kumparan
4 Oktober 2019 11:27

4 Gunung di Pulau Jawa ‘Bertopi’ Bersamaan, Ini Penjelasan Para Ahli

Puncak Gunung Merbabu dinaungi awan berbentuk topi.
Puncak Gunung Merbabu dinaungi awan berbentuk topi. Foto: Instagram @johanjacob_oki
Pada 3 Oktober 2019, empat gunung di pulau Jawa, yakni Merbabu, Merapi, Lawu, dan Arjuno, menampakkan keindahannya secara bersamaan, yakni awan berbentuk topi muncul di masing-masing puncak gunung-gunung tersebut.
ADVERTISEMENT
Fenomena itu kemudian diunggah oleh sejumlah pengguna Twitter, salah satunya akun @magetanbanget. Ia memperlihatkan empat foto fenomena gunung bertopi di masing-masaing lokasi dalam satu posting-an.
Fenomena gunung bertopi sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Tercatat beberapa kali pernah tejadi di Gunung Ciremai, Rinjani, dan Semeru. Dalam dunia astronomi, topi awan yang ada di puncak gunung disebut sebagai awan lentikular.
“Ya, kemarin Gunung Merapi dan Merbabu juga alami fenomena gunung bertopi. Itu biasa disebut awan lentikular, yaitu awan berbentuk lensa,” ujar Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), saat dihubungi kumparanSAINS, Jumat (4/10).
Menurut Thomas, awan lentikular yang menutup puncak gunung itu muncul sebagai akibat dari aliran udara yang terganggu oleh keberadaan gunung, sehingga menyebabkan pusaran di puncak gunung. “Uap air yang dibawa aliran udara tersebut berkondensasi di puncak gunung yang dingin sehingga membentuk awan lentikular,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
Di lain pihak, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana, menyebut fenomena seperti ini memang biasa terjadi di atas pegunungan atau perbukitan tinggi.
Secara terperinci ia menjelaskan, awan lentikular bisa terbentuk ketika udara yang bergerak di atas permukaan bertemu dengan permukaan yang tinggi, seperti gunung atau perbukitan. Aliran udara ini kemudian terganggu atau mengalami turbulensi.
“Untuk gunung yang berbentuk kerucut, aliran udara akan membangun arus aliran udara yang mengelilingi gunung. Ketika suhu di puncak di bawah titik embun, dan dengan aliran udara tadi, uap air di area puncak mengembun dan membentuk awan lenticular ini,” papar Devy.
Lebih lanjut, Devy mengatakan, awan lentikular ini tidak berkaitan dengan aktivitas magmatik atau vulkanik, bukan juga sebagai tanda-tanda akan terjadinya bencana. Awan lentikular hanya fenomena atmosfer biasa yang memang sering terjadi di permukaan tinggi, dan awan ini bisa bertahan selama berjam-jam.
ADVERTISEMENT
Kendati begitu, awan lentikular yang terbentuk di puncak gunung menandakan sedang terjadi pusaran angin seperti badai. Hal itu bisa berdampak pada pendaki maupun pesawat yang melintas di atasnya.
Bagi pendaki gunung, embusan angin saat terjadi awan lentikular bisa menyebabkan hipotermia. Sedangkan untuk pesawat, awan dan pusaran angin yang bersifat turbulen ini bisa membuat pesawat terguncang sehingga pesawat bisa kehilangan altitude-nya dengan cepat.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan