Waspada Erupsi Freatik Gunung Salak Pasca-Gempa Bogor
·waktu baca 3 menit

Pasca-gempa yang terjadi di Wilayah Pamijahan, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu berpotensi terjadi erupsi freatik di Gunung Salak.
Dilansir dari halaman resmi vsi.esdm.go.id, Gunungapi Salak merupakan salah satu Gunung api strato Tipe A dengan ketinggian ± 2210 mdpl. Secara administratif berada di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Erupsi terakhir G. Salak terjadi tahun 1938 berupa erupsi freatik dari Kawah Cikuluwung Putri. Sejak itu kegiatan terakhir hanya berupa lumpur di Kawah Ratu dan Kawah Hirup serta tembusan solfatara dan fumarol di Kawah Ratu.
Perkembangan aktivitas terkini Gunung Salak pasca terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 4,0 di Barat Daya Kota Bogor, pada Jumat (8/12) dini hari, adalah sebagai berikut:
Gempa Tektonik Lokal mengalami peningkatan jumlah gempa di atas 4 kali kejadian per hari pada tanggal 6 Desember 2023 sebanyak 8 kejadian. 7 Desember 2023 sebanyak 7 kali kejadian dan 8 Desember 2023 sebanyak 7 kali kejadian.
Pengamatan visual periode 1-9 Desember 2023, Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah selatan. Suhu udara sekitar 22-32°C.
Pengamatan kegempaan periode 1-9 Desember 2023, masih didominasi gempa Tektonik Jauh yang terekam sebanyak 31 kali kejadian dan gempa Tektonik Lokal sebanyak 22 kali kejadian. Gempa Vulkanik sebagai indikasi aktivitas Gunung Salak tidak terekam.
Meskipun dari kegempaan cenderung normal, namun tetap perlu diwaspadai terjadinya erupsi freatik, berupa semburan lumpur atau erupsi uap air (steam explosion) yang dapat terjadi tiba-tiba, pasca terjadinya kenaikan gempa Tektonik Lokal beberapa hari lalu.
Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat ada sebanyak 77 unit rumah mengalami kerusakan dengan korban yang terdampak sebanyak 77 KK dari 260 jiwa.
Kabid Kedaruratan dan logistik BPBD Kabupaten Bogor Adam Hamdani mengatakan peristiwa gempa bumi tersebut terjadi pada Jumat (8/12) pukul 02.00 WIB dengan magnitudo M 4,0.
"Kedalaman 5 km berdampak pada wilayah Kabupaten Bogor menyebabkan beberapa bangunan mengalami kerusakan," kata Adam dalam keterangannya, Senin (11/12).
Sementara, Bupati Bogor Iwan Setiawan akan menetapkan status siaga bencana, menurutnya, meski tak ada korban jiwa dalam gempa tersebut, namun dampaknya sangat luas.
"Ya harus (Status Bencana) biar bisa mencairkan BTT untuk perbaikan rumah di sini," ungkapnya.
Dia juga akan melakukan rehabilitasi atau perbaikan bagi rumah warga Pamijahan yang rusak akibat gempa tersebut.
"Insyaallah di akhir tahun kami masih bisa persediaan Biaya Tak Terduga (BTT). Saya dari kemarin sudah mengirimkan tim dari DKP untuk mengassessment biaya yang harus dinilai anggarkan," ujarnya.
