Tekno & Sains
·
13 Januari 2021 8:19

Hati-hati, Ada Oknum Penipu Jualan Vaksin Corona Palsu

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Hati-hati, Ada Oknum Penipu Jualan Vaksin Corona Palsu (15611)
Trevor Cowlett, saat disuntik vaksin Universitas Oxford / AstraZeneca di Rumah Sakit Churchill, Oxford, Inggris, Senin (4/1). Foto: Steve Parsons / Pool / AFP
Keberadaan vaksin corona dan permintaan publik untuk vaksinasi tampaknya menjadi lahan basah baru bagi para penipu untuk mengelabui korbannya. Baru-baru ini, Menteri Kesehatan Wales Vaughan Gething memperingatkan masyarakatnya tentang potensi penipuan vaksin palsu.
ADVERTISEMENT
Menurut sang menteri, para penipu telah menipu orang-orang dengan menawarkan vaksin COVID-19 palsu yang substansinya tidak dikenal. Penipu juga meminta imbalan pembayaran, meski di sana vaksin corona diberikan secara cuma-cuma.
"Ada sejumlah penipuan yang melibatkan COVID-19, termasuk penipuan yang sangat buruk di mana orang-orang telah tertipu untuk membayar vaksin COVID-19 dan kemudian disuntikkan di lengan," kata Gething dalam sebuah briefing pada Senin (11/1) dilansir Reuters.
Program vaksinasi massal yang resmi di seluruh Inggris Raya, termasuk Wales, dikerjakan oleh National Health Service (NHS) milik kerajaan. Mereka menyediakan semua perawatan termasuk vaksin secara gratis.
Hati-hati, Ada Oknum Penipu Jualan Vaksin Corona Palsu (15612)
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock
Peringatan Gething tersebut muncul setelah Badan Kriminal Nasional (National Crime Agency/NCA) pada pekan lalu memperingatkan masyarakat untuk waspada. Mereka menjelaskan, para penipu meminta orang tua dan kelompok rentan untuk memberikan imbalan untuk vaksin palsu.
ADVERTISEMENT
Pada Jumat (8/1), misalnya, Kepolisian Kota London melaporkan bahwa seorang penipu vaksin telah berhasil meraup 160 poundsterling (Rp 3 juta) dari seorang perempuan berusia 92 tahun. Pelaku menyuntikkan apa yang perempuan itu gambarkan sebagai "alat seperti panah", setelah pelaku muncul secara tiba-tiba di rumahnya.
“Tingkat penipuan yang dilaporkan saat ini terkait dengan vaksin masih sangat rendah tetapi terus meningkat,” kata Graeme Biggar, Direktur Jenderal Pusat Kejahatan Ekonomi Nasional di NCA.
Per Selasa (12/1), Inggris Raya mencatat 81.431 kematian pasien COVID-19. Dalam beberapa pekan terakhir, mereka mengalami lonjakan kasus virus corona yang bermuara pada lockdown di Inggris dan Skotlandia, serta pengetatan di Wales dan Irlandia Utara.