kumparan
Tekno & Sains5 Maret 2020 7:00

Cerita Warga Korsel yang Isolasi Diri Akibat Virus Corona: Jenuh hingga Depresi

Konten Redaksi kumparan
PTR- virus corona di Korea Selatan
Petugas menyemprotkan disinfektan di pasar ikan di Busan, Korea Selatan. Foto: REUTERS
Virus corona menghantui sejumlah negara di dunia, salah satu yang terdampak adalah Korea Selatan.
ADVERTISEMENT
Seorang warga Gumi-dong, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, merasa gelisah. Kejenuhan mulai menghinggapi pustakawan berusia 32 tahun itu.
Ia yang kini tengah mengandung buah hati keduanya, terpaksa harus tinggal di rumah sepanjang hari, menemani sang putri sulung yang masih berusia empat tahun. Ini sudah hari keempat, sejak tempat penitipan anak di wilayah tersebut ditutup akibat wabah virus corona COVID-19.
“Aku sedang hamil jadi harus sangat berhati-hati dengan situasi yang tengah terjadi saat ini, juga tak ada tempat bagi anak sulungku untuk bermain hari ini. Situasi ini sangat menegangkan bagiku dan putriku,” keluh wanita yang kini memasuki usia kehamilan 7 bulan itu, seperti dikutip The Korea Herald.
“Selama empat hari terakhir, 15 menit berjalan kaki ke toko kelontong untuk membeli makanan adalah satu-satunya tujuanku meninggalkan rumah,” imbuhnya.
VIrus Corona di Korea Selatan
Seorang wanita mengenakan masker untuk mencegah tertular coronavirus ketika duduk di pasar tradisional di Kota Seoul, Korea Selatan, Senin (24/2). Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji
Situasi mencekam di Negeri Ginseng seperti yang dikisahkan wanita itu sangat masuk akal mengingat angka penderita virus corona di sana meroket tajam. Bahkan salah satu warga yang terinfeksi SARS-CoV-2 dilabeli sebagai penyebar super dengan sebutan Pasien 31.
ADVERTISEMENT
Dilansir The Korea Herald, jumlah korban terjangkit di Korea Selatan per Rabu (4/3) mencapai 5.621orang. Sementara sebanyak 34 orang tak terselamatkan nyawanya akibat virus mematikan SARS-CoV-2. Sampai saat ini, negara yang dipimpin Moon Jae-in itu menduduki peringkat kedua sebagai penyebaran wabah virus corona terbesar setelah China.
Akibat jumlah kasus baru virus corona terus meningkat, orang-orang mulai mengisolasi diri mereka untuk mencegah kemungkinan tertular. Banyak perusahaan yang juga menginstruksikan para karyawannya untuk bekerja dari rumah sejak pekan lalu.
Upaya tersebut ternyata berpengaruh besar pada kesehatan mental warga Korea Selatan. Saat mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, beberapa sudah mulai mengalami depresi. Keluhan itu mulai ditunjukkan di platform media sosial dalam unggahan berbunyi, “Apakah ini depresi yang disebabkan coronavirus? Saya merasa sedih akhir-akhir ini di rumah. Saya ingin sekali bertemu dan berbicara dengan orang-orang di luar sana.”
ADVERTISEMENT
Apa yang menimpa warga Korea Selatan bisa jadi, juga merupakan imbas dari kampanye yang digalakkan Asosiasi Medis Korea (KMA) mulai Selasa (3/3). Kampanye 3-1-1 yang diluncurkan pihak KMA menyarankan warga untuk membatasi kontak dengan orang lain dan tinggal di rumah selama minggu pertama di bulan Maret.
"Setiap upaya individu sangat penting pada saat ini untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut," kata KMA dalam siaran pers.

Cara atasi depresi karena virus corona

Jeon Byung-hee, seorang psikiater di Klinik Psikiatri Gonggam, mengatakan ia melihat pasien yang mengalami hipokondria, atau sangat cemas tentang kesehatan mereka. Beberapa bahkan mengeluhkan claustrophobic, yakni ketakutan berlebih terhadap ruangan kecil atau sempit.
"Orang-orang cenderung berpikir macam-macam ketika jumlah aktivitas fisik mereka berkurang, jadi saya mendorong orang untuk berjalan-jalan sebentar di luar, selama mereka tidak terinfeksi," saran Jeon. Menurut dia, cara semacam ini akan lebih baik untuk mencegah flu biasa atau bahkan infeksi virus corona.
VIrus Corona di Korea Selatan
Para pekerja mengenakan pakaian pelindung saat menyemprotkan desinfektan untuk mencegah COVID-19 di pasar lokal di Kota Daegu, Korea Selatan, Mingg (23/2). Foto: AP Photo/Ahn Young-joon
Depresi yang dialami warga Korea Selatan, imbuh Jeon, sekaligus menjelaskan bahwa dengan mengurung diri di rumah, akan mempengaruhi kesehatan seseorang baik secara psikologis maupun fisik.
ADVERTISEMENT
Yoon Dae-hyun, seorang profesor klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Nasional Seoul, menyarankan bahwa penting untuk menganggap kecemasan dan depresi sebagai hal yang wajar dalam keadaan saat ini.
"Orang-orang mungkin telah merasakan kecemasan pertama tentang penyebaran virus, kemudian mulai merasakan beberapa jenis depresi karena ada jarak sosial, yang sebenarnya wajar, pada saat ini," katanya.
“Peristiwa ini (wabah COVID-19) sangat menguras otak karena terus bekerja (untuk bertahan hidup). Metodenya (penularan) tidak pasti, sulit diprediksi dan tidak jelas kapan akan berakhir,” kata Yoon.
virus corona di Korea Selatan
Pejalan kaki memakai masker di luar Stasiun Kereta Api Seoul di Seoul, Korea Selatan. Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji
“Banyak energi yang terkuras, tetapi ada sangat sedikit cara untuk mengisi ulangnya, seperti bertemu dengan orang-orang untuk obrolan ringan, keluar untuk acara budaya atau menghargai alam. Kelelahan terjadi dengan mudah. Maka kita mungkin mengalami depresi,” jelas Yoon.
ADVERTISEMENT
Namun warga tak boleh tinggal diam. Yoon menyarankan agar mereka mencari beragam alternatif untuk meringankan beban pikiran akibat emosi negatif. Misalnya bisa dengan cara melakukan hobi di rumah atau mengobrol dengan anggota keluarga.
Kang Ji-su, seorang peneliti berusia 30 tahun, mengatakan dia telah mendaftar untuk kelas melukis online untuk mengurangi kebosanan karena terisolasi di rumah.
“Waktu berlalu ketika saya sedang melukis. Saya juga berpikir tentang mendaftar untuk kelas kaligrafi, " kisah Ji-su.
Daripada berkeliaran ke tempat-tempat ramai, beberapa orang telah mengunjungi toko kecil untuk berbelanja - atau hanya untuk berbagi informasi dan terlibat dalam obrolan ringan.
"Jumlah pelanggan sudah pasti berkurang, tetapi masih ada beberapa orang yang keluar untuk mengunjungi toko-toko kecil seperti kami, bukannya department store besar atau pasar untuk menghindari orang," kata pemilik toko pakaian di Seongnam, Provinsi Gyeonggi.
VIrus Corona di Korea Selatan
Seorang wanita mengenakan masker untuk mencegah tertular coronavirus di pasar tradisional di Kota Seoul, Korea Selatan, Senin (24/2). Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji
Seorang guru sekolah menengah yang sering menyelenggarakan acara pertemuan sosial melalui aplikasi online berbasis komunitas, mengatakan ia mengatasi "kebosanan ekstrem" di rumah dengan cara yang positif.
ADVERTISEMENT
“Dulu saya senang bergaul dengan orang-orang di rumah atau di kafe. Tapi sekarang saya mencoba menemui mereka di luar, seperti di taman, ”katanya.
Sementara itu, yang lainnya memanfaatkan waktu yang dihabiskan di rumah untuk menenangkan diri. Park U-hee (32) mantan pramugari misalnya, mulai menjual pakaiannya secara online saat tinggal di rumah dan membersihkan lemari pakaiannya.
"Tidak banyak hal yang dapat dilakukan di rumah, jadi saya mulai menjual pakaian yang tidak lagi saya kenakan. Saya perlu menata kembali lemari saya karena musim semi sudah dekat," katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan