kumparan
4 Maret 2019 20:55

Berkaca dari Kasus Andi Arief, Ini Efek Sabu pada Tubuh Manusia

Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief
Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Politikus Demokrat, Andi Arief, ditangkap atas dugaan penggunaan narkoba jenis sabu. Andi ditangkap pada Minggu (3/3) di Hotel Peninsula di Jakarta Barat. Penangkapan dilakukan oleh tim dari Direktorat IV Narkoba Bareskrim Polri.
ADVERTISEMENT
Sabu yang diduga digunakan Andi adalah salah satu bentuk dari metamfetamin. Obat terlarang tersebut bisa berbentuk bubuk atau kristal. Penggunaannya bisa bermacam-macam, biasanya pengguna sabu menghirup bubuknya, menyuntiknya ke tubuh, atau membakarnya.
Dr Nicole Lee, profesor di National Drug Research Institute, Curtin University, Australia, mengatakan kecepatan efek penggunaan sabu pada tubuh bisa bermacam-macam. Semua tergantung bentuk, dosis, dan bagaimana cara orang menggunakan sabu itu.
"Kebanyakan orang akan mengisap asapnya, menyuntikkannya ke tubuh, atau menelan pilnya," kata Lee kepada ABC News.
"Kalau Anda mengisap asapnya, efeknya Anda akan langsung 'nge-fly' dalam hitungan menit. Sementara kalau Anda menelannya, efek yang dirasakan akan lebih lambat. Perlu waktu sekitar 20 menit sebelum Anda merasakan efeknya," tambah dia.
ADVERTISEMENT
Sabu dikatakan punya efek sangat menyenangkan dan menenangkan bagi pemakainya. Menurut para penggunanya, mereka merasa memiliki banyak energi dan bisa berpikir lebih jernih. Mereka mengaku merasa bisa mengambil keputusan yang lebih baik dan melakukan sebuah rencana lebih efektif.
Barang bukti Andi Arief
Barang bukti yang ditemukan di kamar hotel yang digunakan Andi Arief. Foto: Dok. Istimewa
Hal tersebut adalah akibat dari senyawa metamfetamin. Senyawa tersebut bisa meningkatkan tingkat hormon dopamin di tubuh hingga 1000 kali lipat dari biasanya. Efek ini jauh lebih besar dibanding obat terlarang lainnya.
Efeknya pada fisik bermacam-macam. Mulai dari pelebaran pupil mata, peningkatan detak jantung serta kemampuan bernapas, menurunnya nafsu makan, dan peningkatan nafsu birahi.
Efek obat terlarang jenis sabu biasanya antara empat hingga 12 jam. Sedangkan keberadaan senyawa metamfetamin pada darah dan urine bisa bertahan hingga 72 jam.
ADVERTISEMENT
24 jam setelah pemakaian sabu, tubuh pengguna biasanya mulai merasa kebalikan dari apa yang mereka rasakan saat sedang giting. Jadi, penggunanya akan kesulitan mengambil keputusan dan sulit berkonsentrasi.
Mereka juga bisa mengalami sakit kepala, penglihatan kabur, dan merasa lapar. Lee mengatakan bahwa pengguna juga akan merasa depresi, gelisah, lesu, dan cemas.
Ilustrasi orang depresi.
Ilustrasi depresi akibat pakai sabu. Foto: Thinkstock
Pengguna sabu akan merasa sangat lelah dan ingin tidur hingga berhari-hari, meski mereka akan kesulitan untuk bisa tidur lelap.
Lee menjelaskan bahwa ada pengguna yang akan menjadi mudah marah atau mengalami simtom paranoia dan halusinasi.
"Periode 'turun' ini mirip ketika orang baru selesai mabuk. Ini adalah periode pemulihan di mana orang bisa terkena sindrom putus obat (withdrawal) jika mereka telah jadi pencandu," papar Lee.
Ilustrasi Sabu
Ilustrasi Sabu Foto: Ronny Muharman/Antara
ADVERTISEMENT
Mulai ketagihan
Ketika pengguna mulai ketagihan dan sering pakai sabu atau menggunakannya pada dosis yang lebih tinggi, efek yang tak menyenangkan semakin banyak muncul. Mulai dari jantung berdebar-debar, napas terengah-engah, peningkatan temperatur tubuh, mulut kering, mual, dan muntah-muntah.
Pada tingkat overdosis, pengguna bisa mengalami stroke atau gagal jantung. Penggunaan dosis yang lebih tinggi bisa membuat pengguna merasa mudah cemas, agresif, dan menjadi lebih berbahaya. Hal ini bisa membuat merasakan paranoia intens atau seperti kehilangan akal.
Ilustrasi wanita cemas
Ilustrasi persaan paranoia intens. Foto: Thinkstock
Hal-hal tersebut disebabkan oleh senyawa metamfetamin. Senyawa tersebut mengeluarkan neurotransmitter atau pembawa sinyal dari neuron ke neuron lainnya di dalam otak yang bernama noradrenaline. Neurotransmitter tersebut menginduksi respons "lawan" atau "kabur" di otak seseorang.
Respons inilah yang membuat seseorang berperilaku aneh. Bisa bersikap seolah ketakutan sendiri, bisa menghindari semua orang, bisa juga menyerang dan merugikan orang lain.
ADVERTISEMENT
Yah, intinya, jangan seperti Andi. Sebaiknya kita hindari obat terlarang seperti sabu ini ya, guys.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan