10 Persen Kasus Kanker di Eropa Gara-gara Polusi, Ini Daftar Polutannya

4 Juli 2022 10:33
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi polusi udara. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi polusi udara. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
Laporan terbaru dari European Environmental Agency mengestimasi 10 persen dari kasus kanker di Eropa disebabkan oleh paparan polusi lingkungan dan pekerjaan. Angka ini didapat dengan mengumpulkan data dari banyak studi sekaligus.
ADVERTISEMENT
Awalnya, mereka mengestimasi bahwa 40 persen dari semua kasus kanker di Eropa berkaitan dengan beragam faktor, seperti gaya hidup, merokok, alkohol, dan lain sebagainya. Temuan terbaru memuat bahwa 10 persen dari kasus ini disebabkan polutan.
Riset menyebutkan polutan tersebut dibagi menjadi lima kategori: Polusi udara, radiasi radon dan UV, asap rokok, asbes, dan bahan kimia.
Setidaknya dua persen kematian kanker dapat dihubungkan dengan polusi udara, baik indoor maupun outdoor. Polusi udara juga berkontribusi setidaknya 7 persen dari kanker paru-paru. Material polutan di sini tak lain adalah PM2.5, nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2).
Sementara sinar UV mayoritas menyebabkan kanker kulit, dengan kontribusi mencapai 4 persen dari total kasus kanker di seluruh Eropa. Sementara radiasi radon sedikit langka, kebanyakan ditemukan dari lokasi pertambangan. Kategori asap rokok dan asbes (asbeston) sudah lama diketahui merupakan material karsinogen—penyebab kanker.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Ilustrasi dokter memeriksa sel kanker. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dokter memeriksa sel kanker. Foto: Getty Images
Paparan karsinogen kimia mungkin merupakan kategori yang paling tidak jelas yang dibahas dalam laporan ini. Studi menyugesti bahwa paparan polusi bahan kimia adalah masalah di Eropa tapi sangat sulit diukur.
Beberapa bahan kimia yang terdaftar dalam laporan berkisar dari akrilamida, benzofenon, penghambat api, zat perfluoroalkil dan polifluoroalkil (PFAS) dan pestisida, hingga benzena, formaldehida, dan debu silika.
“Meskipun kami memiliki perkiraan untuk beberapa zat, kami tidak yakin tentang kontribusi keseluruhan karsinogen kimia terhadap beban kanker di Eropa,” tulis laporan terbaru European Environmental Agency.
Banyak bahan kimia di pasar dan di lingkungan belum menjalani pengujian karsinogenisitas yang lengkap, dan kesenjangan pengetahuan yang signifikan tetap ada pada efek karsinogenik potensial dari paparan kombinasi bahan kimia tingkat rendah sepanjang hidup kita.
- European Environmental Agency -

Polusi udara di Jakarta

Polusi udara Jakarta menjadi topik hangat beberapa minggu terakhir. Pasalnya, beberapa kali Jakarta masuk peringkat pertama kualitas udara terburuk versi IQ Air. Polutan terbanyak yang mengotori langit Jakarta adalah PM2.5.
ADVERTISEMENT
Ada banyak macam sumber polusi udara, mulai dari asap kendaraan bermotor, asap pabrik/PLTU batu bara, hingga asap rokok dan debu jalanan. Dalam jangka panjang, polusi udara dapat meningkatkan resiko kanker paru-paru seseorang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menetapkan batas annual PM2.5 senilai 5 µg/m3. WHO mengestimasi sekitar 4.2 jiwa meninggal pada 2016 akibat masalah yang ditimbulkan polusi PM2.5, dengan kasus terbanyak di Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Kasus kesehatan terbanyak yang diakibatkan polusi udara adalah stroke dan serangan jantung, yakni sekitar 58 persen dari semua kasus.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020