kumparan
Otomotif27 Februari 2020 16:59

5 Tips Sebelum Membeli Sepeda Motor Tua Restorasi

Konten Redaksi kumparan
Honda Astrea Prima, Restorasi motor, motor bekas, otomotif
Honda Astrea Prima tahun 1990. Foto: Bagas Putra Riyadhana
Motor jadul--jaman dulu--sering berakhir menjadi rongsokan dan barang loak. Namun, beberapa orang lantas melihat peluang bisnis, dengan merestorasinya dan dijual dengan harga tinggi.
ADVERTISEMENT
Seperti misalnya motor Yamaha 125Z tahun 2000, yang beberapa waktu lalu di jual di Batam seharga Rp 94,2 juta. Iya sampai seharga mobil bekas bahkan.
Pemilik bengkel restorasi DnF Speedshop Batam, Diky Wachyu Bintoro mengatakan, munculnya banyak motor tua dan motor klasik yang direstorasi, karena permintaan pasar yang tinggi. Iya khususnya dari kalangan yang ingin bernostalgia dengan motor jadul idamannya.
"Kenapa motor lama sekarang booming lagi kalau saya melihat generasi tahun 80 hingga 90-an posisinya sudah pada kerja dan mapan. Jadi impian mereka waktu zaman kecil yang tidak kebeli, mereka realisasikan sekarang, makanya motor lama sekarang naik lagi," kata Diky saat dihubungi kumparan beberapa waktu lalu.
Namun, buat yang berminat meminang motor jadul hasil restorasi, jangan sembarangan. Nah Diky coba memberikan tips yang harus diperhatikan sebelum membelinya.
ADVERTISEMENT

1. Pelajari Sejarah dan Detail Suku Cadang

Rantai Sepeda Motor
Ilustrasi rantai sepeda motor. Foto: dok. Istimewa
Sebelum membeli motor tua, pastikan perbanyak referensi soal detail penting motor yang akan dibeli, mulai dari sejarah dan detail suku cadang agar terhindar dari penipuan. Ini penting karena motor lawas memiliki karakter berbeda dari motor masa kini yang banyak tidak diketahui.

2. Ajak Penjual Bertemu Langsung

LIPSUS, Tren Sneakers Lokal, Ilustrasi transaksi
Ilustrasi transaksi. Foto: Getty Images
Menurut Adrian, pecinta motor cub lawas asal Tangerang, jika ingin membeli motor bekas lebih baik ajak penjual bertemu langsung. Pembeli juga harus mengetahui karakter dan kekurangan motor.
"Sekarang banyak motor dijual di e-commerce, kita cuma bisa lihat dari foto tidak bisa menjamin, jadi paling aman bisa ketemu muka, kita ngobrol sejarahnya motor dan tahu kekurangannya," kata Adrian.
ADVERTISEMENT

3. Jangan Tergiur Harga Murah

com-Ilustrasi meminjam uang.
com-Ilustrasi kesepakatan transaksi. Foto: Shutterstock
Istilah 'ada harga, ada kualitas' harus diperhatikan saat akan membeli motor tua. Dengan harga murah, komponen motor belum tentu dalam kondisi bagus dan asli. Ini juga berlaku pada kelengkapan surat-suratnya.
"Jangan tergiur harga murah, motor tua kan spare partnya susah nyarinya, tapi nanti babak belur ongkos perbaikannya juga lumayan. Lihat kebutuhan juga, motor akan dipakai untuk harian atau sekadar pajangan," ujar Diky.

4. Periksa Kondisi Mesin, Rangka, dan Kaki-kaki

Honda Astrea Prima, Motor Bekas, Restorasi,
Honda Astrea Prima tahun 1990. Foto: Dok. Adrian Yudi
Diky menyebut, kondisi mesin dan rangka motor tua lebih penting karena faktor perawatan yang minim dari pemilik sebelumnya justru bisa menambah biaya perbaikan.
"Kalau saya fokus ke mesin, rangka, dan kaki-kaki dibanding bodi. Bodi ibaratnya kita cat ulang, dipoles lagi gampang. Tapi kita bicara mesin motor tahun 90-2000-an yang suku cadangnya susah. Pastikan apakah waktu kita naikin motor itu performa mesin bagus, masih stabil, tidak goyang," jelasnya.
ADVERTISEMENT

5. Kelengkapan Surat dan Pajak

Samsat Cinere
STNK milik Ari Prasetio. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
Diky mengaku banyak menemukan kasus ketika motor tua yang akan dia beli ternyata dalam kondisi pajak mati hingga 8 tahun.
"Saya temukan kasus motor yang dari tahun 2000, motor itu rusak terus pemiliknya mencari spare part tapi tidak ketemu, akhirnya motor itu diamkan saja di gudang. Pas mau direstorasi ternyata baru inget pajaknya udah mati lama," kisahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menanyakan surat-surat kendaraan, seperti STNK dan BPKB. Perhatikan juga nomor rangka dan nomor mesin sesuai.
"Makanya yang penting ada surat-suratnya. mesti dilihat juga motor-motor lama kesesuaian STNK dan BPKB dengan nomor rangka dan nomor mesin," tuturnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan