Kumparan Logo
Kaleidoskop 2023- Polusi Udara di Jakarta
Polusi udara mengepung Monas di Jakarta Pusat, Selasa (25/7/2023).

Video: Polusi Jakarta Menggila, Pepohonan Tak Bisa Tangkal Polutan PM 2.5

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Polusi terus mengepung Jakarta. Berbagai cara pun tengah dan akan diupayakan pemerintah untuk mengatasinya, termasuk dengan memperbanyak taman. Namun, benarkah cara ini bakal menangkal polusi secara signifikan? Dan seberapa tinggi polusi di ibu kota kini?

kumparan bersama ahli lingkungan Ivan Steven Jayawan berkeliling ke beberapa area di Jakarta untuk mengetahui ketebalan polusi di masing-masing tempat. Ivan adalah sarjana teknik lingkungan dari Nanyang Technological University, Singapura; juga magister dan doktor teknik lingkungan dari University of Michigan, Amerika Serikat.

Berbekal alat sensor kualitas udara berbasis laser, kami mengecek kadar polusi di area jalanan (kawasan Sudirman), ruang terbuka hijau (Taman Puring di Kebayoran Baru), dan perkantoran di dekat permukiman padat penduduk (Pasar Minggu).

Tonton hasil uji polusi tersebut dalam video berikut:

video youtube embed

Ada dua hal penting yang didapat dari pengujian tersebut:

  • Ruang terbuka hijau tidak bebas polusi meski dilingkupi lebih banyak pepohonan, sebab pepohonan tidak dapat menyerap polutan PM 2.5 seperti yang ia lakukan terhadap karbon dioksida dalam proses fotosintesis.

  • Kualitas udara di dalam ruangan tidak berbeda jauh dengan di luar ruangan karena udara di dalam ruangan juga berasal dari luar ruangan.

embed from external kumparan

Peneliti Ahli Utama BRIN Prof. Muhayatun Santoso mengingatkan, polusi udara bukan hanya tebal pada siang hari. Malahan, polusi cenderung lebih pekat di malam hari karena adanya inversi termal—fenomena yang menyebabkan suhu udara lebih dingin pada malam hari.

“Inversi termal terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat terperangkap di atas lapisan udara yang lebih dingin di permukaan bumi. Hal ini mengakibatkan dispersi (penyebaran) polutan udara terhalang, sehingga pada malam hari terjadi akumulasi polutan di permukaan mengakibatkan kualitas udara yang lebih buruk,” terang Muhayatun.

embed from external kumparan

Pada akhirnya, menurut Muhayatun, waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan kualitas udara tergantung pada tindakan yang diambil, apakah efektif dan tepat sasaran atau tidak.

Polusi udara mengepung Monas di Jakarta Pusat, Selasa (25/7/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan