Teror di SMAN 72 Jakarta
·waktu baca 14 menit
Belasan siswi SMA Negeri 72 Jakarta berlari ke rumah warga yang juga orang tua salah satu kawan sekelas mereka. Murid-murid itu mencari tempat aman untuk menenangkan diri. Kekacauan baru saja terjadi di sekolah mereka—insiden yang belum pernah dialami sekolah mana pun di Indonesia.
Mereka terguncang. Ketakutan. Sampai-sampai hidangan yang disajikan empunya rumah terabaikan.
“Mereka susah menelan makanan,” kata S, pemilik rumah yang enggan disebut namanya.
“Minum aja begini,” tambahnya sambil memperagakan dua tangan yang gemetaran menggenggam gelas.
S juga punya anak yang bersekolah di SMAN 72, di kelas 12. Namun hari itu, Jumat 7 November 2025, sang anak meliburkan diri karena pekan tersebut baru menyelesaikan tes kemampuan akademik.
Ada sedikit rasa syukur di hati S karena anaknya tak terdampak langsung. Meski demikian, air matanya tak terbendung melihat belasan siswi yang juga teman sekelas anaknya nyata-nyata mengalami trauma siang itu.
Perasaan sedih S memuncak saat berjalan ke arah sekolah anaknya yang hanya berjarak ratusan meter dari rumahnya. Ia menyaksikan murid-murid berhamburan; sebagian turut mengevakuasi teman-temannya ke Balai Kesehatan Kompleks Komando Daerah Maritim (Kodamar) TNI AL. Ya, SMAN 72 berada di perumahan Kodamar TNI AL.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Di tempat lain pada waktu bersamaan, Nining, ibunda LH—seorang siswa kelas 12, mendapat panggilan telepon bertubi-tubi dari wali kelas anaknya. Panggilan itu sempat terabaikan karena Nining sedang mengobrol dengan suaminya, Andri, selepas salat Jumat sementara gawainya ditaruh di dalam kamar.
Selang beberapa menit, barulah ia melihat puluhan panggilan tak terjawab dari sekolah. Nining sontak khawatir dan menelepon balik wali kelas anaknya. Benar saja, hal buruk terjadi di sekolah.
“Mama LH, di sekolah ada ledakan,” kata guru anaknya di ujung telepon.
“Harus ke Rumah Sakit Islam,” imbuh sang walas.
Nining yang belum mencerna informasi itu dengan sempurna, balik bertanya, “Bentar dulu, ini ledakan apa?”
Pertanyaan itu tak dijawab gamblang. Guru anaknya hanya memintanya segera datang ke RS Islam Jakarta Cempaka Putih—rumah sakit terdekat dari SMAN 72.
“Pokoknya mama langsung ke sana saja,” kata Andri menirukan ucapan walas anaknya.
Andri dan Nining segera meluncur ke RSIJ Cempaka Putih yang hanya 10 menit berkendara dari rumah mereka. Setibanya di rumah sakit, mereka disambut kekacauan proses evakuasi dan kebingungan para orang tua murid yang mencari anak mereka.
Para orang tua kemudian didata. Nining dipersilakan masuk ke ruangan IGD, sedangkan Andri—yang semula tertahan di luar ruangan—mencoba ikut masuk.
“Saya bapaknya LH!” teriak Andri, menirukan adegan itu saat berbincang dengan kumparan, Kamis (13/11).
Andri akhirnya diizinkan menyusul masuk. Di ruang IGD, Nining menangis tak terbendung. Hatinya hancur melihat darah berceceran di kaki, tangan, dan entah bagian tubuh apa lagi dari para murid.
Benak Nining dan Andri dipenuhi pertanyaan soal kondisi anak mereka. Setelah beberapa saat, seorang dokter menemui mereka untuk menunjukkan foto dan video LH.
“Pas dia (Nining) lihat foto dan video itu, langsung histeris,” ujar Andri.
Ia sendiri termangu, tak bisa berkata-kata. Ia awalnya tak percaya foto yang diperlihatkan dokter adalah anaknya, sebab wajahnya tak bisa dikenali.
“Ini anak Bapak,” tanya dokter.
“Bukan,” jawab Andri.
Namun Nining mengenali celana bokser yang biasa dipakai anaknya. Tangisnya pun menjadi, hingga ia akhirnya tersungkur ke lantai, tak sadarkan diri.
Andri berusaha menguatkan diri. Ia berdiri di pintu IGD dan mengintip kondisi anaknya yang penuh luka—wajah hancur tak bisa dikenali, kaki tak lagi berbentuk.
“Ya Allah, batin saya menangis lihat anak saya. Mukanya hancur, daging dengkulnya hancur, lengannya luka bakar parah,” kata Andri lirih.
LH adalah satu dari 96 murid yang menjadi korban akibat ledakan bom di masjid SMAN 72 Jakarta yang terjadi pada Jumat (7/11). Rinciannya 67 orang luka ringan, 26 luka sedang, dan 3 luka berat.
Hari itu, LH berada dalam masjid sekolah untuk salat Jumat. Tak disangka, di antara khotbah dan ikamah, terjadi ledakan. Posisi LH paling dekat dengan ledakan. Hampir seluruh tubuhnya terkena serpihan ledakan.
“Matanya yang kiri [kena], kata dokter,” ucap Andri.
Di tengah perasaan hancur dan kalut atas kejadian yang menimpa putranya, Andri didatangi aparat yang hendak menggeledah kamar sang anak. Polisi itu menanyakan alamat rumahnya dan lain sebagainya.
Andri tak terlalu menghiraukannya dan mempersilakan kamar LH digeledah.
“Kayak periksa teroris. Saya agak kecewa, di saat posisi saya lagi seperti itu (kalut), dia tidak bisa sabar untuk mengecek kamar anak saya,” kata Andri.
Siswa Ledakkan Bom di Sekolah: Kejadian Luar Biasa
Ledakan bom di SMAN 72 Jakarta adalah teror bom pertama di sekolah Indonesia, bahkan mungkin di Asia. Yang membuat kejadian ini luar biasa adalah terduga pelakunya yang juga murid SMAN 72—siswa berinisial FN yang usianya belum genap 18 tahun.
FN kini ditetapkan sebagai anak berkonflik dengan hukum (ABH) alias tersangka oleh Polda Metro Jaya.
Dari konstruksi yang dipaparkan kepolisian, FN melancarkan aksinya dengan terencana. Ia diduga merakit bomnya secara mandiri, lalu dibawa dan diledakkan di sekolah.
Hari itu, FN berangkat sekolah diantar ayahnya dengan sepeda motor. Ia berangkat dari tempat tinggalnya di Jalan Mahoni, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara. Jarak rumah dan sekolahnya kurang dari 10 kilometer, sekitar 25 menit berkendara.
Hampir tak ada yang berbeda pagi itu. FN pergi ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Namun, hari itu FN membawa tas besar, semacam tas olahraga. Melihat tas itu, seorang pekerja yang tinggal di rumah FN, Baisem, sempat membercandainya, menyebutnya seperti mau mudik.
Hari itu, murid SMAN 72 mengenakan kemeja batik merah dan bawahan putih. FN tiba di sekolah sekitar pukul 06.28 WIB. Ia masuk gerbang sekolah dengan menggendong tas ransel merah di punggung dan menenteng tas biru besar di tangan kiri.
FN terlihat lagi di rekaman CCTV sekolah pada pukul 11.43 WIB jelang salat Jumat. Tepat pukul 11.44 WIB, ia memasuki pintu masjid sekolah, masih dengan setelan seragam dan tas merah. Di situ, ia tampak memperhatikan situasi sekitar.
Pukul 12.05 WIB, FN terlihat sudah melepas seragamnya. Ia berjalan menuju lorong yang mengarah ke masjid; kali ini mengenakan celana hitam, kaos putih, dan menenteng senjata mainan.
Pada waktu bersamaan, rekaman CCTV memperlihatkan percikan cahaya merah disertai ledakan dan asap yang menyembur keluar dari dalam masjid. Ledakan terjadi.
Beberapa menit kemudian, pada tangkapan CCTV lain yang dianalisa penyidik, FN tampak menjauhi masjid. Pukul 12.20.58 WIB, para siswa berlari berhamburan keluar dari masjid.
Total ada dua lokasi ledakan berdasarkan temuan dan analisa tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan Tim Gegana Satuan Brimob Polda Metro Jaya, yakni di dalam masjid dan di taman sekolah.
Di dalam masjid sekolah, polisi menemukan serpihan plastik, dua kawah ledak, berbagai macam paku, potongan tas, dan sakelar rocker. Ditemukan juga electric mesh yang berfungsi sebagai inisiator, lalu papan VCP, dan empat baterai A4 dengan daya 1,5 volt.
Untuk bahan peledaknya, polisi mendeteksi penggunaan senyawa kimia potasium klorat.
Berdasarkan analisa polisi, dari temuan dua kawah ledak di masjid, diduga ada dua bom yang meledak di dalam masjid tersebut.
“Dampak ledakan berupa overpressure dan shrapnel (serpihan) paku yang mengakibatkan banyak korban terluka,” kata Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto, Selasa (11/11).
Sementara di TKP kedua, taman baca, polisi menemukan bom aktif ber-casing botol minum yang dilengkapi sumbu bakar. Di tempat itu juga ditemukan remot yang diduga berfungsi untuk meledakkan bom dalam masjid.
Berikutnya, polisi menemukan 4 bom di bak sampah—2 sudah diledakkan meski ledakannya tak sempurna, dan 2 lagi masih aktif. Bom-bom tersebut menggunakan casing pipa ukuran 3 per 4 mm, dengan panjang sekitar 20 cm.
Bom-bom di bak sampah itu menggunakan sumbu api. Artinya, bom tersebut akan meledak bila sumbunya dibakar.
... dapat kami simpulkan bahwa di TKP kami temukan total 7 bom.”
Rinciannya: 2 bom sudah meledak di dalam masjid dengan aktivasi receiver yang dikendalikan remote control (remot ditemukan di taman baca), dan 5 bom lain ditemukan di sekitar taman baca dan bak sampah (dua bom sudah meledak dan tiga lainnya masih aktif).
“Empat [bom] yang meledak, tiga masih aktif sudah kami kembalikan di Markas Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya,” imbuh Henik.
Bom-bom tersebut diduga dirakit FN secara mandiri bermodalkan tutorial di media sosial dan situs-situs internet. Polisi belum mengungkap proses FN membuat bom dan dari mana dia memperoleh bahan-bahan peledak.
“Kami masih menunggu dari ABH tersebut (FN) karena sampai saat ini yang bersangkutan masih perawatan—sudah dilakukan satu kali operasi tindakan medik, dan saat ini masih menjalani operasi kedua,” jelas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Imam Imanuddin.
Penyidik juga belum membeberkan motif FN melancarkan pemboman terencana itu. Namun kemudian muncul berbagai dugaan, termasuk dugaan perundungan yang ia alami hingga dugaan ia terpengaruh fanatisme kekerasan lewat media sosial.
Dugaan Bullying
Di keluarga, FN dikenal sebagai anak yang nggak neko-neko. Ia pendiam. Tak pernah bermasalah dengan sekolah. Anak rumahan. Aktivitasnya hanya sebatas, pagi berangkat sekolah, sore pulang dan langsung ke kamarnya di lantai atas.
Sejak duduk di SMA, FN tak pernah keluar rumah untuk main-main seperti anak-anak kompleks kebanyakan. Tak pernah keluar main bola atau melakukan hobi lain. Ia juga tak pernah keluar malam.
“Kaget benerlah, anaknya pendiam kok tiba-tiba gitu (meledakkan bom),” ujar Baisem.
FN menghabiskan waktunya di kamar dan sekolah. Ia juga tak pernah mengajak teman ke rumah. Terakhir temannya datang ke rumah saat FN masih duduk di bangku SMP. Itupun karena SMP-nya dekat dari rumah.
“Terus SMA kan di sana SMA-nya. Kelas 1 masih temannya banyak, datang ke sini [rumah] sering. Ada beberapa kali datang. Setelah kelas 2 [SMA] mulai enggak ada,” jelas Baisem.
Meski kesehariannya terlihat tak neko-neko, tapi Baisem tidak benar-benar memahami apa yang terjadi pada FN. Pascakejadian, Baisem menanyakan ke ayah FN soal kondisi yang dialami sang anak.
“Saya tanya sama bapaknya, baru kemarin setelah kejadian, 'Om, emangnya enggak pernah cerita apa-apa di sekolah ada apa itu anaknya?' Aku nanya gitu. Katanya, enggak. Justru enggak pernah cerita,” ujarnya.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang ikut turun tangan dalam kejadian ini mengungkapkan, keluarga FN memang tak sempurna seperti anak-anak lain. Perhatian dari orang tua tidak optimal. Orang tuanya berpisah. FN tinggal bersama ayah dan kakaknya, sementara ibunya jadi TKW.
Meskipun FN tidak banyak berinteraksi dengan dunia luar dan menghabiskan waktu di kamar dengan bermain gawai, ia terkenal pintar. Bahasa Inggrisnya disebut di atas rata-rata teman sekelasnya.
KPAI menduga kondisi FN yang pintar dan mempunyai kesukaan tak umum dari temannya yang lain, ditambah jarang berinteraksi, membuatnya menjadi korban perundungan verbal.
“Biasa kan kalau anak terlalu pintar mungkin juga ada yang enggak suka. Nah, kemudian di-bully, berkali-kali di-bully. Anaknya diam, tidak bisa membalas,” jelas Anggota KPAI Diyah Puspitarini di kantornya, Kamis (13/11).
Kondisi tersebut diduga membuat FN merasa sendiri. Ia bisa menghapus kesepiannya dengan membaca, menyusuri dunia dalam kamarnya, berselancar di dunia maya dan akhirnya muncullah ide meledakkan bom di sekolah.
Dugaan bullying dan kesepian dipertebal temuan coret-coretan di meja dan diary miliknya yang bernada kesepian.
Namun dugaan bullying dianggap belum memenuhi untuk disimpulkan sebagai penyebab FN meledakkan bom.
Psikolog klinis forensik Kasandra Putranto menegaskan, kesimpulan bullying yang sejak awal didengung-dengungkan adalah sesuatu yang sangat prematur dan tak bisa dipertanggungjawabkan dengan bukti. Perlu ada pemeriksaan psikologi forensik menyeluruh lebih dahulu untuk membuktikan penyebab atau motif ABH.
Menurut Kasandra, harus ada pemeriksaan riwayat hidup, masa lalu, kegiatan, dan profil psikologis. Harus dilakukan tes dan interview, wawancara keluarga, teman, hingga menelusuri perjalanan hidup dan sosok ABH.
“[Setelah psikologi forensik] baru bisa disimpulkan, apakah faktor bullying itu adalah penyebab atau pemicu. Penyebab pun ada dua, bisa penyebab utama, bisa penyerta,” kata Kasandra.
Polisi juga belum menjawab tegas mengenai dugaan bullying. Juru bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, hanya mengatakan, ABH telah menyimpan dendam sejak awal 2025, merasa kesepian, tertindas, dan mencari-cari pelampiasan.
“Merasa tertindas, kesepian, tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa,” ujar Mayndra, Selasa (11/11).
Kepala Sekolah SMAN 72, Tetty Helena Tampubolon, pun belum bisa memastikan kebenaran adanya perundungan terhadap FN yang tak ditangani sekolah.
“Maksudnya, ketika dia ngadu bully, apakah ada kita yang tidak melayani, juga belum ada,” katanya kepada kumparan, Kamis (13/11).
Tetty belum bisa menjelaskan apa-apa terkait sisi psikologis FN. Yang dia ketahui, berdasarkan catatan pembinaan, FN tak pernah buat masalah di sekolah. Tidak pernah lompat pagar, tak pernah mengganggu siswa lain, dan selalu tepat waktu.
FN hanya pernah tercatat dan ditegur karena salah kostum: seharusnya celana putih, tapi ia mengenakan celana abu-abu.
“Jadi secara sikap anak ini baik,” ujar Tetty.
Namun Tetty tak mengetahui situasi kejiwaan FN. Ia bahkan baru mengetahui anak itu disebut tergolong pendiam setelah insiden ledakan dan FN mencuat sebagai terduga.
Tetty menyebut ada rasa bersalah karena lalai memperhatikan kondisi kejiwaan seluruh siswa. Para guru, kata dia, fokus untuk menyiapkan anak-anak kelas XII untuk TKA.
“Mungkin kami juga kurang melihat wajah anak-anak saat mengajar, apakah mereka sedang sedih atau sedang apa,” tambahnya.
FN diduga kesepian. Tak ada tempat bercerita. Temannya hanya bacaan dan gawai. Menghabiskan waktu dalam kamar berselancar di medsos. Sehingga semua tindakannya terpengaruh konten yang dikonsumsi di media sosial.
Terpapar Kekerasan Lewat Medsos
FN disebut melakukan aksi secara mandiri. Ia tidak terkait dengan jaringan terorisme. Tindakannya diduga keseluruhan terpengaruh lewat pencarian internet dan media sosial. Dari mulai merakit bom hingga beberapa inspirasi pelaku kekerasan dengan ideologi tertentu, diperoleh dari selancar dunia maya.
Pada senjata dami milik FN tertulis sejumlah nama-nama yang terkait dengan aliran tertentu di luar negeri seperti Eric Harris dan Dylan Klebold, yang merupakan pelaku penembakan di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat pada 1999. Keduanya beraliran Neo-Nazi yang hendak menghidupkan kembali ideologi Nazi Jerman.
Ada juga Dylan Ruff Charleston yang melakukan penembakan di Gereja Charleston di South Carolina pada 2015. Ia merupakan seorang white supremacist atau orang yang meyakini kulit putih lebih unggul dari ras lainnya
Ketiga, Alexandre Bissonete yang melakukan serangan di Gereja Quebec di Kanada pada 2017, yang juga mengklaim diri sebagai white supremacist. Keempat, Vladislav Roslyakov yang melakukan serangan di Politeknik Kerch di Crime, Rusia, pada 2018. Ia beraliran Neo-Nazi.
Kelima, Brenton Tarrant yang melakukan penembakan di Masjid Christchurch, Selandia Baru, pada 2019 yang merupakan seorang fasis, rasis, dan ehtni-nasionalis. Keenam, Natalie Lynn Rupnow yang melakukan penembakan di Abundant Life Christian School di Wisconsin, Amerika Serikat, pada 2024 dan beraliran Neo-Nazi.
Nama-nama dengan berbagai ideologi di atas diduga di-capture FN untuk melakukan teror.
Meski begitu, Mayndra menyebut tak ada hubungan ideologi nama-nama di atas dengan tindakan kekerasan yang dilakukan FN.
“Simbol-simbol tersebut bukan merupakan relasi komunitas atau relasi entitas atau kita sebut juga, bahwa ABH tidak berafiliasi dengan paham-paham tokoh yang dicantumkan,” kata Mayndra.
Media sosial sangat dalam mempengaruhi FN. Ia bahkan disebut mengikuti komunitas pengagum kekerasan di medsos.
FN disebut mencoba menelusuri berbagai situs untuk mempelajari bagaimana orang meninggal dunia, celaka, dan mengalami kekerasan dalam berbagai tingkatan.
Dari media sosial, ABH mendapatkan beberapa tokoh inspiratif. Ia diduga mengikuti beberapa tindakan ekstremisme tapi tak terikat secara jaringan. Simbol-simbol yang ia gunakan sekadar inspirasi baginya. Ia menggabungkan berbagai aliran ideologi dan tidak konsisten mengikuti salah satu aliran.
“Tidak ada satu ideologi yang konsisten diikuti,” ujar Mayndra.
Di medsos, FN tak hanya mencari inspirasi soal tindak kekerasan, tapi juga tentang perakitan bom.
“Ini menjadi awareness (alarm) ke depannya bagi kita semua terkait adanya kekerasan di dunia maya, terutama bagi para pengguna media sosia,” imbuhnya.
Berbenah Usai Insiden SMAN 72
Insiden SMAN 72 Jakarta tak boleh dianggap sepele. Ia sebagai alarm untuk melakukan perbaikan berbagai pihak. Terutama menciptakan rasa aman di sekolah.
Pakar Terorisme UI, Muhamad Syauqillah, mewanti-wanti agar tak hanya terjebak pada perdebatan terorisme atau bukan. Baginya, biarkan hal tersebut diselesaikan kepolisian.
Hal terpenting, lanjut dia, adalah bagaimana menjaga anak dari paparan kekerasan, khususnya generasi Z dan Alpha yang lahir langsung disuguhi gawai. Anak bisa dengan gampang mengakses apa saja di internet.
Syauqillah menyebut, ini tidak hanya peringatan bagi sekolah, tapi juga semua, mulai dari keluarga hingga pembuat regulasi. Ia mencontohkan kebijakan Australia sudah memblokir media sosial untuk anak-anak.
“Fenomenanya anak muda dan anak itu dilibatkan dalam lingkaran kekerasan itu ada di berbagai wilayah di dunia. Artinya ini bukan suatu fenomena baru di mana anak itu terlibat dalam lingkaran kekerasan,” kata Syauqillah.
Direktur Eksekutif SETARA Institute Halili Hasan juga menuturkan hasil penelitian serupa bahwa anak ada salah satu yang paling rentan terpapar kekerasan. Dan hal tersebut semakin dipercepat melalui media sosial.
Tantangan media sosial memang agak rumit. Sekolah mungkin bisa mengontrol akses medsos murid, tapi tidak bila mereka ada di rumah dan ruangan sendiri yang privat.
Hal ini diamini Tetty. Menurutnya, sekolah dan guru-guru tak mampu menjangkau dan memantau seluruh situs yang dibuka murid. Maka, ancaman paparan kekerasan gaya baru tidak bisa diselesaikan hanya dari sektor pendidikan, tapi memerlukan penguatan di sisi regulasi.
Melihat kejadian SMAN 72, SETARA Institute merekomendasikan lima hal kepada Kementerian Dikdasmen untuk mencegah pengaruh kekerasan terhadap anak: pertama, memastikan bahwa lembaga pendidikan menjadi tempat paling aman. Lembaga pendidikan juga perlu memantik kultur critical thinking.
Kedua, sekolah jangan hanya menjadi candradimuka untuk mendidik anak muda, tetapi dia juga menjadi entitas paling kunci mengatasi penyakit-penyakit sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Seperti pengaruh ekstrimisme dan kekerasan.
Ketiga dan selanjutnya adalah pemanfaatan guru BK dan mengubah OSIS sebagai wadah student activism. Bukan sekadar pembuat event sekolah.
“Dunia digital itu faktor keempat yang membuat anak-anak itu bisa secara lebih cepat mengalami ideologi dan kultur kekerasan di dalam dirinya, sehingga mempercepat seseorang menjadi intoleran aktif dan potensial terpapar,” pungkas Halili.

