kumparan
27 Maret 2019 14:03

TKN Ingin Jokowi Angkat Isu Paham Radikal di Debat Capres Hari Sabtu

LIPSUS, PPP, Arsul Sani
Sekjen PPP, Arsul Sani. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Debat ke-4 Pilpres 2019 kembali akan mempertemukan kedua capres yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, Sabtu, 30 Maret 2019. Salah satu tema yang akan disajikan pada debat nanti adalah soal ideologi.
ADVERTISEMENT
Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN), Arsul Sani, mengatakan pihaknya ingin capres pertahana Jokowi mengangkat hal-hal terkait deradikalisasi dan kontra radikalisasi.
"Kami tentu memberikan masukan kepada Pak Jokowi antara lain yang perlu dibahas juga, tapi sekali lagi ini akan tergantung pertanyaan nanti yang keluar apa, itu hal-hal yang terkait deradikalisasi dan kontra radikalisasi," ujar Arsul di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/3).
Arsul menegaskan, bahwa 4 pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika harus dijaga dan dipegang teguh oleh masyarakat. Hal itu menurut Arsul sangat penting agar masyarakat tak terpapar paham radikal.
"Ada yang radikal, pertama jangan langsung kemudian dicap itu katakanlah gerakan yang mau mengganti NKRI dan lain sebagainya, tetapi katakanlah pemikiran yang radikal itu, perlu dideradikalisasi. Kemudian masyarakat yang rentan terpapar pemikiran radikal itu, perlu diadakan program kontra radikalisasi," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
"Nah itu yang kira-kira kita ingin kami mengusulkan ke Pak Jokowi untuk di-highlight," lanjutnya.
Kendati begitu, Sekjen PPP itu mengatakan, masukannya tersebut tergantung dengan kondisi atau pertanyaan apa yang dilontarkan saat debat ke-4 Pilpres 2019.
"Tetapi tentu harus nyambung dengan pertanyaannya. Kalau enggak nyambung enggak bisa juga," tandasnya.
Debat ke-4 Pilpres 2019 akan mempertemukan Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Debat akan mengusung tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional. Debat akan dilaksanakan di Hotel Shangri-La, Jakarta Pada Sabtu (30/3).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan