Tentara Diterjunkan Redam Aksi Kekerasan Pendukung Eks Presiden Afsel Jacob Zuma

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sambutan untuk Presiden Afsel Jacob Zuma. Foto: Reuters/Darren Whiteside
zoom-in-whitePerbesar
Sambutan untuk Presiden Afsel Jacob Zuma. Foto: Reuters/Darren Whiteside

Afrika Selatan (Afsel) mengerahkan tentara untuk meredam tindakan anarkis oleh pendukung mantan presiden Jacob Zuma. Diketahui, kekerasan pecah di Provinsi KwaZulu-Natal (KZN), yang merupakan kampung halaman Zuma.

Tindakan anarkis mulai dilakukan usai Zuma menyerahkan diri pada pekan lalu ke kepolisian. Ia menyerahkan diri atas vonis 15 bulan penjara.

kumparan post embed

Ia dinyatakan bersalah menghina pengadilan karena tidak menghadiri pemeriksaan terkait kasus korupsi yang menyeret namanya. Ia sempat tak kooperatif sebelum akhirnya menyerahkan diri.

Langkah Zuma ini ditentang oleh para pendukungnya. Mereka yang tidak terima membuat kekerasan, melakukan aksi vandalisme di Provinsi KwaZulu-Natal. Mereka membakar dan menjarah mal karena marah atas vonis itu.

Sisa-sisa mobil yang terbakar dan sebuah tanda memblokir jalan saat aksi unjuk rasa di jalan-jalan di Johannesburg, Afrika Selatan, Minggu (11/7). Foto: Sumaya Hisham/REUTERS

Kekerasan kembali memuncak pada hari ini, Senin (12/7), saat Zuma hendak menghadiri sidang banding atas vonis 15 bulan di pengadilan tingkat pertama.

Suasana di Afsel benar-benar mencekam. Asap dari gedung-gedung yang terbakar membubung ke udara. Barang-barang dari toko yang dijarah berserakan di jalanan.

Kerusuhan ini berpengaruh juga terhadap upaya vaksinasi yang dilakukan di Afsel terkait virus corona. Beberapa lokasi vaksinasi ditutup karena masalah keamanan. Proses vaksinasi kepada warga pun harus tertunda.

Setidaknya enam orang tewas dan tak kurang dari 219 orang telah diamankan oleh pihak kepolisian selama kerusuhan. Polisi yang kewalahan meredam aksi vandalisme ini meminta bantuan militer.

Seorang pengunjuk rasa ditahan oleh aparat keamanan di Johannesburg, Afrika Selatan, Minggu (11/7). Foto: Sumaya Hisham/REUTERS

Dikuti dari Reuters, pantauan di lokasi sudah banyak tentara yang terjun ke jalan-jalan meredam kekerasan. Menurut laporan reporter Reuters, peluru karet ditembakkan oleh polisi ke arah para penjarah untuk membubarkan mereka.

Presiden Cyril Ramaphosa mengatakan bahwa tidak ada pembenaran untuk kekerasan yang dilakukan oleh pendukung Zuma. Apalagi saat ini Afsel tengah fokus dalam menangani pandemi COVID-19.

Ia meminta agar kekerasan dihentikan. Setiap konfrontasi antara tentara dengan pendukung Zuma dikhawatirkan memicu klaim bahwa mereka adalah korban dari tindak kekerasan bermotif politik oleh Ramaphosa.

Sementara, terkait kasus hukumnya, Zuma diduga terlibat beberapa kasus korupsi besar di Afsel, termasuk pengadaan senjata dan suap dari pengusaha.

Para pengunjuk rasa yang memegang tongkat berbaris di jalan-jalan di Johannesburg, Afrika Selatan, Minggu (11/7). Foto: Sumaya Hisham/REUTERS

Atas berbagai tuduhan tersebut, pendukung Zuma naik pitam. Mereka yakin, kasus yang menyeret Zuma politis. Mereka menduga, aktor di balik segala tuduhan terhadap Zuma adalah sejumlah mitra dari Ramaphosa. Zuma juga sudah membantah tuduhan-tuduhan tersebut.