kumparan
13 Agustus 2019 18:53

Wali Kota Airin Evaluasi Proses Latihan Paskibraka Tangsel

Konferensi pers di Mako Polres Tangsel, terkait kasus anggota paskibraka yang meninggal
Konferensi pers di Mako Polres Tangsel, terkait kasus anggota paskibraka yang meninggal. Foto: Andesta Herli Wijaya
Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany, mengatakan pihaknya telah menjalankan evaluasi dan akan terus memantau proses pelatihan Paskibraka. Hal ini menyusul kematian salah seorang anggota Paskibraka Tangsel yang merupakan siswi SMA Islam Al Azhar BSD, Aurelia Qurrata Ain, pada 1 Agustus lalu.
ADVERTISEMENT
“Setelah kejadian ini kami melakukan evaluasi. Jadi kita minta bahwa setiap pagi sebelum proses latihan, selalu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Setelah selesai latihan, saya minta juga dari Dinas Kesehatan untuk melakukan pengecekan. Dan juga asupan gizinya seperti apa,” ungkap Airin saat konferensi pers di Mako Polres Tangsel, Selasa (13/8).
“Karena bagaimanapun, berlatih bagi anak-anak kita yang berusia sekitar 15 tahun, butuh konsentrasi yang sangat luar biasa,” imbuhnya.
Jumpa pers ini dihadiri oleh Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan, Komisioner KPAI Jasra Putra, dan pemerhati anak, Kak Seto.
Banyak spekulasi dari publik yang muncul seiring kasus kematian Aurelia. Hal itu karena menganggap latihan Paskibraka terlalu berat dan seringkali disertai dengan hukuman fisik yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
Hal itu lantas direspons Airin. Menurutnya, dalam kasus Aurelia, tidak ada unsur kekerasan fisik yang ditemukan. Namun, ia membenarkan adanya bentuk-bentuk pendisiplinan berupa hukuman yang keras dan memberatkan siswa/i anggota Paskibraka.
Konferensi pers di Mako Polres Tangsel, terkait kasus anggota paskibraka yang meninggal
Konferensi pers di Mako Polres Tangsel, terkait kasus anggota paskibraka yang meninggal. Foto: Andesta Herli Wijaya
Salah satu bentuk hukuman tersebut adalah perobekan buku diary. Soal ini sempat ramai diberitakan. Pasalnya, para pelatih Paskibraka dikabarkan mewajibkan semua anggota Paskibraka untuk menulis diary setiap harinya. Lalu, ketika ada salah satu anggota yang tidak menulis diary, si pelatih lantas merobek diary anggota-anggota lainnya.
“Ini yang kita terus evaluasi. Masukan-masukan itu yang akan kita lihat apakah penting melakukan, misalnya, akibat dari kesalahan atau beberapa anak sehingga akhirnya beberapa anak dihukum,” Airin mencontohkan.
Salah satu bentuk evaluasi itu, kata Airin, yaitu dengan melakukan klasifikasi terhadap para Purna Paskibraka Indonesia yang biasanya terlibat dalam proses pelatihan. Ia menyebut akan membatasi siapa saja yang layak menjadi pelatih, siapa yang sebaiknya menjadi pendamping bagi siswa/i selama masa pelatihan.
ADVERTISEMENT
“Ke depannya kita akan melakukan training of trainer. Bahwa tidak semuanya Purna Paskibraka sebagai senior yang pernah ikut pengibaran bendera, akan melakukan pelatihan,” ujar Airin.
“Jadi mana fungsi Purna Paskibraka sebagai senior, sebagai kakak asuh, untuk menciptakan desa bahagia di training center. Maupun juga sebagai pelatih yang tentunya harus memiliki skill, kemampuan, dan pengetahuan, sehingga bisa memberikan pelatihan dengan benar,” tandasnya.
Karangan bunga di kediaman Aurellia Qurrota Ain
Karangan bunga di kediaman Aurellia Qurrota Ain di Komplek Taman Royal 2 Kota Tangerang , anggota Paskibraka Tangsel yang meninggal dunia. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan
Dalam jumpa pers itu, Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan mengatakan bahwa ada sejumlah tindakan pendisiplinan dari para pelatih Paskibraka dalam melatih Aurelia dan siswa/i Paskibraka lainnya, yang menurutnya memberatkan siswa/i. Hal itu diduga faktor awal pemicu melemahnya fisik Aurelia, hingga kemudian terakumulasi dan menyebabkan ia sakit dan meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Ferdy mengatakan, pola pelatihan itu perlu dievaluasi, untuk mengetahui seberapa efektif pola pelatihan yang telah berjalan selama ini.
“Terhadap pola-pola pelatihan untuk meningkatkan disiplin yang mungkin dirasakan berat, ke depannya sudah ada komitmen dari Wali Kota untuk diperbaiki, untuk diharapkan jangan sampai ada terjadi beban terlalu berlebihan bagi siswi,” ucap Ferdy.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan