Tekno & Sains
·
10 Agustus 2020 10:34

Eijkman soal Pengembangan Vaksin Corona: Kalau Bisa Sekali Suntik

Konten ini diproduksi oleh
Eijkman soal Pengembangan Vaksin Corona: Kalau Bisa Sekali Suntik (45368)
Petugas kesehatan menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis vaksin COVID-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8). Foto: M Agung Rajasa/ANTARA FOTO
Uji klinis vaksin corona Sinoavac di Indonesia akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengungkap rencana pengembangan vaksin di Indonesia tersebut untuk menangkal virus corona SARS-CoV-2.
ADVERTISEMENT
Amin menjelaskan, idealnya vaksin corona harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain dari sudut imunitasnya, serta kalau bisa sekali suntik dan bertahan seumur hidup. Antibodi yang terkandung dalam vaksin corona diharapkan dapat bertahan dalam satu kali suntik.
"Sebagai gambaran umum bagaimana situasi yang harus kita hadapi bersama terkait dengan pengembangan vaksin di Indonesia, antara lain dari sudut imunitasnya, kalau bisa sekali suntik," kata Amin dalam Webinar bertema "Ilmuwan Merespons Pandemi", Sabtu (8/8) dikutip Antara.
Selain itu, Amin mengatakan vaksin corona dapat digunakan oleh semua umur, dari bayi sampai orang tua. Vaksin tersebut juga diharapkan sedapat mungkin disuntikkan hanya satu kali saja.
Eijkman soal Pengembangan Vaksin Corona: Kalau Bisa Sekali Suntik (45369)
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio seusai RDPU dengan Komisi VII DPR, Senin (17/2). Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan
"Kemudian juga imunitas yang dibentuk juga mencakup humoral dan seluler, kalau bisa. Dan juga ini efektif untuk semua umur. Ini kita harapkan dari bayi sampai orang tua, idealnya begitu. Tapi tidak selalu bisa berhasil," kata dia.
ADVERTISEMENT
"Enggak perlu ada booster dua kali, tiga kali, dan sebagainya," tambahnya.
Pernyataan tersebut sedikit berbeda dengan pendapat miliader yang juga pendiri Microsoft, Bill Gates. Ia menyebut bahwa seseorang perlu diberikan vaksin virus corona lebih dari sekali untuk membuat diri mereka kebal dari SARS-CoV-2.
Menurut laporan Fox News, komentar Gates tersebut muncul setelah pengembang vaksin virus corona memperlihatkan bahwa vaksin tersebut mungkin tidak memberikan kekebalan penuh setelah diberikan hanya dengan satu dosis saja. Suntikan vaksin lebih lanjut perlu diberikan satu bulan setelah seseorang mendapatkan dosis vaksin yang pertama, dengan suntikan dosis lanjutan beberapa tahun kemudian.
Selain soal pengembangan vaksin corona sekali seumur hidup, Amin juga menjelaskan vaksin sedapat mungkin tidak menyebabkan auto-immunity atau reaksi hipersensitivitas. Jika sistem kekebalan tubuh menimbulkan berbagai macam reaksi yang tidak diinginkan atau hipersensitivitas, bisa merusak tubuh hingga membuat tak nyaman, bahkan berakibat fatal.
Eijkman soal Pengembangan Vaksin Corona: Kalau Bisa Sekali Suntik (45370)
Infografik Tahapan Uji Klinis Vaksin Corona Sinovac. Foto: Chia Aulia/kumparan
Persyaratan vaksin corona berikutnya dalam pengembangan vaksin adalah harus aman, efektif, dan terjangkau. Kecepatan produksi juga harus lebih cepat dan sedapat mungkin tidak terlalu kompleks.
ADVERTISEMENT
Berikutnya yang terpenting dalam tahapan pengembangan vaksin adalah selain perlunya persetujuan cepat dari pemerintah, masyarakat juga diharapkan bisa menerima kehadiran vaksin tersebut.
"Salah satu mungkin yang akan menjadi pertanyaan adalah masalah halal dan sebagainya," katanya.
Pengembangan vaksin corona di Indonesia akan memasuki babak baru. Universitas Padjadjaran (Unpad) bersama PT. Bio Farma, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mulai uji klinis vaksin corona pada Selasa (11/8) mendatang.
Proses uji klinis akan dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Kampus Unpad Dipati Ukur, serta 4 Puskesmas di Kota Bandung. Ketua tim riset uji klinis Unpad Prof. Kusnandi Rusmil mengatakan, uji klinis dilakukan maksimal 20 orang per hari di setiap lokasi pengujian. Hal ini dilakukan untuk memenuhi aspek kewaspadaan terhadap pandemi COVID-19.
ADVERTISEMENT
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K. Lukito memastikan bahwa vaksin adalah Sinovac Biotech, China, ini sudah memenuhi standar keamanan Badan POM. Selain itu, proses uji klinis juga sudah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Unpad.