Petani Indramayu Terlilit Utang Rp 50 Juta Gara-gara El Nino
·waktu baca 4 menit

Bagi Ruskiyah, sawah adalah nyawa kedua. Sawah menghidupinya sejak kecil. Ia pun menghidupi istri dan anaknya dari hasil bersawah sejak 1990.
Rumah mereka—yang khas petani—memiliki halaman lapang bersemen untuk tempat menjemur gabah. Rumah itu bersisian langsung dengan sawah. Tak heran, karena kampung Ruskiyah di Blok Darim, Desa Puntang, Indramayu, Jawa Barat, memang berada di tengah area persawahan.
“Turun-temurun. Saya anak petani. Jadi ibu bapak saya petani. Saya juga jadi petani dari kecil,” cerita Ruskiyah kepada kumparan di kediamannya, Jumat (17/4).
Ruskiyah sudah makan asam garam di pengelolaan pertanian. Ia telah merasakan naik turun harga gabah, inflasi harga pestisida, sampai saat menghadapi bala gagal panen akibat kemarau panjang.
Musim kemarau panjang yang pernah Ruskiyah alami terjadi pada 2019, 2023, dan 2024. Kemarau itu datang imbas El Nino yang menyebabkan kemarau lebih kering dari biasanya karena curah hujan turun signifikan, sehingga memicu gagal panen.
Yang paling menyiksa Ruskiyah adalah kemarau 2023. Tahun itu, pada musim tanam kedua, sawahnya gagal panen dan ia terlilit utang.
Ketika itu, seperti kebiasaan banyak petani saat memulai musim tanam, Ruskiyah meminjam uang ke bank dan pegadaian untuk memodali sawahnya. Namun di tengah jalan, saat padi belum mengeluarkan malai, kemarau menggila.
Pasokan air ke sawah mengering. Hama putih menyerang. Ruskiyah mencoba menyelamatkan padinya dengan pompanisasi. Ia memasang selang air sepanjang satu kilometer lebih, tapi sia-sia saja. Sawahnya gagal panen total.
“Pada 2023 itu, satu tahun [penuh] enggak panen sama sekali. Saya jeblok (rugi) hampir Rp 45 juta,” ujar Ruskiyah.
Puluhan juta rupiah itu ialah biaya yang ia keluarkan untuk menggarap tiga hektare sawahnya, mulai dari membajak lahan, menyedot air, memberi pestisida, sampai menyewa pekerja.
“Saya masih punya tagihan di bank gara-gara [gagal panen imbas] El Nino waktu itu,” ujar Ruskiyah.
Total utangnya mencapai Rp 50 juta dan belum bisa ia lunasi sepenuhnya karena gagal panen tahun 2023 itu berdampak hingga musim tanam pertama pada 2024. Tahun itu, wilayah Ruskiyah masih dilanda kekeringan, tapi irigasi mulai pulih.
Meski tak sampai gagal panen, sawah yang berhasil panen pada 2024 hanya 50% saja.
Utang Ruskiyah bukan cuma berasal dari tahun 2023, tapi juga 2019 saat kemarau mengaggalkan sebagian besar panennya. Meski tak separah kemarau 2023, panen Ruskiyah pada 2019 hanya sekitar 2,5 ton per hektare. Padahal, jika cuaca normal, hasil panen bisa mencapai 6–7 ton per hektare.
“Utang saya di bank sampai sekarang belum bisa dibayar. [Utang itu karena] kekeringan tahun 2019 kering, 2023, 2024. Mau bayar pakai apa ke BRI?” keluh Ruskiyah.
El Nino pada musim kemarau hanya mungkin mendatangkan dua hal bagi petani: gagal panen total atau sebagian sehingga modal tak bisa balik 100%.
Pada saat yang sama, kemarau juga membawa hama sehingga kerugian petani jadi berlipat. Mereka harus menyiapkan modal lebih tinggi dari biasanya guna memompa air, serta memberi pestisida dan pupuk untuk nutrisi.
Saat El Nino 2023, Ruskiyah harus membeli selang plastik seharga Rp 6–7 juta untuk menyedot air dari waduk yang terhubung ke sawahnya sejauh satu kilometer.
“Belum [biaya] solar, mesin, tenaga kerja,” tambah Ruskiyah.
Semua pengalaman itu membuatnya cemas tatkala ada prediksi kemunculan El Nino. Meski kemarau panjang akan melanda, Ruskiyah dan petani-petani lainnya merasa tetap harus menanam padi, sebab menjeda waktu tanam sama dengan menghilangkan mata pencaharian mereka.
Ruskiyah dan kawan-kawan petaninya pun berharap pada bantuan pemerintah agar tak lagi berjuang sendiri menghadapi terjangan El Nino. Mumpung masih April, Ruskiyah berpendapat pemerintah bisa memberi solusi alternatif sebelum masuk musim tanam kedua pada Juni–Juli.
Menteri Pertanian yang juga Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, mengatakan telah mengupayakan sejumlah hal untuk mengantisipasi kemarau panjang akibat El Nino. Kementeriannya menggelontorkan Rp 3–4 triliun untuk bantuan pompanisasi dan irigasi.
“Kami berikan pompa secara cuma-cuma [kepada petani],” kata Amran usai rapat dengan Komisi IV di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (9/4).
Kementan juga mengoptimalkan pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan, pembangunan embung, sumur dangkal, sumur dalam, serta pemanfaatan pompa perpipaan dan irigasi perpompaan.
Ada pula strategi percepatan tanam menggunakan varietas tahan kekeringan dan pola tanam adaptif yang disertai bantuan alat dan mesin pertanian yang bakal disalurkan bertahap.
Sepanjang 2024 sampai 2025, menurut Amran, kementeriannya telah menyediakan 171 ribu alat dan mesin pertanian guna memperkuat kesiapan petani menghadapi musim kemarau. Sementara tahun 2026 ini, Kementan menargetkan distribusi 37 ribu unit infrastruktur air yang meliputi irigasi perpompaan, perpipaan, konservasi, rehabilitasi jaringan tersier, serta tambahan 94 ribu unit pompa air untuk mendukung produksi.

