Tekno & Sains
·
4 Januari 2018 18:59

DNA Bayi Berusia 11.500 Tahun Ungkap Identitas Penduduk Asli Amerika

Konten ini diproduksi oleh kumparan
DNA Bayi Berusia 11.500 Tahun Ungkap Identitas Penduduk Asli Amerika (93340)
Situs arkeologi Upward Sun River, Alaska (Foto: Ben Potter/University of Alaska Fairbanks)
Perdebatan mengenai hukum yang mengatur imigrasi di Amerika Serikat selalu dimentahkan dengan penyataan bahwa warga kulit putih yang kini menjadi penduduk mayoritas di Amerika juga sebenarnya pendatang.
ADVERTISEMENT
Bila warga kulit putih Amerika ternyata bukanlah penduduk asli, lalu siapa sebenarnya penduduk asli Amerika? Siapa itu Native American atau penduduk asli Amerika? Apakah mereka sudah berada di tanah Amerika sejak awal ataukah ternyata mereka juga datang dari tempat lain?
Penemuan jenazah bayi perempuan berusia 11.500 tahun di situs arkeologi Upward Sun River, Alaska, Amerika Serikat telah memberi titik terang baru. Analisis genetis sisa-sisa jenazah bayi itu mungkin bisa menunjukkan siapa sebenarnya penduduk pertama Amerika. Bayi ini baru berusia beberapa minggu ketika dulu meninggal.
“Ini adalah jenazah manusia tertua yang ditemukan di Alaska. Yang lebih menarik, ternyata bayi ini adalah bagian dari kelompok masyarakat yang belum pernah diketahui sebelumnya,” kata Profesor Eske Willersev, ahli genetika evolusi dari University of Copenhagen yang meneliti jenazah tersebut, dilansir BBC.
ADVERTISEMENT
“Populasi kelompok ini memiliki hubungan paling dekat dengan penduduk asli Amerika modern. Bisa dikatakan, mereka adalah kelompok yang paling asli dan paling awal menduduki Amerika. Dan penemuan bayi ini mungkin dapat menunjukkan siapa leluhur Orang Amerika Asli.”
DNA Bayi Berusia 11.500 Tahun Ungkap Identitas Penduduk Asli Amerika (93341)
Situs arkeologi Upward Sun River, Alaska (Foto: Ben Potter/University of Alaska Fairbanks)
Dikutip Live Science, penjelasan-penjelasan sebelumnya mengenai kedatangan manusia di benua Amerika berawal dari Zaman Es Pleistosen 15 ribu tahun lalu. Saat itu orang-orang menyeberangi Beringia.
Beringia sendiri adalah sebutan untuk Selat Bering yang masih membeku, sehingga orang-orang dari Daratan Asia bisa berjalan hingga ke Amerika melalui jalur darat. Saat ini, Selat Bering menjadi penghubung antara Rusia dan Alaska.
Hasil analisis DNA pada jenazah bayi di Alaska tersebut menunjukkan, DNA bayi itu sudah berbeda dengan penduduk Asia di bagian timur laut.
ADVERTISEMENT
Analisis DNA juga menunjukkan, DNA yang dimiliki oleh penduduk awal Alaska berbeda secara genetis dari dua cabang leluhur penduduk asli Amerika.
Penemuan ini juga menunjukkan, penduduk asli Amerika ternyata sudah berbeda secara genetis dari leluhur Asia mereka sejak 25 ribu tahun lalu. Kemungkinannya sebelum menduduki Amerika, para leluhur penduduk asli Amerika ini terlebih dahulu menghuni Beringia selama 10 ribu tahun.Para penghuni Beringia ini kemudian dianggap sebagai kelompok masyarakat baru yang diberi nama Beringian kuno.
Menurut studi yang telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 3 Januari 2018, Beringian kuno muncul sejak 20 ribu tahun lalu, sedangkan leluhur penduduk asli Amerika muncul 17 ribu hingga 14 ribu tahun yang lalu.
Bumi bagian utara adalah bagian Bumi paling terakhir yang dihuni oleh manusia modern yang berasal dari Afrika. Karena itu, masih banyak yang perlu dipelajari mengenai bagaimana manusia bisa bermigrasi dan beradaptasi di sana.
ADVERTISEMENT
Beringian kuno yang hidup di utara pada 12 ribu hingga 6 ribu tahun lalu harus berhadapan dengan perubahan alam yang drastis, perubahan iklim, kepunahan hewan-hewan, dan menghilangnya hutan hijau.
Mereka bisa hidup tanpa banyak perubahan teknologi, dan menggunakan alat batu yang disebut sebagai microblade.
Alat batu ini banyak digunakan oleh pemburu dan peramu di Asia, tapi tidak banyak digunakan di Amerika Utara maupun Selatan, kata Ben Potter, profesor di Departemen Antropologi, University of Alaska Fairbanks yang turut meneliti hal ini.
Potter mengatakan, memahami strategi adaptasi, inovasi, organisasi sosial, serta bagaimana Beringian kuno bekerja sama dan menggunakan alat-alat adalah penting bagi kita untuk mempelajari spesies kita sendiri.