Ukraina Turunkan Usia Wamil Jadi 25 Tahun, Butuh Tambahan 500 Ribu Tentara

26 Desember 2023 11:38 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Prajurit Ukraina dari brigade mekanik terpisah ke-93 mengenakan pakaian ghillie selama pelatihan di dekat garis depan di wilayah Donetsk, pada Senin (25/12/2023). Foto: Thomas Peter/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Prajurit Ukraina dari brigade mekanik terpisah ke-93 mengenakan pakaian ghillie selama pelatihan di dekat garis depan di wilayah Donetsk, pada Senin (25/12/2023). Foto: Thomas Peter/REUTERS
ADVERTISEMENT
Pemerintah Ukraina telah mengusulkan untuk menurunkan usia wajib militer (wamil) dari 27 menjadi 25 tahun. Usulan ini muncul setelah Angkatan Bersenjata Ukraina mengumumkan mereka membutuhkan 500 ribu tentara tambahan dalam pertempuran melawan Rusia.
ADVERTISEMENT
Penurunan usia wajib militer ini tercantum dalam teks Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diposting di website parlemen Ukraina, pada Senin (25/12) malam.
Dikutip dari Al Jazeera, teks tersebut merinci kategori warga negara Ukraina yang perlu mengikuti wajib militer. Disebutkan, peraturan baru yang telah diteken oleh Menteri Pertahanan Rustem Umerov ini berlaku untuk mereka yang telah mencapai usia 25 tahun, bukan lagi 27 tahun.
Seorang prajurit Ukraina dari Brigade Mekanik ke-43 dengan kamuflase salju mengambil bagian dalam pelatihan militer di lokasi yang dirahasiakan di wilayah Kharkiv pada 1 Desember 2023, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. Foto: Genya Savilov / AFP
Ketua Partai Servant of the People yang berkuasa, David Arakhamia, mengatakan pemerintah sedang menggodok RUU itu atas permintaan militer dan mulai berlaku sejak kemarin. "Militer membutuhkan solusi untuk masalah-masalahnya," tulis Arakhamia di Telegram.
"Masyarakat ingin mendengar jawaban atas semua pertanyaan sensitif," tambahnya.

Butuh 500 Ribu Tentara

Pada awal Desember ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mengungkapkan usulan dari militer untuk memobilisasi sekitar 450 ribu hingga 500 ribu lebih banyak warga negara untuk mengikuti wajib militer dan diterjunkan ke medan perang.
ADVERTISEMENT
Namun, menurut Zelensky, usulan itu merupakan 'isu sensitif' yang perlu didiskusikan lebih lanjut oleh militer dan pemerintah sebelum memutuskan untuk mengirimkan RUU-nya ke parlemen.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy memeriksa tank Leopard 2 saat ia mengunjungi posisi pasukan Ukraina di garis depan, pada 3 Oktober 2023. Foto: Ukrainian Presidential/HO via REUTERS
Zelensky, pada gilirannya, belum sepenuhnya mendukung agar RUU itu diadopsi. Pada Selasa (19/12) pekan lalu, dirinya menyatakan ingin mendengar lebih banyak pertimbangan sebelum memobilisasi lebih banyak orang. "Ini adalah jumlah yang sangat serius," kata Zelensky saat itu.
Selama perang berlangsung, Ukraina tidak pernah menginformasikan berapa jumlah prajuritnya. Namun, para pengamat memprediksi ada sekitar satu juta tentara bersenjata Ukraina yang aktif.
Sejak Rusia meluncurkan operasi militer khususnya tahun lalu, pihak berwenang Amerika Serikat memperkirakan Ukraina telah kehilangan ratusan ribu tentaranya — termasuk yang gugur atau cedera parah.
ADVERTISEMENT