kumparan
3 Desember 2019 11:15

Pajak Moge Jadi Penyebab Benelli Belum Bangun Pabrik di Indonesia

Benellli Motor
Motor besar dari Benelli Foto: dok. Istimewa
PT Benelli Motor Indonesia (BMI) hingga saat ini belum memiliki pabrik perakitan sendiri di Indonesia. Meski begitu, segala peluang masih terbuka lebar melihat eksistensi dan semangat dari Benelli, buat terus bersaing dengan para kompetitornya di Tanah Air.
ADVERTISEMENT
Namun, buat merealisasikan keinginan tersebut, PT BMI sebagai agen pemegang merek Benelli di Indonesia masih menemui beberapa masalah. Ya, salah satunya adalah regulasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), terkhusus kendaraan roda dua di atas kubikasi mesin 250 cc.
“Kami sebagai Benelli Motor Indonesia tetap punya obsesi, keinginan (membangun pabrik). Mereka Geely (prinsipal Benelli Global) investasi di sini melihat peluang pasar Indonesia yang besar. Belum lama ini, kami (BMI) juga melakukan feasibility, dengan para konsultan lain,” ucap Steven Kentjana Putra, Direktur PT BMI usai setelah peluncuran produk baru di IIMS MotoBike Expo 2019.
Benelli di IIMS Motobike 2019
Benelli di IIMS Motobike 2019 Foto: Bangkit jaya putra/kumparan
Steven menyebutkan, regulasi dan kebijakan pemerintah Indonesia terhadap motor bermesin di atas 250 cc cukup memberatkan. “Seperti yang teman-teman ketahui, regulasi di negara tercinta kita ini, kalau dibandingkan dengan negara tetangga, agak susah untuk motor di atas 250 cc,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Masih dijelaskan Steven, dengan regulasi PPnBM yang diterapkan pemerintah saat ini, membuat harga motor Benelli di Indonesia tak lagi punya nilai yang kompetitif. Padahal menurutnya, Benelli adalah solusi kendaraan kompetitif bagi konsumen. Nah, jika membangun dan melakukan produksi di pabrik sendiri, menurutnya tak akan berdampak signifikan.
“Orang-orang dari negara lain kalau lihat harga motor 250 cc kita (keseluruhan) merasa ketinggian. Ya, jadi harga juga tidak masuk. Benelli Imperiale 400 di India kalau tidak dihitung PPnBM, kaya di sini mungkin Rp 30 juta. Di Indonesia saya harus hitung semua PpnBm, contoh motor di atas 500 cc, 125 persen kita kali 75 persen, jadi 91 persen pajaknya,” ungkap Steven.
Kemacetan di kawasan proyek flyover Lenteng Agung-IISIP
Sejumlah kendaraan memadati kawasasan proyek flyover Lenteng Agung-IISIP di Jakarta, Selasa (19/11). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Hingga saat ini, Steven mengatakan Geely masih dalam tahap mempertimbangkan Indonesia, sebagai salah satu negara tujuan investasi untuk kawasan Asia Tenggara. Kemungkinan terbuka lebar, mengingat Indonesia adalah pasar tergemuk ketiga di dunia, dengan total penjualan motor, rata-rata enam juta unit per tahunnya.
ADVERTISEMENT
“Masalah investasi memang dia (Geely) belum putuskan, waktu itu memang ada pilihan Indonesia, Thailand, sama Malaysia,” imbuhnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan