Tekno & Sains
·
17 November 2020 9:06

Cuaca Jabodetabek Panas Lembap Padahal Musim Hujan, Ini Penjelasan BMKG

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Cuaca Jabodetabek Panas Lembap Padahal Musim Hujan, Ini Penjelasan BMKG (13514)
matahari terik cuaca panas Foto: Shutterstock
Cuaca di Jabodetabek, bahkan sebagian besar wilayah Pulau Jawa hingga NTT, beberapa hari terakhir ini panas sekali dan lembap, walaupun sudah memasuki musim hujan sejak akhir Oktober.
ADVERTISEMENT
Karena cuaca terik begini, sampai ada pesan hoaks beredar di WhatsApp yang mengatakan bahwa Indonesia dilanda gelombang panas. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membantah kabar tersebut. Kondisi saat ini tak bisa dikatakan sebagai gelombang panas.
Agar dianggap sebagai gelombang panas, suatu daerah harus mencatat suhu maksimal harian melebihi ambang batas statistik, misalnya 5 derajat celcius lebih panas dari rata-rata klimatologis suhu maksimal, dan itu berlangsung dalam lima hari berturut-turut. Apabila suhu maksimal tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama, maka tidak dikatakan sebagai gelombang panas.
Berdasarkan pantauan BMKG, suhu tertinggi siang hari memang mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Tercatat, lebih dari 36 derajat Celcius terjadi di Bima, Sabu, dan di Sumbawa, pada catatan meteorologis tanggal 12-11-2020. Suhu panas tertinggi pada hari itu tercatat di Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Bima yaitu 37,2 °C. Namun, suhu ini bukan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimal pada wilayah ini. Ia masih berada dalam rentang variabilitasnya di bulan November.
Cuaca Jabodetabek Panas Lembap Padahal Musim Hujan, Ini Penjelasan BMKG (13515)
Ilustrasi cuaca panas. Foto: Miguel MEDINA / AFP
BMKG menjelaskan, setidaknya ada dua faktor yang membuat suhu udara di Jakarta panas dan sebagian besar wilayah Pulau Jawa mengalami peningkatan suhu.
ADVERTISEMENT
Pertama, pada bulan November, kedudukan semu gerak Matahari berada tepat di atas Pulau Jawa dalam perjalannya menuju posisi 23 lintang selatan setelah meninggalkan ekuator.
Posisi semu Matahari di atas Pulau Jawa ini bakal terjadi 2 kali yaitu November dan April 2021, sehingga puncak suhu maksimal mulai dari Jawa, Bali, hingga NTT, terjadi di bulan-bulan tersebut.
Kedua, cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan.
Cuaca cerah di Jabodetabek dalam dua hari terakhir juga berkaitan dengan berkembangnya siklon tropis Vamco di Laut Cina Selatan yang menarik masa udara dan awan-awan sehingga menjauhi wilayah Indonesia bagian selatan sehingga cuaca cenderung menjadi lebih cerah dalam beberapa hari terakhir.
ADVERTISEMENT