Politik
·
10 April 2019 23:46

TGB: Hoaks Dibuat untuk Memecah Belah Persatuan Bangsa

Konten ini diproduksi oleh kumparan
TGB: Hoaks Dibuat untuk Memecah Belah Persatuan Bangsa (109805)
Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'aruf Amin, TGH Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) berbicara masalah hoaks yang banyak beredar di Pilpres 2019. TGB mengungkapkan salah satu tujuan hoaks adalah memecah belah persatuan bangsa.
ADVERTISEMENT
“Bagi saya yang paling berharga bagi kita adalah aset yang tak terlihat yaitu persatuan dan persaudaraan. Hoaks menyasar itu (memecah belah persatuan bangsa). Jadi saya (merasa) tak diikat oleh satu 'hutan' tertentu yang membuat jadi satu bangsa. tapi rasa persatuan dan persaudaraan. Nah ini yang disasar oleh berita bohong atau fitnah,” kata TGB saat diskusi tentang hoaks di Posko Cemara, Jakarta, Rabu, (10/4).
Menurut TGB, salah satu yang bisa menjadi solusi mencegah hoaks adalah melalui jalur keagamaan dan budaya di masyarakat. TGB mendorong peran dari masjid atau majelis taklim untuk membantu mencegah hoaks. Menurutnya, setiap penceramah di masjid harus mempunyai tanggung jawab dalam setiap ceramahnya.
“Panggung keagamaan tak boleh rusak tapi itu adalah medium paling penting untuk memperkokoh semangat kebangsaan,” ujar anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin itu.
TGB: Hoaks Dibuat untuk Memecah Belah Persatuan Bangsa (109806)
Hoax (Ilustrasi) Foto: Shutter Stock
Sementara itu di lokasi yang sama, politikus PDIP Budiman Sudjatmiko mengakui dengan perkembangan teknologi membuat setiap orang bisa mengomentari apapun yang menimbulkan hoaks.
ADVERTISEMENT
Namun, Budiman merasa setiap hoaks yang muncul tidak semua hoaks bisa menyebar hingga desa-desa. Sebab, kata Budiman, masih banyak sifat dan kegiatan sosial yang terjaga dengan baik di desa-desa.
“Saya melihat kenapa di desa masih kuat, etika sosial masih kuat, gotong royong, sosial etika masih kuat diikat oleh kebudayaan tradisional. Agama, orang beragama di desa itu tak pragmatis, bukan pelarian karena kesulitan,” terang Budiman.
“Mereka (warga desa) terlahir secara sosial spiritual, jejaring kuat, dan kompatibel. Di kota beda, sosial rendah,” tuturnya.