kumparan
8 Desember 2019 17:40

Zulhas: Jualan Isu Penista Agama, PAN Malah Peringkat 8 Pilpres

PTR, Zulkifli Hasan, Rakernas V PAN
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan saat Rapat Kerja Nasional Partai Amanat Nasional Tahun 2019 di Millennium Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu (7/12). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menilai jualan 'surga neraka' yang diterapkan saat Pilpres 2019 sudah tak lagi relevan. Pasalnya, menurut Zulhas --panggilan Zulkifli--, masyarakat lebih membutuhkan isu soal kebijakan yang manfaatnya bisa dirasakan secara langsung.
ADVERTISEMENT
"Jadi bukan jualan agama yang diharapkan, tapi kebijakan apa yang berdampak, yang bisa ditawarkan kepada masyarakat," kata Zulhas di penutupan Silatnas dan Milad ICMI di Padang, dilansir Antara, Minggu (8/12).
Ia memberikan contoh, pada saat Pilpres 2019, PAN cukup gencar mengangkat isu soal agama. Namun, perolehan partainya justru turun ke peringkat 8 dengan perolehan 6,84 persen. Padahal, di Pemilu 2014, PAN berhasil mengantongi posisi 6 dengan perolehan 7,59 persen.
"Buktinya, ketika menjual isu penista agama, tidak seiring dengan hasil pemilu, perolehan suara partai saya, PAN, malah di urutan ke delapan," imbuhnya.
Zulkifli Hasan, Rakernas V PAN
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan saat Rapat Kerja Nasional Partai Amanat Nasional Tahun 2019 di Millennium Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu (7/12). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Artinya, menurut Zulhas, publik lebih memilih sosok yang bisa memberikan penawaran kebijakan yang berdampak langsung. Apalagi, di Pilpres 2019, merupakan pertama kalinya pileg digelar serentak dengan pilpres.
ADVERTISEMENT
"Ada banyak pelajaran penting dan hebatnya perjuangan yang begitu heroik dengan menjual isu agama, akhirnya capres yang satu sekarang sudah menjadi Menteri Pertahanan, itulah politik yang harus diambil pelajaran karena akhirnya adalah kepentingan," kata dia.
Untuk itu, Zulhas mengajak seluruh pihak untuk bersatu memajukan negara ini tanpa melepaskan sikap kritis dalam mengontrol pemerintahan. Selain itu, ia juga meminta ICMI memberikan pendidikan politik yang cukup bagi masyarakat.
"Sebagai organisasi yang berisi para cendekiawan, ICMI harus mengambil peran lebih strategis dan tidak cukup hanya berteriak-teriak saja karena akan kalah dengan ormas yang begitu banyak," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan