kumplus lipsus yang tercecer dari 1998

Yang Tercecer dari 1998 (1)

24 September 2021 20:01
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
ADVERTISEMENT
Kekerasan Rasial 1998 adalah salah satu lembaran paling hitam dalam sejarah bangsa Indonesia. Menurut laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), ada 1.308 korban jiwa, termasuk 564 orang yang dibakar hidup-hidup, dalam peristiwa yang memuncak pada 13-15 Mei 1998 ini. Dan para korban, kita tahu, sebagian besarnya beretnis Tionghoa.
ADVERTISEMENT
Selain pembunuhan, ada pula penjarahan, penghancuran rumah dan toko, serta perkosaan terhadap para perempuan Tionghoa. Ita Fatia Nadia, mantan Direktur Kalyanamitra, organisasi yang memperjuangkan kesetaraan perempuan, mengaku menerima hampir 200 laporan perkosaan, dengan 189 laporan terverifikasi, pada hari-hari tersebut.
Kini, 23 tahun setelah kejahatan besar-besaran itu, jurnalis pemenang penghargaan Faisal Irfani menelusuri kembali jejak-jejaknya.
Faisal menemui belasan penyintas Kekerasan Rasial 1998 dan menyampaikan kembali kisah-kisah mereka. Bukan untuk menyingkap jalinan kusut akar tragedi tersebut--perlu usaha mahabesar untuk melakukan itu, dan tentu bukan pula sekadar mengorek-ngorek luka lama. Lewat laporan-laporannya yang hari ini ditayangkan oleh kumparan+, Faisal mengingatkan kita semua bahwa ada kenyataan yang tercecer dari 1998: waktu tidak menyembuhkan segalanya.
ADVERTISEMENT
Trauma, dan segala persoalan yang terlahir darinya, perlu diangkat ke permukaan, dibicarakan dari berbagai segi, agar terpahami oleh sebanyak mungkin orang Indonesia, lebih-lebih jika keadaan masih seperti sekarang: para penyintas tak kunjung memperoleh keadilan.
Faisal Irfani memusatkan perhatiannya kepada dua perkara. Yang pertama, bagaimana trauma terhadap Kekerasan Rasial 1998 membentuk kecenderungan cukup banyak warga Indonesia beretnis Tionghoa dalam membangun rumah: tertutup dan berpagar tinggi.
Kisah yang dibangun dari kesaksian delapan penyintas ini dituturkan dengan tangkas, bergerak dari satu ke lain peristiwa, dan pada saat yang bersamaan menjelaskan sebuah fenomena sosial yang mudah dijumpai tetapi masih sering tidak dipahami.
Anda dapat membaca selengkapnya di sini: "Trauma dalam Rumah."
Cerita kedua berangkat dari sudut yang berbeda. Faisal menyampaikan bagaimana Kekerasan Rasial 1998 memadamkan kehangatan di ruang makan sebuah keluarga. Tetapi kisah ini tak melulu pahit, sebab pada akhirnya, orangtua dan anak yang--meminjam kata-kata penyair Joko Pinurbo--"berjihad melawan trauma" itu sanggup menyalakan kembali nyala yang sudah dirampas dari mereka, juga mulai dari ruang makan keluarga.
ADVERTISEMENT
Anda dapat membaca selengkapnya di sini: "Bubur Babi Kecap Asin"
Kedua laporan memikat tersebut diperkaya dengan video, juga foto-foto karya Bhagavad Sambadha serta para jurnalis foto kumparan. Jadilah pelanggan kumparan+ sekarang untuk membaca laporan khusus ini dan ratusan konten berkualitas lainnya.
Liputan khusus: "Yang Tercecer dari 1998." Ilustrasi: Dian Intan: kumparan+
zoom-in-whitePerbesar
Liputan khusus: "Yang Tercecer dari 1998." Ilustrasi: Dian Intan: kumparan+
Konten Premium kumparanplus
23 tahun setelah Kekerasan Rasial 1998, banyak orang Tionghoa masih ketakutan, bahkan ketika berada di dalam rumah. Jurnalis pemenang penghargaan Faisal Irfani menuturkan kisah-kisah mereka. Klik artikel di bawah ini untuk membaca selengkapnya.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten