kumparan
20 Agustus 2019 6:36

Tetap Damai, Papua

Aksia Damai Warga Papua
Warga Papua menyalakan lilin saat aksi damai di Bundaran Tugu Perdamaian Timika Indah, Mimika, Papua. Foto: ANTARA FOTO/Sevianto Pakiding
Kabar ricuh di Manokwari dan Sorong, Papua Barat, dengan cepat menyebar. Warga dua kota itu disebut mengamuk terkait dengan penangkapan mahasiswa Papua di Surabaya.
ADVERTISEMENT
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menilai kerusuhan tersebut tidak perlu terjadi. Pasalnya, kerusuhan tersebut dipicu dengan hoaks rasial dari kasus penggerudukan massa di asrama mahasiswa Papua (AMP), Surabaya, Jumat (16/8).
"Kemarin memang ke-triger gara-gara ada kesalahpahaman. Kemudian muncul hoaks mengenai ada kata yang kurang etis dari oknum tertentu. Ada juga gambar seolah adik-adik kita dari Papua meninggal. Ini berkembang di Manokwari kemudian terjadi mobilisasi massa," ujar Tito usai menjenguk anggota polisi korban penyerangan teror Mapolsek Wonokromo di RS Bhayangkara, Surabaya, (19/8).
Tito juga tidak memungkiri jika kerusuhan di Manokwari berawal dari perseteruan antara mahasiswa Papua dengan massa di Malang dan Surabaya.
“Kita sudah tahu bahwa hari ini ada kejadian di Manokwari. Ada aksi anarkis dan juga ada pengumpulan massa. Ini dipicu karena kejadian di Jatim khususnya di Surabaya dan Malang. Ini tentu kita sesalkan," imbuhnya.
Aksi massa di Papua
Para pengunjuk rasa turun ke jalan untuk berhadapan dengan polisi di Manokwari, Papua pada Senin (19/8). Foto: AFP
Tito menyebut, ada oknum tertentu yang memanfaatkan kejadian di Surabaya dan Malang untuk kepentingan sendiri. Oknum yang tidak bertanggungjawab itu menunggangi kerusuhan di dua kota tersebut untuk memicu kerusuhan yang lebih besar di kota lainnya.
ADVERTISEMENT
"Dan ada pihak-pihak yang mengembangkan. Kejadian yang ada di Surabaya dan Malang hanya peristiwa kecil semula. Yang sebetulnya sudah dilokalisir dan sudah diselesaikan oleh gubernur, Pangdam, dan Kapolda setempat," tandasnya.
Tito meminta masyarakat Papua maupun di luar Papua agar tidak mudah terprovokasi atas sejumlah kabar yang belum tentu benar. Terlebih, Manokwari sebagai kota religius wajib mengedepankan kedamaian.
Aksi massa di Papua
Massa melakukan aksi di Jayapura, Senin (19/8/2019). Foto: ANTARA FOTO/Gusti Tanati
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga membantah informasi di media sosial bahwa mahasiswa Papua mendapatkan perlakuan diskriminasi dan pengusiran dari masyarakat.
"Ya, saya kira sekali lagi yang kalau disampaikan bahwa anak-anak Papua diusir dari Surabaya itu tidak betul. Kabag humas saya ini dari Papua, dia ada di bawah, jadi itu dari Papua dan beberapa camat dan pejabat saya dari Papua, jadi itu tidak betul," kata Risma di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (19/8).
ADVERTISEMENT
Bahkan, Risma mengatakan dia telah diangkat sebagai warga kehormatan oleh warga Papua sebagai 'Mama Papua'. Maka dari itu, Risma meminta kepada seluruh masyarakat Papua dan tokoh agar dapat meredam situasi.
"Bahwa saya juga diangkat oleh warga Papua menjadi Mama Papua, jadi karena itu sekali lagi saya berharap saudara-saudara saya, keluarga-keluarga saya, Mama, Papa saya, para pendeta di Papua sekali lagi tidak ada kejadian apa pun di Surabaya," jelas Risma.
Kendati demikian, Risma tetap menyampaikan permohonan maaf atas insiden penggerebekan asrama mahasiswa Papua di Surabaya.
"Saya sekali lagi kalau memang itu ada kesalahan di kami, di Surabaya, saya mohon maaf. Tapi tidak benar kalau kami dengan sengaja mengusir, enggak ada itu," kata Risma.
ADVERTISEMENT
Presiden Jokowi bahkan sampai ikut buka suara soal masalah ini. Dia mengakui insiden di Surabaya menyebabkan ketersinggungan masyarakat di Sorong dan Manokwari.
"Saudara-saudaraku, Pace, Mace, Mama-mama di Papua, di Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Senin (19/8). Pace Mace merupakan panggilan akrab di kalangan pria dan wanita di Papua.
Namun, ia meminta seluruh warga di Papua dan Papua Barat untuk saling memaafkan dan menciptakan perdamaian. Sebab, emosi tidak akan menyelesaikan masalah.
"Sebagai saudara sebangsa dan setanah air yang paling baik adalah saling memaafkan. Emosi itu boleh tapi memaafkan itu lebih baik, sabar juga lebih baik" lanjut dia.
Selain itu, Jokowi meyakinkan warga bahwa pemerintah Indonesia akan terus menjaga kehormatan warga Papua dan Papua Barat.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan