kumparan
1 Mar 2018 19:12 WIB

Warga Puncak: antara Bahaya dan Harta

Video
Puncak memuntahkan geram dengan mengamblaskan tanahnya di beberapa titik sekaligus dalam satu hari, 5 Februari 2018. Ia menggerung minta diperhatikan, memohon bantuan untuk menghentikan laju penggundulannya. Hari itu, longsor menutup jalur utama menuju Puncak hingga dua pekan berikutnya. Ia seolah berkata, ‘Biarkan aku beristirahat sejenak’.
ADVERTISEMENT
***
Puncak dengan segala pemberian alamnya membuat para pengusaha tak tahan untuk tidak menanaminya dengan beton-beton. Itulah ladang uang mereka. Pondok-pondok singgah dan vila-vila mewah menjadi tempat peristirahatan istimewa karena dikelilingi pemandangan alam menyejukkan.
Pemerintah tak kurang dukungan. Wisata-wisata alam mempesona juga disiapkan agar daerah itu makin memikat. Pokoknya wahai orang ibu kota, tak usah susah-susah cari tempat berlibur. Sebab di Puncak yang dekat denganmu semua ada.
“Kita (Puncak) juga kan mau berkembang,” kata Ajat Rochmat Jatnika, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Bogor di kantornya, Cibinong, Selasa (27/2).
Alhasil, Puncak sukses menyedot ribuan pengunjung setiap akhir pekan, terutama--seperti yang menjadi targetnya--penduduk ibu kota. Mereka, meski harus menempuh kemacetan panjang berjam-jam, tetap rela ke Puncak tiap akhir pekan. Pergi Jumat, pulang Minggu. Lumayanlah untuk beristirahat sejenak dari kebisingan Jakarta.
Puncak Bogor (Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya)
Seperti kata Ajat, Puncak memang berkembang. Bukan cuma pengunjung yang memetik nikmat darinya tiap akhir pekan, tapi juga warga setempat yang melihat celah industri turisme sebagai sumber pekerjaan.
ADVERTISEMENT
Maka di pinggir jalan menuju Puncak, warung kopi sampai warung oleh-oleh berdiri menanti dihampiri. Sebagian warga juga mendapat upah dari menjaga vila-vila.
“Vila memang menjadi tambahan pendapatan untuk warga, tapi sebenarnya dalam jangka panjang mereka sendiri yang akan terkena dampak (negatif). Frekuensi longsor makin sering,” kata Ernan Rustiadi, Kepala Pusat Pengkajian, Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (P4W LPM IPB) kepada kumparan di Bogor, Kamis (15/2).
Ia menambahkan, “Dampak ekonominya memang baik, namun dampak lingkungannya makin tinggi. Semakin rentan, semakin bahaya.”
Efek negatif akibat pembangunan kalap di Puncak bukan cuma sekali terasa. Sebelum longsor terjadi awal Februari, longsor lain sebetulnya terjadi tiap tahun, namun tak mendapat porsi besar untuk disorot karena sebelumnya tak merenggut korban jiwa.
ADVERTISEMENT
Bukan cuma longsor, banjir juga menerjang kampung-kampung padat penduduk. Sungguh harga yang harus dibayar mahal untuk sebuah geliat ekonomi yang tak terencana matang.
“Sebagian penduduk tahu risikonya. Mereka menjaga vila yang tak sesuai dengan peruntukan lahan, tidak ada izinya. Tapi kan mereka juga mau dapat kerjaan dan uang,” kata Ernan, menggambarkan dilema yang dihadapi warga lokal.
Longsor di Daerah Puncak (Foto: Others/Dok.Polres Bogor)
Intaian bahaya bukan isalah jempol. Satu kampung, misalnya, terkepung oleh tak kurang dari 20 titik longsor. Kampung itu ialah Cibulao di Desa Tugu Utara, Cisarua.
“Jauhlah perbedaan (Puncak) dari tahun 1990-an ke 2018. Selang 24 tahun sudah mengkhawatikan kaya gini,” kata Hendi, warga kampung Cibulao, Selasa (20/2).
Sudah lima keturunan keluarga Hendi tinggal di Cibulao yang berada di tengah-tengah perkebunan teh milik PT Sumber Sari Bumi Pakuan. Seluruh kerabat Hendi juga turun-temurun menjadi petani teh di perkebunan SSBP itu.
ADVERTISEMENT
Hendi mengakui, warga kampungnya sendiri bukannnya tak punya andil sama sekali dalam penyusutan beberapa hektare lahan hutan.
Dulu, sebelum longsor menganga di depan mata seperti sekarang, para petani teh membuka hutan untuk dijadikan lahan tani, lalu mengambil kayu-kayunya untuk kayu bakar guna dipakai sendiri.
“Kan dulu belum ada gas. Listrik juga belum ada. Jadi pakai kayu bakar,” kata Hendi.
Menurutnya, warga kampung waktu itu membuka hutan karena terdesak masalah ekonomi. Sebab gaji petani teh jauh dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Selanjutnya saat gas dan listrik sudah masuk kampung, kebutuhan kayu bakar berkurang. Namun kebutuhan uang untuk membeli berbagai bahan kebutuhan pokok semakin besar. Belum lagi harga barang-barang yang kian mahal.
ADVERTISEMENT
“Warga akhirnya lari lagi ke hutan. Ambil kayu bakar, ambil burung, ambil pakis,” kata Hendi.
Hutan di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara (Foto: Tomy Wahyu Utomo/kumparan)
Aktivitas petani di hutan--yang terlarang--menunjukkan bahwa penjaga hutan tak berfungsi efektif, sebab mereka bisa kebobolan dengan mudah.
“Petani kan dilarang masuk ke kawasan hutan. Pada praktiknya orang kehutanan tidak mampu menjaga hutan. Lalu petani menebangi pohon karena mau mengambil manfaat hutan,” kata Ernan.
Akhirnya, pembukaan hutan oleh warga kampung untuk kegiatan berkebun, semakin lebar. Maka, bukan hanya hutan yang hilang. Pemanfaatan lahan hutan sebagai kawasan pertanian juga membuat kekuatan tanah makin lemah.
Pada dasarnya, Puncak memang kawasan hutan lindung yang difungsikan sebagai penyangga alam. Ia punya daya topang terbatas. Bebatuan di daerah itu pun, menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudi Suhendar, mudah longsor.
ADVERTISEMENT
Itu sebabnya Ernan bersama Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak akhirnya mencari solusi dengan mengajak masyarakat menanam kopi di lahan hutan yang sebelumnya terlanjur mereka buka, untuk dijadiikan kebun sayur.
Kenapa kopi? Karena tanaman kopi punya akar yang mampu mengikat tanah dengan lebih kuat daripada teh, apalagi sayur. Dengan demikian, ketahanan tanah yang terkikis akibat alih fungsi lahan dapat diperkuat kembali.
Selain itu, untuk menghasilkan kopi terbaik, tanaman kopi butuh naungan hutan yang sehat. Artinya, jika petani menginginkan kopi berkualitas tinggi, mereka harus menjaga hutan. Tak boleh lagi merambahnya.
Ilustrasi kebun kopi (Foto: Rina Nurjanah/kumparan)
“Kami memilih untuk menanam pohon yang bermanfaat bagi mereka. Karena kalau berguna bagi mereka kan akan mereka rawat,” kata Ernan.
Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak membagi ilmu cara merawat tanaman kopi kepada warga Puncak, tentang bagaimana menjadikan kopi sebagai komoditi bermutu yang dapat dipasarkan dengan harga mahal.
ADVERTISEMENT
Setelah dua tahun lebih berjuang, dengan puluhan kali penolakan warga, upaya konsorsium akhirnya berbuah manis. Warga menerima saran mereka begitu menyadari bahaya nyata di depan mata. Mereka ingin memperbaiki alam sekaligus menjaga perekonomian mereka.
Bahkan akhirnya, pada 2016 kopi Cibulao berhasil memenangi kompetisi kopi nasional sebagai kopi spesial terbaik. Beberapa tahun ke depan, kopi itu diharapkan dapat membuat Desa Cibulao mandiri.
Program-program semacam kopi Cibulao, ujar Ernan, harus melalui pengawasan berkelanjutan dengan mempertimbangkan banyak aspek di masyarakat. Tak bisa hanya aksi sehari yang lalu dilupakan.
“Tidak bisa hanya mengutak-utik rencana tata ruang tanpa melihat masyarakat di bawahnya,” tegas Ernan.
Kawasan Puncak untuk Apa (Foto: Chandra Dyah Ayuningtyas/kumparan)
------------------------
Ikuti isu mendalam lain dengan mengikuti topik Ekspose di kumparan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan