kumparan
29 Agustus 2018 17:38

Video Sweeping #2019GantiPresiden di Surabaya Beredar

Kombes Pol Rudi Setiawan (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)
Video sweeping sebuah kelompok warga terhadap pengendara motor berkaus hitam bertuliskan #2019GantiPresiden beredar di media sosial. Peristiwa itu diduga terjadi pada hari Minggu (26/8) saat deklarasi itu berujung bentrok di Surabaya.
ADVERTISEMENT
Saat dikonfirmasi soal video itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan menyatakan bahwa kasus pembubaran deklarasi tersebut sudah selesai. Tidak ditemukan laporan lebih lanjut, termasuk aksi sweeping seperti yang ada di video.
"Kok bahas itu lagi. Wong sudah lewat kok. Keadaan sudah kondusif kok. Masyarakat sudah aman damai. Enggak ada laporan," terang Rudi saat dihubungi kumparan, Rabu (29/8).
Suasana aksi 2019GantiPresiden, Minggu (26/8/2018) (Foto: Dok. Polda Jatim)
Rudi mengharap, tidak ada pihak lain yang kembali memprovokasi terkait peristiwa tersebut. Dia mengajak seluruh warga Surabaya khususnya untuk menciptakan kondisi yang kondusif.
"Kita cari solusi aja lah. Kita jangan membangkitkan lagi kenapa begitu begini. Surabaya sudah kondusif. Kita masing-masing menjaga diri dan tidak mengarah ke sana lagi," tegasnya.
"Saya dan semua pihak mari kita lanjutkan program Jogo Suroboyo. Kita ikuti semua tahapan pilpres yang dijamin undang-undang," jelas dia.
Suasana aksi 2019GantiPresiden, Minggu (26/8/2018) (Foto: Dok. Polda Jatim)
Terpisah, Ahmad Zazuli, S.Sos Selaku Koordinator Aliansi Cinta NKRI Jawa Timur menanggapi, pihaknya tidak pernah memerintahkan atau melakukan sweeping seperti itu. "Kami mengedepankan aksi damai dan doa bersama, konvoi santun dan tetap tertib kalau yang lain saya kurang tahu," ucap dia.
ADVERTISEMENT
Pria yang karib disapa Cak Djaz itu mengatakan, aksi tersebut banyak menuai penolakan dari sejumlah elemen di Surabaya.
"Karena hari Minggu itu banyak sekali elemen yang tergabung. Seperti kita ketahui seluruh elemen masyarakat Surabaya memang sudah menyatakan bahwa menolak kedatangan gerakan tagar yang digelar di Surabaya. Karena dianggap agenda pertemuan yang sarat provokasi," tutup dia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan