Untitled Image
6 Mei 2021 2:05

Arkeolog Klaim Temukan Tambang Nabi Sulaiman, Apa Benar?

Arkeolog Klaim Temukan Tambang Nabi Sulaiman, Apa Benar? (56207)
Ilustrasi Raja Sulaiman. Foto: the Providence Lithograph Company via Wikimedia Commons
Nabi Sulaiman dikenal oleh tiga agama besar di dunia, Islam, Kristen, dan Yahudi. Meski diperkirakan hidup pada 1.000 sebelum masehi, minimnya bukti sejarah membuat Nabi Sulaiman sering dianggap mitos di dunia ilmiah.
ADVERTISEMENT
Anggapan tersebut tak berlaku bagi seorang arkeolog kelautan asal Inggris bernama Sean Kingsley. Ia yakin betul bahwa Nabi Sulaiman benar ada. Bahkan, ia mengeklaim telah menemukan tambang yang dulu dikuasai Nabi Sulaiman sekaligus menjadi bukti bahwa sang nabi merupakan penguasa perdagangan maritim.
Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian pada April 2021, Kingsley menjabarkan penelitiannya yang telah dia lakukan selama 10 tahun terakhir. Dalam periode tersebut, dia mencari jejak-jejak Nabi Sulaiman ke seantero Mediterania, dari Spanyol hingga Sardinia.
Pada akhirnya, Kingsley menyebut bahwa dia menemukan bukti arkeologi yang mendukung deskripsi Alkitab tentang kemitraan antara Salomo atau Nabi Sulaiman dengan Raja Hiram dari Fenisia, sebuah bangsa kuno yang hidup di wilayah Lebanon.
ADVERTISEMENT
Dalam Alkitab, Salomo dan bapaknya, Daud, diceritakan mendapat bantuan bahan proyek konstruksi mereka dari seseorang bernama Hiram.
"Saya telah menyebarkan jaring yang sangat luas. Studi kelautan seperti itu belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Kingsley.
Kingsley menyebut, penggalian arkeologi selama beberapa abad terakhir telah menemukan sisa-sisa operasi penambangan Fenisia di dekat Sungai Rio Tinto di bagian barat daya Spanyol. Jadi, Kingsley kemudian melakukan eksplorasi ke Andalusia, region paling selatan di Spanyol, untuk mengungkap peninggalan Fenisia tersebut.
Saat tiba di Sungai Rio Tinto—pertambangan kuno yang menghasilkan emas, perak, timah, tembaga dan seng—Kingsley menyadari satu hal penting. Ketika dia membaca peta-peta tua dan catatan sejarah, sejumlah lokasi di sekitar Sungai Rio Tinto punya nama yang berasal dari Alkitab. Salah satunya adalah Cerro Solomon atau Bukit Sulaiman.
Arkeolog Klaim Temukan Tambang Nabi Sulaiman, Apa Benar? (56208)
Sungai Rio Tinto yang saat ini rusak karena drainase asam tambang. Foto: Carol Stoker/NASA via Wikimedia Commons
Kingsley menyebut, satu catatan dari abad ke-17 mengatakan bahwa Bukit Sulaiman sebelumnya disebut Kastil Sulaiman. Catatan tersebut menggambarkan, orang-orang "dikirim ke sana oleh Raja Salomo untuk mendapatkan emas dan perak".
ADVERTISEMENT
“Ketika saya melihat dalam catatan kuno nama bukit tempat perak di tambang di Rio Tinto—Bukit Sulaiman—saya tercengang. Sejarah Alkitabiah, arkeologi dan mitos bergabung untuk mengungkapkan tanah Tarsis yang telah lama dicari dan dirayakan dalam Perjanjian Lama,” kata Kingsley.
Dalam Alkitab Ibrani, Tarsis mengacu pada sebuah tempat yang memiliki kekayaan mineral yang melimpah. Kingsley mengeklaim bahwa Tarsis terletak di tempat yang sekarang disebut Spanyol.
Untuk mendukung klaimnya tersebut, Kingsley bilang bahwa ada sebuah prasasti peninggalan Fenisia di Sardinia. Prasasti tersebut, yang berasal dari abad ke-9 sebelum masehi, menceritakan militer Fenisia yang melarikan diri ke Tarsis setelah kalah berperang. Adapun Spanyol dekat dengan Sardinia, kata Kingsley. Dia juga menambahkan bahwa sebuah catatan Yunani kuno menyebutkan sebuah kota bernama Tartessos—yang terdengar mirip dengan Tarsis—yang berkembang di selatan Spanyol.
ADVERTISEMENT
Di situs Bukit Sulaiman, lanjut Kingsley, para arkeolog telah menemukan alat-alat pertambangan kuno, seperti alu granit, lesung batu yang digunakan untuk menghancurkan mineral, hingga sisa-sisa ampas timbal yang mengandung perak dalam proporsi tinggi. Kingsley mengatakan bahwa analisis isotop timbal menunjukkan bahwa timbunan perak yang digali di Israel berasal dari Iberia.
Dengan bukti tersebut, Kingsley menyimpulkan bahwa Nabi Sulaiman terbukti bermitra dengan Raja Hiram, di mana sang nabi mendapatkan hasil tambang usai membiayai ekspedisi pertambangan sang raja di Spanyol.
“Sepertinya Sulaiman bijaksana dalam perencanaan maritimnya. Dia membiayai perjalanan dari Yerusalem dan membiarkan pelaut Fenisia mengambil semua risiko di laut,” kata Kingsley.

Para ilmuwan skeptis dengan temuan tambang Nabi Sulaiman

Betapapun menariknya penjelasan dari Kingsley, para arkeolog yang tidak berkaitan dengan risetnya mengaku skeptis. Meskipun tidak ada yang meragukan keberadaan orang Fenisia di Spanyol, para ahli mencatat bahwa tidak ada bukti langsung yang menghubungkan Nabi Sulaiman dengan wilayah tersebut.
Arkeolog Klaim Temukan Tambang Nabi Sulaiman, Apa Benar? (56209)
Ilustrasi Raja Sulaiman. Foto: Netherlands Institute for Art History via Wikimedia Commons
"Bahkan masih belum jelas apakah ada kerajaan Sulaiman," kata Steven Weitzman, peneliti studi Yahudi dan keagamaan dari Universitas Pennsylvania, kepada Live Science.
ADVERTISEMENT
"Alkitab tidak pernah menyebut apa pun tentang tambang atau pertambangan. Itu adalah sesuatu yang kemudian disimpulkan atau diproyeksikan oleh pembaca ke dalam cerita," sambungnya.
Weitzman mengatakan, dirinya tak pernah mendengar ada bukti keberadaan orang Israel di zaman sekitar 900 sebelum masehi. Dia menjelaskan, permukiman Fenisia memang sudah muncul di Spanyol pada 1.100 tahun sebelum masehi. Namun, menyimpulkan keberadaan orang Fenisia dengan sumber kekayaan Sulaiman adalah sebuah lompatan kesimpulan, kata dia.
Dia pun menyebut bahwa Alkitab justru menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman melakukan ekspedisi ke wilayah Timur, dan bukan ke Spanyol yang ada di bagian Barat.
"Menurut Alkitab, Sulaiman mengirim kapal dari tempat bernama Ezion-Geber, yang merupakan kota pelabuhan di Laut Merah, dan mereka kembali dari tempat bernama Ophir, sarat dengan emas dan harta karun lainnya. Di mana pun Ophir berada, kapal-kapal itu akan pergi ke arah berlawanan dari Spanyol, timur bukan barat," kata Weitzman.
ADVERTISEMENT
Tak cuma perihal masalah penafsiran Alkitab, peneliti lain skeptis soal klaim Kingsley yang menyebut bahwa perak dari Israel kuno berasal dari Spanyol.
"Berdasarkan semua data ilmiah yang tersedia, perak pada zaman Solomon (abad ke-10 SM) tidak tiba dari Iberia," kata Ayelet Gilboa, seorang profesor arkeologi di Universitas Haifa.
Gilboa menjelaskan, perak dari Spanyol mulai tiba di Israel setelah zaman Nabi Sulaiman berakhir.
Gilboa pun telah mengidentifikasi sumber perak kuno di Israel dan menerbitkannya pada tahun 2019 di Proceedings of the National Academy of Sciences. Dalam artikel tersebut, tim peneliti mencatat bahwa perak dari Sardinia tiba di Israel pada abad ke-10 SM. Adapun perak dari Spanyol mulai berdatangan di wilayah tersebut sejak abad ke-9 SM.
ADVERTISEMENT
Klaim Kingsley dimuat di Wreckwatch Magazine, terbitan yang dia edit sendiri. Kingsley saat ini berencana untuk membukukan klaim kontroversialnya tersebut.