun Jatinegara itu selamat dari kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Di atas kasur, Iing bercerita dirinya terseret KA Argo Lawu, karena terpeleset ke kolong kereta saat lompat dari peron ke dalam kereta yang belum berhenti sempurna.
Tetap bekerja di bulan Ramadhan, Iing kejar setoran mengumpulkan rupiah untuk bekal mudik ke kampung halaman di Kuningan, Jawa Barat. Apalagi, istri Iing yang tinggal di kampung halaman sedang sakit.
Namun takdir berkata lain. Uang hasil kerja keras Iing ludes, digunakan untuk menyewa mobil angkot untuk menuju RS Polri. Sebab sesaat setelah kecelakaan itu, teman-teman kerja Iing kesulitan mencari ambulans.
ADVERTISEMENT
Terpaksa, teman-temannya pun mengambil semua uang yang ada di dompet Iing untuk membayar angkot itu. “Sekitar Rp 300 ribu untuk sewa angkot bersama beberapa teman. Ambulansnya tidak tersedia saat itu,” ucap Iing.
Padahal penghasilan Iing sebagai porter rata-rata hanya Rp 30.000-Rp 40.000 per hari. Bahkan kadang ia harus pulang dengan tangan hampa.
“Kadang juga enggak dapat, kadang dapat segitu,” ucap Iing.
Iing Sadikin, porter di Stasiun Jatinegara
Iing Sadikin, porter di Stasiun Jatinegara. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
Sudah 17 tahun menjadi porter di Stasiun Jatinegara, Iing biasanya selalu cermat memperkirakan keamanannya saat melompat ke dalam kereta. Namun Minggu (3/6) sore itu pikirannya sempat kosong hingga salah perhitungan.
Meski nyawanya selamat, kaki Iing erseret kereta api hingga tiga jarinya kaki kirinya harus diamputasi. Beruntung, biaya perawatan Iing ditanggung penuh oleh BPJS.
ADVERTISEMENT
Perasaannya kini campur aduk. Bersyukur karena lolos dari maut, tapi juga sedih karena mudik lebaran nanti tak membawa uang di kantong. Pilu betul baginya, hingga membuat air matanya luruh.
Iing membayangkan seandainya ada uang THR dari PT KAI. Tapi apa boleh dikata, porter bukan bagian yang dinaungi oleh PT KAI.
"Mau lebaran padahal," ucap Iing lirih sambil terisak tangis.
Proses amputasi berjalan lancar, namun saat ini kondisi Iing belum pulih betul. Dia belum bisa berjalan normal, namun ayah tiga anak ini tetap bertekad ingin pulang ke kampung halaman untuk berlebaran bersama keluarga.
Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan