News
·
11 September 2020 8:39

Yang Perlu Kamu Tahu soal Relawan Vaksin Sinovac Terinfeksi Corona

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Yang Perlu Kamu Tahu soal Relawan Vaksin Sinovac Terinfeksi Corona (38813)
Ilustrasi positif terkena virus corona. Foto: Shutter Stock
Vaksin Sinovac yang rencananya akan menjadi salah satu 'penolong' dari pandemi --jika berhasil-- saat ini masih masuk di tahap uji klinis. Namun, di balik proses tersebut, rupanya ada cerita lain yang baru-baru ini menghebohkan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Seorang relawan yang telah disuntik vaksin Sinovac terinfeksi virus corona setelah pulang dari Semarang. Menurut Koordinator Uji Klinis Vaksin Corona Kusnandi Rusmil, relawan tersebut bukan positif karena disuntik vaksin, namun karena jalan-jalan ke Semarang.
"Positifnya bukan (dari vaksin). Kalau vaksin kan yang disuntiknya virus yang mati. Dia jalan-jalan ke Semarang," ucap Kusnandi.
"Kalau di masyarakat memang kalau positif pertama kali itu enggak boleh ikut, tapi pemantauan itu kalau dia positif dari mana-mana kita ulang, cuman kita pantau," lanjutnya.
Saat itu, kata Kusnandi relawan tersebut baru disuntik pertama kali dan pergi. Namun, begitu pulang, ia justru ketahuan positif COVID-19.
"Jadi dia udah disuntik pertama kali kemudian pergi, pas pulang dicek lagi swab-nya positif," kata dia.
ADVERTISEMENT
Ia berharap, meski pun sudah disuntik vaksin, namun sebaiknya para relawan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Apalagi, seharusnya, relawan vaksin corona tidak boleh ke luar kota dan diwajibkan menjaga kondisi tubuh dan imunitas. Jika terpaksa pergi ke luar kota, apalagi ke daerah zona merah, mereka wajib lapor ke tim pengawas.
Info ini juga sudah didengar oleh Dinkes Kota Semarang. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam, menduga relawan tersebut terkena COVID-19 karena vaksinasinya belum sempurna.
"Katakanlah vaksin ini efektivitasnya hanya 98 persen dan memiliki kemungkinan 2 persen untuk gagal. Dalam konteks ini yang bersangkutan mungkin masuk dalam kategori 2 persen yang gagal itu," kata Hakam melalui pesan singkat, Kamis (10/9).
ADVERTISEMENT
"Apalagi terapi vaksinasi yang diberikan belum sempurna, baru satu kali," terangnya.
Agar tidak semakin menimbulkan kegaduhan, Hakam meminta agar relawan tersebut di-tracing dengan benar. Mulai dari ke mana saja ia pergi selama 14 hari hingga siapa saja yang dia temui.
"Dicek juga 14 hari sebelumnya yang bersangkutan pergi ke mana selain Semarang, termasuk jalur apa yang ditempuh karena bisa jadi penularannya lewat situ. Apalagi jika menggunakan jalur darat, faktor risiko selalu ada," tandasnya.
***
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona