kumparan
25 Feb 2019 17:37 WIB

6 Warga NTB Tewas Digigit Anjing Rabies, Dari Mana Virusnya Berasal?

Ilustrasi anjing rabies. Foto: Pixabay
Pada 2017, Kementerian Pertanian menetapkan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTB) sebagai wilayah bebas rabies. Namun di awal 2019, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB mencatat ada 825 warga di Pulau Lombok dan Sumbawa yang digigit anjing. Dari jumlah itu, sebanyak enam orang meninggal dunia di Kabupaten Dompu.
ADVERTISEMENT
"Itu data per 24 Februari 2019. Sebagian besar korban gigitan anjing ada di Kabupaten Dompu, sebanyak 735 orang. Dan ada 32 positif rabies," kata Kepala Disnakeswan NTB, Budi Septiani, di Mataram, Senin (25/2).
Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa NTB yang tadinya bebas rabies bisa terjangkiti lagi oleh penyakit yang disebabkan oleh virus ini?
Ilustrasi anjing rabies. Foto: Thinkstock
Arif Wicaksono, Kasubdit Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa rabies yang sekarang muncul diduga berasal dari anjing-anjing dari Bali dan Flores, NTT.
"Diketahui ternyata banyak masyarakat Dompu yang membawa anjing dari Bali dan Flores (NTT). Keduanya merupakan daerah yang belum bebas penyakit rabies," papar Arif saat dihubungi kumparanSAINS, Senin (25/2).
ADVERTISEMENT
Arif menjelaskan bahwa anjing-anjing itu dibawa masyarakat untuk membantu menjaga ladang jagung mereka dan malah tak terurus serta rentan terserang virus rabies. Menurutnya, itulah salah satu sumber kasus rabies di NTB.
Pihak Kementan sendiri sudah melakukan usaha-usaha untuk menangani kejadian luar biasa rabies di NTB. Arif mengungkapkan bahwa telah ada 14 ribu lebih vaksin yang diberikan kepada hewan-hewan di NTB.
"Selain itu, kita lakukan upaya kontrol populasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat baik masyarakat umum maupun anak sekolah," jelas Arif.
Arif menambahkan, wabah rabies masih berpusat di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Sumbawa. Menurutnya, wabah ini masih bisa dikendalikan, ditandai dengan adanya penurunan kasus gigitan hewan penyebar rabies pada manusia.
Ilustrasi anjing rabies
Sementara itu, Budi menambahkan upaya meningkatkan kewaspadaan di Pulau Lombok juga sudah dilaksanakan bersama beberapa para pihak terkait. Upaya yang dilakukan berupa vaksinasi terhadap hewan penular rabies (HPR) berpemilik.
ADVERTISEMENT
Dia menambahkan institusinya juga menggelar operasi gabungan pengawasan lalu lintas HPR di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, dan Pelabuhan Kayangan, di Kabupaten Lombok Timur.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan