kumparan
9 Jul 2018 7:57 WIB

Antara Suhu Dingin, Aphelion, dan Gerhana Bulan Total pada Juli 2018

Gerhana super blue blood moon (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah warga di beberapa kota di Pulau Jawa kerap mempertanyakan kenapa belakangan hari suhu udara di kota mereka jadi lebih dingin dibanding biasanya, terutama pada malam hari.
ADVERTISEMENT
Sejumlah warganet di Bandung, Jawa Barat, misalnya, mendadak mengunggah screenshoot suhu udara yang mencapai 15 atau bahkan 14 derajat Celcius. Mereka pun mempertanyakan suhu dingin yang tak biasa itu di media sosial.
Tak hanya di Bandung, sejumlah warga di Yogyakarta, Malang, Sidoarjo, dan Jepara juga mengatakan bahwa suhu di kota mereka jadi lebih dingin dari biasanya.
Suhu dingin di Pulau Jawa dan sekitarnya
Fenomena suhu udara dingin merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli-Agustus). Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di seluruh wilayah Indonesia selama 1-5 Juli 2018, suhu udara kurang dari 15 derajat Celcius tercatat di beberapa wilayah yang berada di dataran tinggi atau kaki gunung, seperti Ruteng (Nusa Tenggara Timur), Wamena (Papua), dan Tretes (Pasuruan).
ADVERTISEMENT
Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, penurunan suhu di bulan Juli belakangan ini lebih dominan disebabkan oleh sedikitnya kandungan uap di atmosfer di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
“Hal ini terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir,” ujar Mulyono dalam siaran pers yang diterima kumparan.
Suhu di Bandung. (Foto: Dok. Istimewa)
Berdasarkan teori fisika, sebagaimana yang dipaparkan Mulyono, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. Oleh karena itu, rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepas oleh Bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tertahan atau tersimpan di atmosfer. Sementara itu, energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu di atmosfer lapisan dekat permukaan Bumi kuranglah signifikan.
ADVERTISEMENT
“Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan,” tuturnya.
Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan ketika kandungan uap air di atmosfer masih cukup banyak sehingga atmosfer menjadi semacam "reservoir panas" saat malam hari.
Suhu di Girimekar. (Foto: Dok.Istimewa)
Penyebab lain mengapa suhu di beberapa wilayah Indonesia jadi lebih dingin adalah karena pada bulan Juli ini wilayah Australia tengah berada pada musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin, kering, dan memiliki tekanan yang relatif tinggi.
“Tekanan udara yang relatif tinggi di Australia ini menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia sehingga semakin berimplikasi pada penurunan suhu udara yang semakin besar pada malam hari di Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT,” terang Mulyono.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, sempat viral di berbagai grup aplikasi pesan instan bahwa suhu dingin di Indonesia ini disebabkan oleh aphelion. Apa sebenarnya aphelion itu dan apakah benar ia berpengaruh pada penurunan suhu?
Aphelion
Aphelion sendiri adalah fenomena ketika Bumi berada di titik terjauh dari Matahari. Fenomena astronomis ini terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli.
Menurup laporan Space.com, pada tahun 2018 ini Bumi berada di titik terjauh dari Matahari pada 6 Juni kemarin. Pada saat itu Bumi berada pada jarak sekitar 152 juta kilometer dari Matahari.
Logikanya, memang semakin jauh jarak suatu planet dari Matahari, maka akan semakin dingin suhu planet tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin dekat suatu planet dengan Matahari, maka akan semakin panas suhu planet tersebut.
Aphelion (Foto: Ramona Benson/Flickr)
Tapi apakah benar suhu dingin di Jawa dan sekitarnya pada Juli 2018 ini disebabkan oleh fenomena aphelion? Kenyataannya, sebagaimana dinyatakan Mulyono, aphelion memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap penurunan suhu di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Hal senada juga dinyatakan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin. Thomas, melalui akun Facebook-nya, menegaskan bahwa fenomena suhu udara yang lebih dingin di Indonesia belakangan hari ini “tidak ada hubungannya dengan aphelion, karena perubahan jarak Matahari ke Bumi tidak terlalu signifikan mempengaruhi suhu permukaan Bumi.”
Seperti Mulyono, Thomas juga memaparkan bahwa pada musim kemarau saat ini angin bertiup dari arah Australia yang sedang musim dingin ke arah utara menuju Indonesia. “Itu sebabnya masyarakat di Jawa pada saat ini mengalami udara yang dingin,” tutur Thomas.
Selain fenomena aphelion, pada Juli 2018 ini juga akan terjadi fenomena gerhana bulan total yang bahkan menjadi gerhana bulan terlama di abad ke-21 ini. Mengantisipasi pihak-pihak yang kerap mengaitkan suatu fenomena dengan fenomena lainnya, ada baiknya kita jelaskan juga apakah fenomena aphelion ini berhubungan dengan gerhana bulan total pada 28 Juli nanti?
ADVERTISEMENT
Gerhana bulan total 28 Juli 2018
Gerhana Super Blue Blood Moon (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Peneliti dari Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), Rhorom Priyatikanto, menjelaskan penyebab gerhana bulan 28 Juli nanti bakal menjadi gerhana bulan terlama di abad 21 ada hubungannya dengan pergerakan serta ukuran dari penampakan bulan itu sendiri.
"Pada gerhana pada tanggal 28 Juli nanti, kebetulan Bulan berada dekat dengan apogee. Apogee adalah titik terjauh Bulan dari Bumi. Karena itu, Bulan akan terlihat lebih kecil dari biasanya. Ada yang bilang (Bulan yang berukuran kecil ini sebagai) micro moon, (atau) mini moon."
Karena ukuran penampakan Bulan pada 28 Juli nanti lebih kecil dibanding biasanya, maka Bulan akan menghabiskan waktu lebih lama saat melewati bayangan Bumi.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana yang perlu diketahui, gerhana bulan terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus sehingga sinar Matahari ke Bulan terhalang oleh Bumi. Pada saat itulah akan terbentuk daerah bayangan Bumi dan seberapa lama Bulan akan melewati daerah tersebut adalah tergantung dari jarak Bulan terhadap Bumi.
Semakin jauh jarak Bulan dari Bumi, maka ukuran Bulan akan terlihat lebih kecil dan semakin lama pula waktu yang dibutuhkan Bulan tersebut untuk melewati daerah bayangan Bumi.
Gerhana bulan terlihat dari Kota Tua (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Selain jarak antara Bumi dan Bulan, lamanya gerhana bulan 28 Juli ini juga dipengaruhi oleh jarak antara Matahari dan Bumi. Semakin jauh jarak antara Matahari dan Bumi, maka akan semakin besar daerah bayangan Bumi yang terbentuk sehingga akan semakin lama Bulan melewati daerah bayangan tersebut. Akibatnya, gerhana bulan jadi lebih lama.
ADVERTISEMENT
Jadi, aphelion yang terjadi pada 6 Juli kemarin ada hubungannya dengan gerhana bulan 28 Juli yang bakal jadi gerhana bulan terlama di abad 21. Karena pada 6 Juli Bumi berada di titik aphelion, maka pada 28 Juli nanti jarak Bumi dengan Matahari juga masih cukup jauh atau lebih jauh dari rata-rata jarak antara mereka. Hal inilah yang kemudian membuat daerah bayangan Bumi jadi lebih besar dan proses gerhana bulan jadi lebih lama.
"Aphelion dan apogee bersama-bersama akan membuat gerhana bulan 28 Juli nanti jadi lebih lama," kata Rhorom dalam perjelasan terakhir.
Mengenai fenomena suhu dingin di Indonesia belakangan hari ini, sebagaimana telah dijelaskan di atas, ini tidak ada kaitannya dengan fenomena aphelion maupun gerhana bulan, tapi lebih karena pergerakan angin dan kondisi udara.
ADVERTISEMENT
Hal yang sama dari fenomena suhu dingin, aphelion, dan gerhana bulan total ini hanyalah, ketiganya sama-sama terjadi di bulan Juli 2018.
Update: Ada tambahan di bagian akhir tulisan ini yang berisi penjelasan soal hubungan antara aphelion dan gerhana bulan total 28 Juli 2018.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan