kumparan
3 November 2019 8:47

Wamenag soal Sebutan Manipulator: Jokowi Ingin Pemahaman Agama Benar

PTR, Wamen Agama Zainud Tauhid dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmavati di acara Jalan sehat HUT ke-55 Parisadha Buddha Dharma NSI
Wamen Agama Zainud Tauhid dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmavati di acara Jalan sehat HUT ke-55 Parisadha Buddha Dharma NSI. Foto: Rafyq Alkandy /kumparanAhmad Panjaitan
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid menjelaskan maksud Presiden Jokowi ingin mengubah sebutan untuk orang yang menjalankan paham radikal dalam beragama menjadi manipulator agama. Usulan itu dilontarkan karena Jokowi ingin masyarakat Indonesia bisa memahami agama secara benar.
ADVERTISEMENT
"Saya kira itu yang harus dipahami adalah semangat Bapak Presiden memahami agama itu dalam konteks yang benar," kata Zainud di Kantor Kemenag, Jakarta, Minggu (3/11).
Menurut Zainut, Jokowi merasa praktik agama yang benar pasti akan menebar kasih sayang dan kedamaian. Pemikiran yang memecah belah dianggap sebagai hasil dari pemahaman agama secara keliru.
Zainut juga merasa istilah untuk orang yang dipandang menyerukan permusuhan atas nama agama tidak perlu jadi perhatian. Publik diharapnya fokus dengan cara melawan pemikiran tersebut.
"Apapun istilahnya apakah itu manipulator agama atau perusuh agama, perusuh yang menciptakan situasi yang bisa menceraiberaikan bangsa Indonesia, itu harus kita tolak bersama," kata Zainut.
Zainut Tauhid
Zainut Tauhid Foto: Fadjar Hadi/kumparan
Kata manipulator agama pertama kali dilontarkan Jokowi saat menggelar rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, dan beberapa menteri yang berada dalam koordinasi kementerian itu.
ADVERTISEMENT
"Harus ada upaya serius untuk mencegah meluasnya, apa yang sekarang ini banyak disebut, radikalisme. Atau mungkin, apakah ada istilah lain yang bisa kita gunakan? Misalnya manipulator agama," kata Jokowi di rapat terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (31/10).
Namun Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais tidak setuju dengan usulan Jokowi. Dia meminta Jokowi lebih bijaksana dalam menggunakan istilah.
"Mestinya Pak Presiden juga lebih arif, lebih bijaksana untuk menggunakan kosa kata, memilih terminologi. Semangat ukhuwah (persaudaraan) apa pun yang kita lakukan untuk membawa ukhuwah itu lebih kita kedepankan daripada semangat untuk mempertahankan atau merasa yang paling benar," kata Hanafi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (1/11)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan