Otomotif
·
21 Mei 2019 17:40

Honda 'Sangsi' Motor Listrik GESITS Laku 1.200 Unit

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Honda 'Sangsi' Motor Listrik GESITS Laku 1.200 Unit (51393)
Pengunjung IIMS 2019 jajal sepeda motor listrik GESITS Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Skuter listrik nasional GESITS berhasil menjual 1.200 unit motornya selama 10 hari, di gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS ) 2019. Ini jadi rekor baru penjualan motor listrik mencapai ribuan unit.
ADVERTISEMENT
Konsumennya sendiri kata CEO GESITS Technologies Indo (GTI) Harun Sjech tak hanya dari perorangan tapi juga perusahaan atau pemesanan fleet.
Menanggapi kesuksesan tersebut, Direktur Pemasaran PT AHM, Thomas Wijaya tak merespon banyak. Hanya saja dirinya menyebut, kalau dirinya tak bisa mengomentari soal jumlah penjualan skuter listrik tersebut.
“Konsumen 1.200 unit ada datanya tidak siapa saja pembelinya? Ya mengenai angka kami belum bisa konfirmasi ya angka itu,” tutur Thomas, Senin (21/5).
Honda 'Sangsi' Motor Listrik GESITS Laku 1.200 Unit (51394)
Sepeda motor listrik GESITS Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Ketika ditanyakan apakah AHM meragukan angka penjualan tersebut? Thomas hanya menjawabnya normatif.
“Ya tidaklah, kan mereka memiliki data customer seperti itu ya silahkan saja sih,” ucapnya.

Kesiapan Masyarakat

Soal kesiapan masyarakat akan sepeda motor listrik, Thomas mengungkapkan pihaknya masih dalam tahap mempelajari. Hingga saat ini dirinya belum bisa memberikan kesimpulan apa-apa.
Honda 'Sangsi' Motor Listrik GESITS Laku 1.200 Unit (51395)
Honda PCX Listrik. Foto: Ghulam Muhammad Nayazri / kumparanOTO
“Kami belum lihat ke sana. Datanya juga tadi kan belum, penggunaan di jalan, swap battery-nya, sepertinya kami masih masih pelajari itu dengan PCX elektrik kami ini,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
Honda juga belum berencana untuk memperluas riset, dengan langsung menyewakannya kepada masyarakat lewat aplikasi --seperti Migo Ebike. Mereka masih bertahan pada konsep awal penyewaan, lewat transaksi business-to-business atau B2B.
Walaupun sampai saat ini --sejak diperkenalkan pada Januari 2019-- belum ada satupun perusahaan yang teken kontrak kerjasama. Bila meminjam istilah Thomas, ‘masih dalam penjajakan.’