kumparan
24 Feb 2019 15:04 WIB

Wartawan di Purwokerto Kirim Sepasang Boneka Panda untuk FPI

Sejumlah peserta Malam Munajat 212 berdoa di lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, kamis, (21/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Anti-Kekerasan (Fo-JAK) Purwokerto, Jawa Tengah, mengirim paket berisi sepasang boneka panda berwarna merah muda untuk Front Pembela Islam (FPI), Minggu (24/2).
ADVERTISEMENT
Paket yang dikirim melalui Kantor Pos Purwokerto itu juga berisi kutipan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, serta buku berjudul Jurnalistik dan Kebebasan Pers karya Hamdan Daulay.
Tak hanya itu, mereka juga mengirim banner bertuliskan sikap penolakan antikekerasan, intimidasi, dan persekusi dalam bentuk apapun terhadap jurnalis yang sedang bertugas menjalankan peliputan, serta tulisan paket antikekerasan untuk FPI.
"Sepasang boneka panda warna 'pink' atau merah muda ini merupakan simbol tebarkan senyum kasih sayang dan perdamaian," kata Koordinator Fo-JAK Purwokerto, Agus 'Doer' Wahyudi.
Pengiriman paket untuk FPI itu menyikapi intimidasi, persekusi, dan kekerasan terhadap wartawan saat acara "Munajat 212" yang digelar di Monas pada Kamis malam (21/2). Sejumlah jurnalis mengalami kekerasan yang diduga dilakukan oleh massa.
ADVERTISEMENT
"Atas peristiwa yang terjadi tersebut, kami mengecam tindakan intimidasi dan kekerasan yang diduga dilakukan oleh massa dengan atribut FPI terhadap para wartawan yang melakukan peliputan," katanya.
Mereka juga meminta aparat berwenang untuk menangkap dan mengusut tuntas para pelaku agar ada efek jera, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali. Pernyataan sikap Fo-JAK Purwokerto itu sekaligus ditujukan untuk semua pihak agar menghormati kerja-kerja jurnalistik dari para jurnalis.
Sebelumnya, polisi telah menerima laporan yang dibuat oleh wartawan detikcom, Satria Kusuma, yang diduga menjadi korban kekerasan di acara ''Munajat 212''. Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Purwadi, mengatakan polisi masih mengejar pelaku dan mencari bukti-bukti terkait peristiwa tersebut.
“Ya masih (dikejar). Kan itu orang banyak indikasinya kan yang itu yang sesuai dengan yang diberitakan oleh itu (media),” kata Purwadi, Jumat (22/2).
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan