Kumparan Logo
OTOHITZ-Test Ride
OTOHITZ-Test Ride

Ulasan Lengkap Honda Genio, Layak untuk Motor Harian?

kumparanOTOverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Test ride Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Test ride Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

PT Astra Honda Motor (AHM) kembali berusaha mengukuhkan dominasinya atas motor matik 110 cc dengan menghadirkan Genio.

Genio yang secara posisi berada di antara BeAT dan Scoopy ini, menawarkan diferensiasi lewat desain dan fitur yang boleh dibilang agak nanggung.

Honda Genio tampak samping Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Dibangun atas rangka baru, serta dapur pacu hasil pengembangan mesin 110 cc yang dimiliki Honda, Genio disebut-sebut punya feeling berkendara yang berbeda ketimbang BeAT, juga catatan konsumsi bahan bakar yang lebih baik.

Benarkah demikian? Cari tahu jawabnya dalam catatan test ride Honda Genio khas kumparan berikut.

Posisi berkendara

Posisi duduk Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Honda Genio punya tinggi jok 740 mm, persis tingginya seperti BeAT. Yang membuat postur saya dengan tinggi 171 cm bisa membuat kedua kaki menapak sempurna.

Dek Honda Genio muat ukuran sepatu 44 Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Posisi berkendaranya seperti mengingatkan akan Honda Vario generasi pertama. Rasanya ergonomis, setang tidak begitu rendah juga tinggi, artinya pas dengan perawakan saya.

Masih soal setang, ternyata cukup lebar sehingga membuat tangan jadi lebih sedikit terbuka.

Posisi tangan Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Handling beda dari BeAT

Karena setangnya tadi, membuat handling lebih mudah dilakukan. Dalam artian meliuk-liukan di kemacetan atau melaju di gang sempit jadi lebih mudah dilakukan.

Test ride Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Meski begitu karena Honda punya ciri khas spion model yang 'caplang', tentu membuat Anda harus beradaptasi lagi soal ukuran lebar si motor. Sebab bila melalui celah antar mobil, ada rasa was-was spion bakal menyenggol spion atau body mobil.

Kemudian, andai ban bawaan Genio punya profil yang membulat juga sedikit lebar, bukan mengotak dan tinggi ini, tentu menambah handling lebih nyaman lagi.

Bagian buritan Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Padahal rangka eSAF (Enhanced Smart Architecture Frame) yang serupa monokok, ringan, serta minim sambungan seperti yang dimiliki Vespa sudah mumpuni untuk handling yang lebih rigid.

Selebihnya soal suspensi, profilnya persis seperti BeAT, depan tentunya empuk, namun belakang di-setting tidak keras juga tidak empuk.

Test ride Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Tenaga mesin kurang responsif

Benar kurang responsif. Tapi tunggu dulu, ini karena rombakan jeroan mesin karena ukuran stroke yang lebih panjang, membuat tenaga bawahnya kurang terasa.

Mesin Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Alhasil penyaluran tenaga seperti tertahan alias ngeden meski gas sudah dipuntir cepat maupun secara urut.

Tapi menariknya, lewat profil tersebut, Genio diklaim punya konsumsi bahan bakar 59,1 km per liter.

Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Untuk hal ini, Genio memang punya efisiensi bahan bakar yang bagus. Dalam metode full to full, saya mencatatkan konsumsi bahan bakar 51 km per liter dengan mode berkendara campuran: kadang ngebut, pelan, sampai menerapkan lampu ECO selalu menyala.

Urusan performa, di atas kertas mesin 110 cc SOHC satu silindernya punya tenaga 8,8 dk di 7.500 rpm dan torsi maksimum 9,3 Nm di putaran 5.500 rpm

Akomodasi penyimpanan

Well, karena didaulat sebagai motor perkotaan, Genio punya akomodasi yang cukup baik.

Slot penyimpanan Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Slot penyimpanan bagian kanan dan kiri cukup dalam, bagian kiri bahkan cukup memuat satu botol air mineral, dan kanan cukup untuk menyimpan receh atau sarung tangan. Kemudian di tengah ada hook yang bisa digunakan menggantung plastik.

Sayangnya bagasinya hanya 14 liter yang tidak mampu menyimpan helm. Jadi cukup jaket, jas hujan, maupun sarung tangan sekaligus yang muat di dalamnya.

Bagasi Honda Genio muat jaket dan sarung tangan Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Plus minus

Model kunci Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Oke untuk poin plus, penerangan lampu LED di malam hari saya akui cukup terang, posisi berkendaranya juga nyaman untuk tinggi 170 sampai 173 cm, kemudian ada power outlet di bagasi, suara mesin halus, dan eco indicator yang memandu supaya bawa motor lebih irit.

Kokpit Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Untuk minusnya, sayang power outlet membutuhkan adaptor tambahan, bagasi juga tidak cukup luas, informasi panel instrumen terbatas, semua lampu belum LED, profil ban yang kurang lebar sampai mekanisme parking brake lock yang menyulitkan bila hanya mengandalkan satu jari.

Power outlet di bagasi Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Kesimpulan

Ada dua varian Genio: CBS dan CBS ISS (Idling Stop System) yang masing-masing dibanderol 17,2 dan 17,7 juta.

Desain lampu belakang Honda Genio Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Menurut saya dengan kemampuan yang telah dijelaskan tadi, varian ISS patut masuk daftar pertimbangan. Meskipun tidak begitu signifikan pengaruhnya terhadap penurunan konsumsi bahan bakar, tapi lebih bisa menurunkan suhu mesin saat macet.

Dan Honda Genio juga cocok bagi Anda yang bosan dan ingin naik kelas setelah memiliki BeAT tapi belum punya cukup dana membeli Scoopy.

OTOHITZ-Test Ride Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan