kumparan
3 Mei 2018 20:59 WIB

Georges Méliès, Pesulap yang Jadi Pembuat Film Fiksi Ilmiah Pertama

Google Doodle Georges Melies (Foto: Google)
Hari ini (3/5), Google meluncurkan Google Doodle istimewa mereka dalam rangka peringatan 106 tahun film fiksi ilmiah bersejarah, The Conquest of the Pole, yang diluncurkan pada 3 Mei 1912 dan disutradarai oleh Georges Méliès.
ADVERTISEMENT
Doodle kali ini lain daripada Doodle biasanya. Sebab, untuk pertama kalinya, Google Doodle disajikan dengan konsep virtual reality (VR) sehingga bisa dinikmati dengan menggunakan perangkat VR dan video disajikan dengan teknologi video 360 derajat.
Bukan hanya teknologi Google Doodle terbaru yang menarik untuk dibahas, tetapi sosok George Melies yang ditampilkan dalam Doodle ini pun menarik untuk dibahas.
Georges Méliès lahir pada tahun 1861 di Paris dan terlahir dari keluarga pembuat sepatu. Sejak masih sekolah, Méliès sudah merasakan darah seninya bergejolak sehingga seringkali ia mengabaikan pelajarannya dan lebih memilih untuk menggambar sketsa atau karikatur teman-teman dan gurunya.
Georges Melies dalam The Vanishing Lady. (Foto: Georges Melies via Wikimedia Commons)
Méliès kemudian pergi ke London untuk magang pada seorang teman keluarganya dan dari situ, ia mulai tertarik pada pertunjukan sulap yang dibawakan oleh John Nevil Maskelyne, ilusionis Inggris. Sejak saat itu Méliès mulai bermimpi untuk menjadi ahli sulap.
ADVERTISEMENT
Sambil bekerja di pabrik sepatu milik keluarganya, Méliès tetap mengejar impiannya untuk menjadi pesulap. Dari uang yang ia kumpulkan selama bekerja di pabrik sepatu dan dibantu oleh harta istrinya, Eugénie Genin, Méliès membeli sebuah teater yang bernama Théâtre Robert-Houdin dan mulai menjalani kehidupan sebagai seorang pesulap.
Bukan hanya pesulap, Méliès juga merupakan ilusionis kreatif yang menciptakan sendiri trik-trik ilusi untuk menghibur penonton. Latar belakangnya sebagai pesulap dan ilusionis inilah yang kemudian membawanya menjadi sutradara yang inovatif.
Kamera untuk Membuat Film
Cinematographe. (Foto: Victorgrigas via Wikimedia Commons)
Méliès melihat adanya potensi pada penemuan Lumière Bersaudara yang diberi nama Cinematographe, cikal bakal dari kamera untuk membuat film pada tahun 1895.
Méliès awalnya mencoba memaksa Lumière Bersaudara untuk menjual kamera mereka, tapi ia mengalami penolakan sehingga akhirnya ia membeli kamera film dari orang lain. Dari sinilah berbagai terobosan yang kemudian menjadi bagian penting dari dunia perfilman mulai dibuat oleh pria Prancis itu.
ADVERTISEMENT
Pionir Spesial Effect dan Editing Film
George Melies dalam One Man Band (Foto: Georges Melies via Wikimedia Commons)
Méliès merupakan pionir dari special effect dan editing pada film. Dalam film The Vanishing Lady (1896), ia membuat efek seolah-olah wanita dalam film menghilang dengan cara merekam suatu adegan, menghentikan kameranya, kemudian merekam lagi adegan lain.
Dan masih pada tahun yang sama, Méliès membuat film The Haunted Castle yang memperlihatkan adegan-adegan tokohnya hilang dan muncul tiba-tiba seperti sulap.
Pada 1897, Méliès membuat film berdurasi satu menit yang menjadi film pertama yang menampilkan ‘ketelanjangan’, After the Ball. Film terobosan ini memperlihatkan seorang wanita yang dibantu oleh dayangnya untuk mandi.
Meski disebut mengandung unsur ketelanjangan, sebenarnya wanita dalam film ini tidak benar-benar telanjang, tetapi hanya menggunakan pakaian dalam tipis.
ADVERTISEMENT
Video
Selain pionir dari special effect dan editing pada film, Méliès juga dikenal sebagai penemu dari teknik multiple exposure. Berkat teknik ini, film bisa menciptakan kembaran dari aktornya.
Pada tahun 1900, dalam film The One-Man Band, Méliès membuat sebuah film yang memperlihatkan tujuh kembaran dari dirinya sedang bermain musik selayaknya sebuah kelompok musik.
Video
Film Fiksi Ilmiah Pertama
Adegan dari The Voyage to the Moon. (Foto: Georges Melies via Wikimedia Commons)
Dan akhirnya, pada tahun 1902, Méliès melahirkan film fiksi ilmiah atau science fiction pertama di dunia dengan durasi 18 menit yang berjudul A Trip To The Moon.
Tentu saja penampakan film fiksi ilmiah karya Méliès jauh berbeda dengan fiksi ilmiah abad 21, seperti misalnya Gravity, Inception, ataupun Blade Runner 2049 yang memiliki efek visual canggih dan membuat penonton seperti berada di dunia lain. Namun tanpa film A Trip To The Moon, wajah film fiksi ilmiah di masa perfilman modern mungkin akan berbeda.
ADVERTISEMENT
Dalam salah satu adegan yang paling ikonik di film A Trip To The Moon, diperlihatkan sebuah ‘roket’ diluncurkan ke bulan. Dari situ, terlihat bulan dari kejauhan, tiba-tiba semakin dekat, dan akhirnya terlihat bulan punya wajah. Roket pun mendarat di mata bulan dan keluar cairan dari mata tersebut.
Méliès sendiri mengatakan film A Trip To The Moon menguras semua trik perfilman yang ia pelajari dan ia temukan sendiri. Kalau biasanya Méliès hanya mengandalkan trik kamera, dalam film ini ia juga membuat film dengan cerita yang lebih rapi.
Dalam film ini, Méliès membuat sendiri sebagian kostumnya, membuat prototipe untuk makhluk-makhluk bulan yang ia sebut Selenite, bahkan menyewa para pemain akrobat untuk memerankan Selenite untuk membuat gerakan tubuh mereka seolah tidak manusiawi.
ADVERTISEMENT
Dengan biaya yang sangat besar dan waktu pengerjaan hingga empat bulan, A Trip To The Moon layak disebut sebagai film fiksi ilmiah yang bukan hanya pionir, melainkan juga ambisius.
Video
Martin Scorsese, sutradara film pemenang Oscar berjudul Hugo pernah mengungkapkan kekagumannya pada Méliès.
“Saya terpesona dengan teknik kecepatan tangannya,” kata Scorsese kepada NPR. “(Méliès) melihat potensi pada gambar bergerak dan ketika ia mewujudkan potensi tersebut, saya merasa di bawa ke planet lain.”
Kebangkrutan Georges Méliès
Adegan dalam Conquest of the Pole. (Foto: Georges Melies via Wikimedia Commons)
Méliès sempat begitu sukses menggarap The Conquest Of The Pole (1912). Itu adalah film terpanjang yang pernah ia buat, yakni berdurasi 44 menit.
Selain itu, The Conquest Of The Pole juga merupakan film terakhir dari rangkaian film ‘perjalanan’-nya setelah ia memproduksi tiga film ambisius sebelumnya, A Trip TO The Moon (1902), The Kingdom of Fairies (1903), dan The Impossible Voyage (1904).
ADVERTISEMENT
Sayangnya, kesuksesan Méliès tidak bertahan lama. Setelah menciptakan lebih dari 500 film, studionya bangkrut dan Perang Dunia I pun mulai. Seluloid film Méliès dibakar dan dicairkan untuk kemudian dijadikan hak sepatu tentara, sementara studionya dijadikan rumah sakit.
Meski kehidupannya setelah itu jauh dari perfilman, Méliès tetap dikenang sebagai pionir dalam dunia perfilman. Ia berhasil mendobrak teknologi pada masanya dan menciptakan teknologi baru sehingga film pun berubah.
Tidak hanya menciptakan gambar yang bergerak, Méliès juga menciptakan gambar yang penuh keajaiban, bahkan hingga membawa penontonnya ke dunia lain, jauh dari dunia nyata.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan