kumparan
8 Oktober 2018 9:08

Berdiam di Tanah Bergerak: Kisah Negeri Seribu Gempa

Lipsus Negeri Seribu Gempa (JANGAN DIPAKAI)
Lipsus Negeri Seribu Gempa. (Foto: kumparan)
Ini tentang negeri yang lahir dari api. Negeri dengan gunung berapi paling banyak di dunia, yang mengapung di pusat cincin api Pasifik—tempat sebagian besar gempa dunia terjadi. Negeri itu bernama Indonesia—salah satu teritori paling rentan di Bumi, sebuah jagat yang buas secara geologis. — Wildest Islands of Indonesia: Volcano Nation
ADVERTISEMENT
Kiamat datang lebih cepat di Palu, Sulawesi Tengah. Seorang perempuan yang sedang bermotor tak bisa berbuat apa-apa kala tanah di bawahnya begitu saja terbelah. Ia tenggelam ke dalam Bumi.
Seorang ayah yang baru mengantarkan putranya pergi mengaji, mendengar bunyi gemuruh. Ia menoleh ke belakang dan tertegun melihat perumahan di balik punggungnya lenyap dalam sekedip mata. Putranya ikut hilang.
Warga lain, Mawardi, buru-buru menghentikan salat magribnya di masjid dan lari tunggang-langgang kembali ke rumah. Di jalan, ia menyaksikan pemandangan menakutkan: gunung seolah mengejarnya. Setiba di rumah, Mawardi segera menyalakan mesin mobil dan tancap gas keluar dari Petobo membawa serta keluarganya.
Senja itu, Jumat (28/9), kengerian melanda Petobo di selatan Palu. Tanah dan jalan beraspal mendadak bergerak-bergelombang-berguncang lantas terbelah, rumah-rumah bergeser-berjalan sendiri lalu terbenam, lumpur muncul dari perut Bumi dan menyapu-mengisap semua yang ada di lintasannya.
ADVERTISEMENT
Wilayah seluas 180 hektare lenyap seketika ditelan Bumi, dengan 2.000 rumah di atasnya sekejap amblas. Orang-orang berlarian berkejaran dengan lumpur maut. Sebanyak 5.000 orang masih hilang hingga kini.
“Semoga ini bukan kiamat,” ujar mereka yang menjadi saksi mata atas bencana mahadahsyat itu.
Video
Tiga petaka menghantam Palu sekaligus: gempa, tsunami, dan likuefaksi.
Yang terakhir itulah yang menerjang Petobo dan dua wilayah lainnya—Balaroa di Palu Barat dan Desa Jono Oge di Kabupaten Sigi, yakni fenomena likuefaksi alias hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran gempa.
Kelurahan Petobo, menurut laporan Badan Geologi berjudul Penyelidikan Geologi Teknik Potensi Likuefaksi Daerah Palu, Sulawesi Tengah yang dipublikasikan pada 2012, memang termasuk kawasan rawan likuefaksi.
Tanah di kawasan tersebut didominasi material endapan pantai seperti pasir dan kerikil, serta tanah liat. Kedua jenis endapan itu bila tergoncang gempa dapat tercampur menjadi lumpur.
ADVERTISEMENT
Ancaman likuefaksi di Palu makin tinggi karena kota itu secara geologis terletak di atas patahan atau sesar Palu-Koro yang memiliki riwayat aktivitas kegempaan tinggi.
Sesar Palu-Koro, berdasarkan Peta Gempa 2017, telah menimbulkan tiga kali gempa yang memicu tsunami, yakni tahun 1927 dengan magnitudo 6,3, tahun 1968 dengan magnitudo 7,4, dan tahun 1996 dengan magnitudo 7,7.
Sesar sepanjang 500 kilometer tersebut aktif bergeser dengan laju 41-45 milimeter per tahun, lebih tinggi dari laju sesar di Pulau Jawa dan Sumatera yang berada pada kecepatan 0,5-5 milimeter per tahun dan 0,75-15 milimeter per tahun.
Semakin tinggi laju pergeseran sesar, menurut peneliti gempa ITB Irwan Meilano, bisa jadi siklus gempa bergerak lebih cepat.
Lipsus Negeri Seribu Gempa, Genangan air setelah tsunami Palu.
Genangan air setelah tsunami di Palu. (Foto: REUTERS/Stringer)
Selain memicu likuefaksi, gempa membuat sedimen di dasar laut longsor sehingga menyebabkan tsunami di Teluk Palu, termasuk Pantai Talise—salah satu destinasi wisata utama di Palu yang membentang dari Kota Palu hingga Kabupaten Donggala.
ADVERTISEMENT
Celakanya, Pantai Talise Jumat itu tidak dalam kondisi sepi. Sebaliknya, ia berdenyut bergairah ketimbang hari-hari biasa, dengan pengunjung berdatangan lebih riuh.
Wisatawan maupun penduduk setempat menanti Festival Pesona Palu Nomoni, agenda budaya tahunan yang akan digelar malam itu atas kerja sama Pemerintah Kota Palu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, dan Kementerian Pariwisata RI.
Festival yang rencananya digelar tiga hari tersebut (28-30 September) dipusatkan di sepanjang pesisir Teluk Palu—wilayah yang telak dihantam tsunami.
Hotel Roa Roa, salah satu penginapan yang jadi tempat bermalam para tamu dan wisatawan, runtuh rata dengan tanah. Festival sontak batal. Kota berubah mencekam.
Lipsus Negeri Seribu Gempa, Palu, Balaroa
Jalan beraspal hancur di Balaroa, Palu Barat, akibat likuefaksi pasca-gempa. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Gempa kerap menyambangi Indonesia, tak terkecuali di Pulau Jawa, termasuk Jakarta ibu kota negara.
ADVERTISEMENT
Adakah penduduk Negeri Khatulistiwa ini yang belum pernah merasakan tanah bergoyang—baik dengan intensitas lemah atau kuat? Bila ada, jumlahnya tak akan banyak.
Sepanjang 2017 saja, berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah terjadi 6.929 gempa di seantero Indonesia dengan kekuatan beragam. Jumlah itu 1.351 lebih banyak dibanding tahun sebelumnya, 2016, yang ‘hanya’ 5.578 gempa.
Tanah tempat manusia berpijak tidaklah diam. Ia terus bergerak seiring Bumi yang menua. Indonesia, negeri yang terdiri dari kumpulan 17.000 lebih pulau ini, juga terbentuk dari hasil pergerakan tanah di Bumi.
Pada mulanya, tidak ada Indonesia atau Nusantara.
Dahulu, 300 juta-240 juta tahun lalu, hanya ada satu benua besar di Bumi: Pangea.
Ilustrasi Pangea (NOT COVER)
Pangea, benua tunggal di Bumi pada masa lalu (kiri). (Foto: Shutterstock)
Lempeng Pangea bergerak dan meretak 200 juta tahun lalu, pada masa Jura (Jurassic) atau zaman dinosaurus. Kala itu, benua tunggal Pangea terbelah menjadi dua: Laurasia di utara, dan Gondwana di selatan.
ADVERTISEMENT
Pergerakan lempeng Bumi terjadi terus-menerus hingga akhirnya menghasilkan tujuh benua seperti yang ada saat ini—Afrika, Antartika, Asia, Eropa, Australia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Namun, proses pergeseran itu tak berhenti. Lempeng-lempeng Bumi melanjutkan pergerakannya sekitar dua sentimeter per tahun. Maka di masa depan (dalam hitungan geologi, bukan usia manusia yang singkat), tujuh benua yang kini ada akan bergabung kembali menjadi satu benua raksasa.
Pergeseran konstan lempeng Bumi itu pula yang melahirkan Indonesia.
“Terbentuknya Kepulauan Indonesia khas sekali, akibat tumbukan-tumbukan lempeng Samudra Hindia dari arah selatan dan lempeng Samudra Pasifik dari arah timur, yang serempak menumbuk ke lempeng Eurasia. Akibatnya lempeng terlipat dan menjadi pegunungan, perbukitan, dan pulau,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat berbincang dengan kumparan di kantornya, Kemayoran, Jakarta, Kamis malam (4/9).
ADVERTISEMENT
Sepaket dengan terbentuknya pulau-pulau Nusantara, muncullah gunung-gunung api.
“Batuan lempeng samudra bergesekan dengan batuan lempeng benua pada kedalaman lebih dari 900 meter, dengan kekuatan dan kecepatan besar, 7-9 sentimeter per tahun. Ini mengakibatkan tekanan dan temperatur tinggi, sehingga material yang bergesekan meleleh sebagian, dan naik ke atas lewat patahan pada lipatan lempeng menjadi erupsi gunung api.”
Pergeseran, gesekan, dan tumbukan lempeng Bumi itulah yang menyebabkan gempa. Dan Indonesia ialah ‘rumah’ bagi sebagian besar gempa dunia.
Lipsus Negeri Seribu Gempa, zona subduksi di Indonesia
Zona subduksi dan sesar di Indonesia. (Foto: Dok. Badan Geologi)
Gempa akibat tumbukan dua lempeng berpotensi memiliki magnitudo tinggi dan memicu tsunami. Wilayah tempat proses tumbukan itu terjadi disebut zona subduksi.
Subduksi ialah istilah ilmiah dari ‘tumbukan’, yakni proses geologis pada batas-batas lempeng tektonik yang bertingkat, yakni saat lempeng samudra bergerak di bawah lempeng benua, sehingga ia tenggelam karena gravitasi ke dalam mantel Bumi.
ADVERTISEMENT
Zona subduksi pada bagian laut dangkal berpotensi melahirkan gempa besar, dan karenanya kerap disebut megathrust (tumbukan besar). Ada enam megathrust di Indonesia, yang terbagi lagi menjadi 16 segmen megathrust.
Megathrust melingkari nyaris seluruh pulau besar di Indonesia. Di bagian barat, ia membentang dari ujung utara Sumatera, merentang sepanjang timur pulau itu, melintasi selatan Jawa-Bali, hingga ke selatan Nusa Tenggara Timur.
Pada rantai megathrust tersebut, lempeng Indo-Australia yang lebih tebal menghunjam ke arah lempeng Eurasia dengan laju 6-7 sentimeter per tahun. Ketika tumbukan antara kedua lempeng benua itu mencapai titik akumulasi maksimum, terjadilah gempa.
Sementara di bagian timur Indonesia, megathrust merentang di antara lempeng Pasifik dengan Lempeng Eurasia di utara Maluku, Sulawesi, dan Papua. Tumbukan di zona ini diperkirakan dapat menimbulkan gempa bermagnitudo 8,5.
ADVERTISEMENT
Dibanding gempa akibat patahan atau sesar, gempa jenis megathrust memiliki siklus lebih lambat karena periode akumulasi energi yang besar. Gempa Aceh pada 2004 dengan kekuatan 9,1 magnitudo yang memicu tsunami setinggi 9 meter ialah contoh gempa megathrust dahsyat.
Sementara gempa Palu dengan kekuatan 7,4 magnitudo merupakan jenis gempa sesar yang tak lazim memicu tsunami. Namun, tsunami menerjang pesisir Palu karena getaran gempa menyebabkan longsornya sedimen di dasar laut. Indikasi ini terlihat dari keruhnya air laut ketika menghantam daratan, yang artinya telah bercampur lumpur sedimen.
Posisi geografis Palu di ujung teluk sempit juga meningkatkan energi gelombang laut, dan dengan cepat mengarahkannya ke teluk. Alhasil, ombak kian tinggi ketika bergerak mendekati daratan.
Lipsus Negeri Seribu Gempa, pesisir Palu, gempa Palu
Pesisir Palu pasca-gempa dan tsunami. (Foto: AFP/Jewel Samad)
Bukan cuma Palu yang berdiri di atas lempeng sesar. Selain ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu, sejumlah kota besar lain di Indonesia juga terletak di lintasan sesar aktif. Berdasarkan Buku Peta Gempa Bumi yang diterbitkan Pusat Gempa Nasional pada 2012, jumlah sesar aktif di Indonesia ialah 295. Itu yang telah diteliti sampai 2012, tentu tak termasuk yang belum diteliti.
ADVERTISEMENT
Dari 295 sesar aktif tersebut, beberapa di antaranya melintasi kota besar dan permukiman padat penduduk di Jawa dan Sumatera. Sesar Sumatera yang merupakan patahan terpanjang di Indonesia, membentang di pesisir timur Sumatera sejauh 1.900 kilometer, dari ujung Aceh hingga Selat Sunda.
Sementara di Jawa, sesar Kendeng melintasi Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Ada pula sesar sesar Opak di Bantul, Yogyakarta; sesar Lembang di Kabupaten Bandung; sesar Cimandiri di Sukabumi, Cianjur, dan Bandung Barat—yang terus melintang hingga bertemu sesar Lembang di Padalarang dan sesar Baribis di Subang.
Nama sesar Baribis pertama kali muncul dalam riset Achraf Koulali, peneliti geodesi Australian National University, yang dipublikasikan tahun 2016. Sesar ini merentang 25 kilometer di selatan Jakarta, dari Purwakarta dan Bekasi di Jawa Barat, terus ke barat sampai Tangerang dan Rangkasbitung di Banten yang memiliki populasi padat.
ADVERTISEMENT
Pergeseran lempeng pada sesar Baribis, merujuk ke Peta dan Sumber Gempa 2017, berpotensi menimbulkan gempa sampai magnitudo 6,5.
Jumlah penduduk yang tak sedikit di lintasan sesar aktif, tak pelak membuat mitigasi bencana urgen dibenahi.
“Kota-kota besar kita banyak yang memiliki risiko tinggi terhadap gempa, sehingga masyarakat harus diedukasi,” ujar Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, kepada kumparan di Jakarta Pusat, Rabu (3/10).
Lipsus Negeri Seribu Gemoa, Erupsi Gunung Sinabung
Erupsi Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara. (Foto: ANTARA/Maz Yons)
Garangnya alam Indonesia di jantung cincin api Pasifik bukan cuma diindikasikan oleh banyaknya gempa, tapi juga aktivitas gunung berapi—yang pula dapat memicu gempa.
Saat ini, sejumlah gunung api di Indonesia tengah aktif. Sabtu (29/9), Gunung Kerinci di Jambi mengalami erupsi. Rabu (3/10), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang sudah aktif sejak Agustus, meletus 156 kali.
ADVERTISEMENT
Pada hari yang sama, Gunung Soputan di Minahasa, Sulawesi Utara, juga erupsi. Menyusul sehari sesudahnya, Kamis (4/10), Gunung Gamalama di Ternate, Maluku Utara, meletus pula.
Apakah terdapat kaitan antara gempa dengan aktivitas vulkanik gunung-gunung api?
Hingga saat ini, menurut peneliti gempa LIPI Mudrik Darmawan, ilmuwan belum bisa menemukan hubungan pasti antara gempa dan erupsi.
Meski demikian, ujar Daryono, gempa bisa saja memicu aktivitas gunung api jika kondisi gunung tersebut memang sedang aktif.
“Gunung bisa terpicu jika magmanya sedang cair atau tidak kental, dan kandungan gasnya banyak. Tapi kalau magma kental dan kandungan gasnya sedang tidak banyak, sulit untuk diintervensi gempa bumi.”
Ucapan itu diiyakan ahli vulkanologi ITB Mirzam Abdurrachman secara terpisah. “Kalau magma sudah hampir penuh lalu terguncang gempa, memang bisa (meletus).”
ADVERTISEMENT
Hal tersebut, misalnya, terjadi ketika Gunung Agung meletus pada Juli lalu. Saat itu, letusan Gunung Agung didahului gempa bermagnitudo 4,6 di selatan Bali. Itu sebabnya erupsi Gunung Agung mengeluarkan banyak abu berwarna putih, bukan material vulkanik.
Walau begitu, lanjut Mirzam, aktivitas vulkanik Gunung Soputan dan Gamalama kemungkinan tidak terkait langsung dengan gempa Palu.
Gempa yang terjadi sebelum Gamalama meletus pun merupakan gempa vulkanik, bukan tektonik seperti yang memicu meletusnya Gunung Agung di Bali.
Gempa tektonik terjadi akibat tumbukan lempeng Bumi, sedangkan gempa vulkanik karena aktivitas magma gunung berapi.
“Soputan dan Gamalama memang sudah masuk periode aktif. Soputan meletus dengan interval tiga tahunan—2012, 2015, dan karenanya diperkirakan ada letusan pada 2018,” kata Mirzam, Sabtu (6/10).
ADVERTISEMENT
Seperti gunung api, gempa tektonik juga punya siklus. Ia biasa berulang pada periode tertentu di lokasi yang sama (recurrent event).
“Bahasa awamnya adalah ulang tahun gempa,” ujar Mudrik di Kampus LIPI Bandung.
Lipsus Negeri Seribu Gempa, Korban Gempa Palu
Korban gempa Palu mendapat perawatan di luar rumah sakit. (Foto: AFP/Muhammad Rifki)
Dengan 6.929 gempa sepanjang 2017, 5.578 gempa di tahun 2016, dan 434 gempa di dua bulan pertama 2018, mitigasi bencana jadi perkara genting.
“Indonesia punya persoalan serius dalam manajemen pengurangan risiko bencana,” kata peneliti gempa Irwan Meilano. Teknologi kurang, kesadaran masyarakat pun rendah.
Kesadaran perlu dipupuk segera. Kenyataan bahwa Indonesia adalah lempeng Bumi yang terus aktif bergerak, harus diinsafi betul oleh 265 juta penduduknya.

Manusia tidak bisa melawan alam. Pengaturan tata ruang mutlak diperlukan di zona rawan bencana.

- Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG

ADVERTISEMENT
------------------------
Ikuti laporan mendalam Negeri Seribu Gempa di Liputan Khusus kumparan
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan