kumparan
16 Maret 2020 15:45

Apa Itu Lockdown karena Kasus Virus Corona? Ini Pro dan Kontranya

Virus corona di Filipina lockdown
Penumpang mengenakan masker saat menunggu di Terminal Bus Pusat Araneta di Cubao di Manila, Filipina, Jum'at (13/3). Foto: AFP/Maria Tan
Akibat pandemi virus corona, Pemerintah Indonesia resmi menganjurkan aktivitas dari rumah bagi para pelajar dan pekerja pada akhir pekan lalu. Anjuran ini bukanlah lockdown, melainkan apa yang disebut sebagai social distancing.
Meski punya istilah dan pemaknaan yang berbeda, lockdown dan social distancing memiliki tujuan yang sama. Keduanya merupakan upaya pencegahan untuk meminimalisir pergerakan masyarakat agar orang yang telah terinfeksi virus corona tidak melakukan kontak dengan mereka yang belum tertular.
Pemerintah Indonesia sendiri sejauh ini belum memikirkan opsi lockdown. Meski demikian, lockdown sempat mengisi opini di ruang publik setelah pemerintah mengumumkan lonjakan pasien COVID-19 (penyakit yang disebabkan virus corona baru) pada pekan kemarin.
Lantas, sebenarnya apa yang dihasilkan oleh lockdown dan bagaimana perbedaannya dengan metode pencegahan lain?
Virus Corona di Italia-Duomo Square
Seorang pria berjalan di sekitar Duomo Square yang sepi pengunjung di Milan, Italia, Selasa (10/3). Foto: REUTERS/Flavio Lo Scalzo
Lockdown merupakan protokol untuk mengisolasi suatu wilayah agar populasi di dalamnya tidak keluar dari wilayah tersebut. Protokol ini bersifat temporer dan bisa dicabut sewaktu-waktu, jika kondisi dianggap telah membaik.
Lockdown sendiri memiliki penerapan yang beragam. Di Wuhan, China, misalnya, lockdown diterapkan secara total. Warga diminta untuk tetap berada di rumah, tempat publik tutup, hingga anjuran untuk tidak berpergian menggunakan transportasi pribadi.
Menurut laporan The New York Times, protokol lockdown di China berbeda dengan Italia, negara Eropa pertama yang memberlakukan lockdown, di mana orang masih bisa bepergian ke luar wilayah jika alasannya dianggap masuk akal oleh petugas berwenang.
Penerapan lockdown memiliki akar sejarahnya sendiri, dan dianggap terbukti secara empiris mengurangi penyebaran wabah yang lebih masif. Kita dapat melihat ini saat wabah Flu Spanyol pada awal abad ke-20.
Virus Corona-Madrid
Penumpang menggunakan masker di Bandara Adolfo Suarez Barajas, Madrid, Spanyol. Foto: REUTERS/Sergio Perez
"Ada alasan ilmiah untuk mendukung langkah-langkah seperti itu (lockdown)," kata Antoine Flahault, kepala unit epidemiologi populasi di Rumah Sakit Universitas Jenewa di Swiss, seperti dilaporkan oleh Wired.
"Langkah-langkah serupa (lockdown) diterapkan pada awal abad kedua puluh, pada 1918 untuk Flu Spanyol, dengan bukti keberhasilan ketika diterapkan cukup awal dan cukup lama,” sambungnya.
Sebuah penelitian dari University of Southampton di Inggris mendukung anggapan tersebut.
Menurut tim peneliti, jika intervensi pemerintah China dalam melakukan lockdown lebih cepat satu pekan, penyebaran virus corona bisa ditekan hingga 66 persen. Bahkan, menurut peneliti, lockdown diterapkan tiga minggu lebih cepat di China, penyebaran virus corona bisa berkurang hingga 95 persen.
"Dari sudut pandang ilmiah, menempatkan kombinasi intervensi sedini mungkin adalah cara terbaik untuk memperlambat penyebaran dan mengurangi ukuran wabah," kata Andrew Tatem, seorang profesor di University of Southampton, dikutip dari The Guardian.
Penjelasan tersebut memunculkan sebuah hipotesis bahwa sebuah negara otoriter bisa jadi lebih baik dalam menangani kasus pandemi seperti virus corona, seperti yang dilaporkan Wired. Alih-alih membiarkan orang secara bebas dan individual berpindah dari satu tempat ke tempat lain, isolasi yang diterapkan China disebut menawarkan alternatif yang lebih terbukti hasilnya.
Lockdown memang dapat menawarkan hasil yang lebih efektif dalam menekan kurva eksponensial pasien COVID-19 ketimbang membiarkan orang lain melakukan apa yang mereka mau (free-for-all), menurut laporan The Washington Post.
LIPSUS VIRUS CORONA Wuhan Sepi
Salah satu jalan yang diblokir polisi untuk membatasi orang meninggalkan Wuhan di Provinsi Hubei, China. Foto: AFP/Hector Retamal
Dalam simulasi yang mereka buat, metode free-for-all bisa menyebabkan peningkatan drastis pasien dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya proteksi populasi yang belum terinfeksi dengan mereka yang sudah terinfeksi.
Meski demikian, lockdown ternyata tak menjamin perlindungan penuh bagi mereka yang belum terinfeksi. Hal ini karena tidak mungkin sebuah wilayah diisolasi secara penuh dalam waktu yang lama. Pada suatu waktu, protokol lockdown perlu untuk membuka perpindahan populasi di dalamnya, setidaknya dalam hal memastikan suplai kebutuhan pokok tetap terjamin.
“Banyak orang bekerja di kota dan tinggal di negara tetangga, dan sebaliknya,” ungkap Leana Wen, mantan komisioner kesehatan di Baltimore, AS.
“Apakah orang akan terpisah dari keluarga mereka? Bagaimana setiap jalan akan diblokir? Bagaimana persediaan (barang kebutuhan pokok) akan menjangkau penduduk?”
Perdebatan mengenai apakah lockdown diperlukan atau tidak memang mencuat di tengah wabah virus corona. Berbagai faktor patut dipertimbangkan dalam mengambil keputusan ini, mulai dari faktor kapasitas sarana kesehatan yang tersedia dan bagaimana protokol ini bisa berdampak kepada ekonomi.
Kita pun mungkin tak bisa menjawab hal ini sekarang. Seperti yang dijelaskan Antoine Flahault, pro dan kontra lockdown hanyalah hipotesis dan belum dapat dibuktikan hasilnya setelah wabah berakhir.
"Itu hipotesis," kata Flahault. “Dan ketika epidemi berakhir, kami akan melakukan eksperimen semu di seluruh dunia, di mana kami akan memiliki beberapa negara, negara otoriter, yang telah menerapkan tindakan keras dan beberapa negara yang akan berjuang melawan epidemi dan kami telah menerapkan langkah-langkah yang lebih demokratis.”
SQR- COV- LIPSUS SIMPANG LOCKDOWN
Penumpang MRT menggunakan masker di tengah penyebaran virus corona di Jakarta, Selasa (17/3/2020). Foto: Reuters/Willy Kurniawan
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan