kumparan
29 Agustus 2018 22:40

Ustaz Somad: Teriak Allahu Akbar Bukan Berarti Anti-Nasionalisme

Ustaz Somad Bertemu Zulkifli Hasan
Ustaz Somad bertemu Zulkifli Hasan. (Foto: dok. Zulkifli Hasan)
Ustaz Abdul Somad (UAS) memberikan ceramah keagamaan sekaligus kebangsaan di acara peringatan HUT ke-73 MPR. UAS menyampaikan, teriakan 'allahu akbar' yang diikuti kata 'merdeka' di tiap orasi punya nilai kebangsaan.
ADVERTISEMENT
“Ketika berteriak 'allahu akbar', lalu berteriak 'merdeka', saat itu dalam satu hembusan napas kita bercerita tentang agama dan kebangsaan,” kata UAS di lapangan Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8).
Dia menjelaskan, orang yang meneriakkan takbir bukan berarti dia antinasionalisme. Sebaliknya, orang yang berteriak 'merdeka', juga bukan berarti dia anti-agama.
“Maka sesungguhnya dalam teriakan Bung Tomo terdapat dua kalimat itu. Dalam satu teriakan dia berkata 'allahu akbar', dalam teriakan itu juga dia berkata 'merdeka'. 'Merdeka' tidak menafikan 'allahu akbar'. Dan 'allahu akbar' tidak menafikan merdeka,” jelas UAS.
acara syukuran dan doa bersama peringati HUT ke-73 MPR RI
Ustaz Abdul Somad bersama Ketua MPR hadiri acara syukuran dan doa bersama peringati HUT ke-73 MPR RI. (Foto: Ricad Saka/kumparan)
"Orang yang berteriak 'allahu akbar', dia bukan antinasionalisme. Dan orang yang berteriak Merdeka, dia bukan anti agama," lanjutnya.
Menurutnya, jika orang yang fobia terhadap agama dan negara saling bertemu, akan timbul rasa saling curiga. Ia mencontohkan, orang yang anti terhadap agama akan curiga dengan mereka yang meneriakkan kalimat takbir. Begitu juga sebaliknya.
ADVERTISEMENT
“Sekarang bertemu dua fobia. Satu fobia nasionalisme, yang satu fobia agama. Dua-duanya saling penuh kecurigaan dan ketakutan. Kalau ada orang yang teriak 'allahu akbar', jangan-jangan ini antiIndonesia. Ketika ada orang teriak merdeka, jangan-jangan ini anti-Islam,” tutupnya.
Dalam acara itu, turut hadir Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan