News
·
20 Juli 2021 19:06
·
waktu baca 2 menit

Uni Eropa Izinkan Perusahaan Jika Ingin Larang Pegawainya Pakai Jilbab

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Uni Eropa Izinkan Perusahaan Jika Ingin Larang Pegawainya Pakai Jilbab (406477)
searchPerbesar
Ilustrasi Hijab Foto: Shutterstock/Lissma
Pengadilan Uni Eropa atau ECJ baru-baru ini mengeluarkan keputusan baru. ECJ kini mengizinkan perusahaan atau tempat kerja yang ingin melarang pekerjanya menggunakan atribut keagamaan termasuk jilbab.
ADVERTISEMENT
Kebijakan ini boleh diterapkan jika alasan pelarangan adalah untuk menciptakan citra perusahaan yang netral dan untuk mencegah adanya perselisihan.
Keputusan tersebut diambil setelah dua wanita Muslim di Jerman dilarang oleh tempat kerja mereka untuk menggunakan jilbab saat bekerja. Tidak puas dengan larangan dan merasa didiskriminasi, kedua perempuan tersebut menuntut perusahaan mereka ke pengadilan.
Pengadilan Jerman kemudian merujuk kasus ini ke ECJ. Pengadilan Uni Eropa menekankan, jika perusahaan ingin melarang atribut keagamaan, larangan tersebut harus berlaku untuk semua agama, bukan hanya untuk agama tertentu.
Meski begitu, ECJ mengatakan bahwa hal seperti ini harus dianalisa kasus per kasus. Jika kejadian dua wanita Muslim terjadi lagi, pengadilan nasional harus melihat apakah keputusan perusahaan sesuai dengan hukum negara mengenai kebebasan beragama.
ADVERTISEMENT
Pelarangan atribut agama juga harus dilakukan atas dasar keinginan perusahaan untuk menjadi netral bukan untuk diskriminasi.
Sebelumnya, dua wanita Muslim dilarang menggunakan jilbab di tempat mereka bekerja setelah kembali dari cuti melahirkan. Seorang perempuan bekerja sebagai ahli kimia di sebuah perusahaan sejak 2002.
Awalnya, ia tidak menggunakan jilbab. Sekembalinya dari cuti melahirkan, ia menggunakan jilbab. Namun perusahaan tempat ia bekerja memintanya tersebut untuk datang bekerja tanpa menggunakan atribut yang mengacu pada pandangan politik, filosofi, dan agama tertentu.
Sementara satu perempuan lainnya bekerja di sebuah organisasi non-pemerintah. Tidak mau melepaskan jilbabnya, akhirnya ia pun kehilangan pekerjaan.

Laporan kontributor kumparan di Jerman Daniel Chrisendo

Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020