kumparan
News2 Oktober 2018 14:14

Warga Antre Lebih dari 24 Jam di Sejumlah SPBU Palu untuk Dapat BBM

Konten Redaksi kumparan
BBM, Bahan Bakar, Ngantre BBM, SPBU, Palu
Warga mengantre BBM di SPBU selama 4 hingga 5 jam untuk mendapatkan bahan bakar. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Beberapa daerah di Sulawesi Tengah masih porak-poranda usai dilanda gempa dan tsunami. Sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan parah, termasuk jembatan penghubung sarana transportasi.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, korban gempa di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah, kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya bahan bakar minyak (BBM). Di Palu, warga harus mengantre hingga 24 jam lebih untuk mendapatkan bahan bakar minyak di sejumlah SPBU yang tengah langka akibat kurangnya pasokan.
"Saya sudah antre sejak jam 10 pagi kemarin (Senin, 1 Oktober). Hari ini (Selasa, 2 Oktober), sudah mau jam 11 siang kami belum terlayani juga," kata Adip Ridwan, warga Jalan Kedondong, Palu, Selasa, seperti dilansir Antara.
BBM, Bahan Bakar, Ngantre BBM, SPBU, Palu
Warga mengantre BBM di SPBU selama 4 hingga 5 jam untuk mendapatkan bahan bakar. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Adip dan keluarganya saat ini mengungsi ke Birobuli, Palu Selatan, karena rumah keluarganya di Jalan Kedondong dan Palola rusak berat. Untuk memenuhi kebutuhan kendaraan dan penerangan listrik, Adip terpaksa harus mengantre di SPBU Tanah Runtuh.
ADVERTISEMENT
Adip menyebut, dari sejumlah SPBU di Kota Palu, hanya SPBU itu saja yang melayani penjualan dengan jumlah terbatas.
Selama mengantre, Adip dan ratusan pengantre lainnya terpaksa makan dan tidur di dekat SPBU. Sebab, kata dia, jika ia harus meninggalkan lokasi, dipastikan akan memulai antrean sedari awal.
BBM, Bahan Bakar, Ngantre BBM, SPBU, Palu
Pengisian BBM di SPBU Palu. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Menurutnya, antrean panjang tersebut terjadi lantaran pasokan BBM dari provinsi tetangga belum tiba sehingga pelayanan terhenti. "Kemarin katanya minyak akan tiba dari Gorontalo pukul 21.00 WITA. Informasi berubah lagi ke pukul 24.00 WITA. Tapi sampai menjelang siang ini minyak belum juga tiba," katan Adip.
Hal yang sama juga dirasakan Dirwan, warga Kabonena. Dia bahkan mengikuti antrean di SPBU sudah lebih dari 24 jam. "Kalau tidak ada BBM, maka kita tidak bisa makan, karena harus menyedot air untuk pakai masak dan mencuci. Dan itu memanfatkan bensin," paparnya.
ADVERTISEMENT
Serupa dengan Adip, Dirwan menyebut, warga korban gempa dan tsunami Donggala-Palu sangat membutuhkan BBM, khususnya jenis premium/pertalite untuk kebutuhan kendaraan dan penerangan. "Bahan bakar sekarang sudah menjadi bahan pokok. Tidak ada BBM kita tidak bisa jalan cari yang lain untuk kebutuhan di pengungsian," imbuhnya.
Kondisi SPBU di Palu
Warga membawa BBM di SPBU, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9). Gempa dan tsunami yang melanda wilayah Palu mengakibatkan kesulitan BBM. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Dirwan menuturkan, selain untuk mencari kebutuhan pokok selama di pengungsian, kendaraan juga digunakan untuk mengangkut sebagian barang-barang penting yang masih bisa diselamatkan ke tempat yang lebih aman. Pasalnya, sebagian rumah penduduk sudah rusak parah akibat amukan bumi.
"Harapan kami ke pemerintah bagaimana agar BBM bisa tersedia," ungkap Dirwan.
Gambar Udara Antrean di SPBU
Antrean di SPBU. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Pascagempa, seluruh SPBU di Kota Palu berhenti beroperasi. Sebagian besar SPBU terpaksa dibongkar warga dan mengambil BBM yang masih tersisa di tangki-tangki penimbunan di SPBU tersebut.
ADVERTISEMENT
Mereka menyiasati pengambilan BBM dengan menimba menggunakan wadah botol hingga menggunakan mesin penyedot, juga mengantre dengan membawa jeriken. Tiga hari setelah gempa, sebagian SPBU seperti Tanah Runtuh dan Maluku akhirnya melayani masyarakat dengan jatah yang terbatas.
---------------------
kumparan melalui platform kitabisa menggalang bantuan dana untuk disalurkan kepada para korban gempa dan tsunami Palu-Donggala. Bantuan akan disalurkan langsung kepada para korban sesuai kebutuhan.
Mari bantu saudara-saudara kita di Palu dan Donggala di sini atau dalam tautan berikut:
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan